16:00 . Tips Kelola Keuangan Saat Ramadan, Hindari Buy Now Pay Later   |   15:00 . Jalur Zonasi Ditutup, Jumlah Pendaftar Sekolah Ini Masih Kurang dari Pagu   |   14:00 . Mayat Warga Ngawi Ditemukan Mengapung di Bengawan Solo Bojonegoro   |   12:00 . Bulan Puasa, Okupansi Hotel di Bojonegoro Rendah   |   10:00 . Siaga 1, TMA Bengawan Solo di Bojonegoro Terus Meningkat   |   08:00 . 123,8 juta Warga Indonesia Diprediksi akan Mudik Lebaran Tahun Ini   |   19:00 . Puluhan Ribu Warga Bojonegoro Diperkirakan Akan Mudik, Ini Persiapan Dishub   |   18:00 . UDD PMI Pastikan Stok Darah di Bojonegoro Aman Selama Dua Pekan Mendatang   |   15:00 . Peminat PPDB SMPN Jalur Afirmasi Tahun Ini Cukup Banyak   |   14:00 . PPDB Jalur Zonasi, SMP Negeri 1 Bojonegoro Kelebihan Kuota   |   13:00 . Update Terbaru, 69 Desa dan 16 Kecamatan Terdampak Tol Ngaroban   |   08:00 . Ini 5 Manfaat Puasa Ramadan bagi Kesehatan Tubuh   |   20:00 . Program Mudik Bareng, Pemprov Jatim Sediakan 2 Bus Tujuan Bojonegoro   |   19:00 . Setahun Dijabat Plt, Camat Trucuk Ditetapkan Menjadi Kepala Dinas Kominfo   |   18:00 . Jelang Lebaran, Pesanan Ukiran Kaligrafi Pak Tris Meningkat   |  
Sun, 02 April 2023
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Selain Trombosit, Perhatikan Juga Nilai Hematokrit saat DBD

blokbojonegoro.com | Sunday, 24 October 2021 07:00

Selain Trombosit, Perhatikan Juga Nilai Hematokrit saat DBD Ilustrasi nyamuk penyebab demam berdarah. (Shutterscock)

 

Reporter: --

 

blokBojonegoro.com - Saat DBD dicurigai menyerang salah satu anggota keluarga, pemeriksaan darah bisa menjadi langkah “pasti” untuk menentukan apakah gejala tersebut mengarah pada DBD atau hanya demam biasa.

 

Umumnya, kebanyakan orang akan fokus untuk melihat kadar trombosit darah, bila nilai trombosit menurun, maka itulah salah kondisi yang dianggap paling bahaya dari DBD. Padahal, menurut keterangan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), selain trombosit, ini hematokrit juga penting untuk diperhatikan.

 

Infeksi DBD sendiri terbagi penjadi 3 fase, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase penyembuhan. Pada fase demam (hari 1-3), seseorang yang mengalami DBD kerap tidak nafsu makan dan minum, mual dan lemas, diiringi demam tinggi yang tak kunjung reda dengan obat penurun panas. Jumlah trombosit dan hematokrit umumnya masih normal.

 

Sehingga menurut IDAI, kurang tepat bila Anda memutuskan untuk melakukan cek darah sendiri ke laboratorium pada saat curiga BDB tanpa saran dokter. Sebab, bisa jadi Anda melakukannya di saat yang tak tepat, sehingga hasilnya “nihil” padahal tidak demikian.

 

Setelah hari ketiga, biasanya demam mulai turun. Pada fase demam turun inilah DBD memasuki fase kritis. Di mana terjadi penurunan jumlah trombosit dan sel darah putih. Selain itu, hematokrit meningkat, yaitu adanya peningkatan kekentalan darah akibat keluarnya cairan melalui pembuluh darah. Saat darah menjadi kental dan semakin pekat, maka suplai oksigen ke seluruh tubuh lewat darah menjadi berkurang, kelamaan bisa membuat sel dan jaringan menjadi mati.

 

Selain itu, bila kondisi ini dibiarkan, maka sel darah merah dan darah putih pun bisa ikut keluar, sehingga jumlahnya berkurang—ditandai dengan keluarnya bintik merah di bawah kulit.

 

Sehingga, trombosit yang berperan dalam pembekuan darah akan melakukan tugasnya dalam menangani pendarahan tersebut dengan menutup celah pendarahan, itulah yang menyebabkan jumlah trombosit menjadi ikut berkurang.

 

Bila mendapatkan penanganan yang tepat, maka orang yang terkena DBD hingga fase kritis akan memasuki fase ketiga atau penyembuhan. Biasanya nafsu makan akan berangsur normal. Cairan yang keluar melawati pembuluh darah pun akan masuk kembali.

 

Dalam rangka memerangi “penyakit tahunan” akibat nyamuk ini, Februari lalu, pemerintah Hawaii telah menandatangani proklamasi darurat untuk memerangi penyakit akibat gigitan nyamuk, yaitu Zika dan demam berdarah dengue (DBD).

 

Walikota Hawaii mengumumkan bahwa wabah DBD di tahun ini adalah yang terbesar sejak tahun 1940-an. Di Indonesia sendiri, menurut data Kementrian Indonesia tahun 2013, jumlah penderita DBD di Indonesia mencapai 49 ribu orang dengan 400 kasus meninggal dunia akibat penanganan yang terlambat. [lis]

 

Sumber: kompas.com

Tag : Dbd, hematokrit, demam



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Friday, 23 December 2022 12:00

    Pengumuman Lelang Terbuka

    Pengumuman Lelang Terbuka Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan, PT. Asri Dharma Sejahtera Tahun 2022, dengan ini tim pengadaan jasa kontruksi melakukan lelang terbuka dengan kualifikasi pekerjaan sebagai berikut...

    read more