Etnomatematika: Wisata dan Budaya Bojonegoro dalam Perspektif Matematika

*Oleh: Dwi Erna Novanti

blokBojonegoro.com - Etnomatematika merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang mengaitkan antara matematika dan budaya. Pendekatan ini memandang bahwa konsep dan praktik matematika tidak hanya bersumber dari sistem formal di sekolah, tetapi juga berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat melalui kebiasaan, simbol, aturan, hingga budaya. 

Etnomatematika menggali dan mengaitkan unsur  budaya dengan pembelajaran matematika, agar lebih kontekstual, bermakna, dan inklusif terhadap kearifan lokal. 

Berbicara tentang budaya, literasi budaya masyarakat adalah hal yang perlu menjadi perhatisn. Literasi budaya merupakan sikap memahami, menghargai, dan bersikap terhadap budaya, baik budaya sendiri maupun budaya orang lain, tidak terkecuali budaya atau kearifan lokal di Bojonegoro. Integrasi antara etnomatematika dan budaya Bojonegoro ini menjadi strategi penting dalam pengembangan pembelajaran berbasis kearifan lokal guna menumbuhkan sikap literasi budaya. 

Dengan mengangkat unsur budaya ke dalam pembelajaran, peserta didik tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga menghargai warisan budaya mereka sendiri. Pendekatan ini juga mendukung upaya pelestarian budaya di tengah arus modernisasi serta membangun rasa bangga dan kepemilikan terhadap budaya.

Tulisan ini memberikan bentuk lain dari pembelajaran matematika dengan mengintegrasikan budaya lokal Bojonegoro dalam pembelajaran khususnya pada mata pelajaran matematika melalui hasil eksplorasi unsur matematika dalam budaya Bojonegoro.

Suku Samin di Margomulyo

Salah satu kearifan lokal yang menjadi ciri khas kuat masyarakat Kabupaten Bojonegoro diantaranya adanya suku Samin yang terletak di Dusun Jipang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Nama Samin diambil dari kata “Sami” dalam bahasa Jawa yang artinya sama. Sementara itu beberapa tradisi, ajaran dan perilaku yang berkembang di suku Samin berkaitan erat dengan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Suku Samin dalam kesehariannya. 

Ajaran tersebut disebut dengan Saminisme. Salah satu ajaran masyarakat suku Samin adalah mereka menyatakan dirinya sebagai “wong sikep” atau “sedulur sikep” yang diwujudkan dalam bentuk sikap atau perilaku dari suku Samin tersebut. 

Hasil dari observasi ini menunjukkan bahwa integrasi unsur budaya dan matematika dapat diwujudkan dalam bentuk instrument yang berkaitan dengan permasalahan  etnomatematika yang diberikan pada soal dengan mengaitkan unsur budaya dalam matematika melihat dari sudut pandang bidang geometri yaitu bentuk alat musik gamelan yang masih dilestarikan sampai saat ini. 

Selain itu, batik Samin dengan motif “Obor Sewu” dapat diterapkan dalam materi geometri yang berkaitan dengan materi bentuk tranlasi, refleksi, dilatasi dan rotasi.

Khayangan Api

Api Abadi Kayangan Api Adalah berupa sumber api abadi yang tak kunjung padam yang terletak pada kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. 

Kompleks Kayangan Api merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut api sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam. Tempat dimana api yang tidak pernah padam berada, terdapat tumpukan batu. Selain itu, di sekitaran tempat tersebut terdapat banyak bangunan- bangunan yang mempunyai nilai atau arti tersendiri. 

Sebagai contoh bangunan yang disebut dengan Sasana Khayangan Api. Bangunan ini dibuat dengan desain terbuka yang mempunyai 4 pilar utama yang menghadap arah mata angin. Bangunan ini berfungsi sebagai pendopo yang digunakan untuk acara – acara ritual tertentu. 

Eksplorasi unsur matematika pada wisata Khayangan Api dapat dilakukan dari beberapa bentuk koneksi matematika yaitu pada konsep atau materi yang bersesuaian. Eksplorasi ciri khas bangunan yang ada di Kahyangan Api secara konsep matematika dapat dikembangkan menjadi bagian materi ajar dan instrumen soal yang kontekstual tentang geomieti bangun datar dan bangun ruang. 

Seni Oklik 

Oklik berasal dari kata “klik klok klik klok”  yang merupakan bunyi dari alat musik bambu jika dipikul. Irama bunyi bambu tersebut mempunyai 4 irama yaitu kinthel arang, kinthel kerep, gedog, dan klur. Keemapatnya jika dimainkan secara bersama-sama akan membantuk seni musik oklik ini. 

Selain itu, oklik merupakan seni musik yang terbuat dari bambu yang mempunyai ukuran yang berbeda – beda. Ukuran yang berbeda ini akan menghasilkan nada yang berbeda ketika bambu itu dibunyikan. 

Hasil eksplorasi unsur matematika pada seni musik Oklik dapat dikaitkan dengan materi geomteri bangun runag jika dilihat dari bentuk alat musik yang diguankan. Hal lain yang dapat dilakukan adalah ekplorasi nada yang dihasilkan dari setiap alat musik yang berbeda-beda. 

Konsep matematika yang berkaitan dengan kombinasi dan permutasi. Kombinasi jumlah dan jenis alat musik yang berbeda, akan menghasilkan nada yang berbeda, dimana secara matematis hal ini dapat diketahui dan dihitung jumlah nada yang akan dihasilkan.

Tari Thengul

Beberapa bentuk budaya Jawa yang masih ada pada masyarakat Bojonegoro salah satunya budaya kesenian Wayang Thengul. Gerak tari Thengul menyerupai karakteristik yang mencerminkan wayang Thengul dan mempunyai koreografi yang unik. 

Bentuk keunikan kesenian tari Thengul terletak pada gerak yang kaku, lurus dan patah-patah. Dilihat dari segi bentuk penyajian tari Thengul merupakan penyajian yang menggunakan gerak kaku yang menyerupai gerak Wayang Thengul, diiringi dengan seperangkat gamelan pelok/slendro. Pola lantai yang digunakan dalam seni Tari Thengul ini meliputi pola lantai secara tunggal maupun masal.

Unsur matematika yang dapat digali dari tari Thengul ini adalah pola gerakan dan pola lantai. Integrasi unsur matematika pada tari Thengul dapat dikemmbangkan dengan melihat pola geometri dari pola lantai dan juga gerakan dari tari Thengul. Gerakan tersebut dapat menjadi bahan untuk pengembangan materi geometri yaitu translasi dan rotasi. 

Sebagai bentuk pelestarian budaya melalui pembelajaran khususnya pembelajaran matematika, bentuk eksplorasi yang dijelaskan di atas dapat dikembangkan lagi dengan membuat instrumen soal cerita menggunakan permasalahan etnomatematika budaya Bojonegoro. Instrumen soal yang dibuat dapat diawali dengan memberikan pengetahuan kepada siswa berupa literasi budaya. 

Selain itu pemgembangan model pembelajran, bahan ajar dan penggunaan teknologi juga dapat diterapkan sebagai bentuk inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran yang melibatkan unsur budaya (culture), teknologi (technology) dan permasalahan kontektual (contextual problems). [mad]

*Dosen Prodi Pendidikan Matematika, IKIP PGRI Bojonegoro

Artikel ini dibuat hasil kerjasama kepenulisan dan publikasi blokBojonegoro.com dan IKIP PGRI Bojonegoro. Tulisan akan tayang setiap saat dengan tema berganti-ganti, jadi untuk guru yang ingin terus berkembang pembelajarannya bisa terus memantau media siber bB (blokBojonegoro.com). Selamat menikmati.