Belajar dari Malang, Warga Bojonegoro Intip Rahasia TPST Beromzet Rp200 Juta per Bulan

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Mengelola sampah ternyata tidak hanya soal menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan pendapatan ratusan juta rupiah setiap bulan. Praktik itulah yang dipelajari pengurus TPS 3R Srawung Makmur Desa Trucuk bersama Komunitas Arisan Sampah MAPAK (Emak-emak Berdampak) Kecamatan Sukosewu saat mengikuti studi tiru di TPST 3R Mulyoagung Bersatu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pada Sabtu (4/7/2026).

Selama kunjungan, peserta mempelajari sistem pengelolaan sampah terpadu yang diterapkan TPST 3R Mulyoagung Bersatu, mulai dari proses pengumpulan, pemilahan, pengolahan, hingga penguatan kelembagaan pengelola. Mereka juga berdialog langsung mengenai strategi membangun partisipasi masyarakat agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.

Kepala Desa Trucuk, Sunoko, mengatakan studi tiru tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah desa dalam meningkatkan kapasitas pengelola sampah sekaligus memperkuat budaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada TPST 3R Mulyoagung Bersatu yang telah menerima kami dengan sangat baik. Tujuan kami datang adalah belajar dari praktik yang sudah berhasil agar dapat dikembangkan di Desa Trucuk," ungkapnya.



Menurut Sunoko, ilmu yang diperoleh selama kegiatan diharapkan tidak berhenti pada peserta, tetapi dapat diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat sehingga berdampak pada peningkatan kualitas pengelolaan sampah di desa.

"Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini dapat diterapkan dan ditularkan kepada masyarakat sehingga mampu mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik di Desa Trucuk," katanya.

Perwakilan ExxonMobil, Al Maliki Ukay Sukaya Subqy, menilai kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen bersama dalam mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro.

Ia mengajak seluruh peserta memanfaatkan kesempatan belajar dengan menyerap praktik-praktik terbaik yang diterapkan TPST 3R Mulyoagung Bersatu, kemudian mengadaptasinya sesuai kebutuhan desa masing-masing. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi dalam menjalankan aksi lingkungan.



"Semoga kegiatan studi tiru ini berjalan sukses dan mampu mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan di Bojonegoro menjadi semakin maju," paparnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPST 3R Mulyoagung Bersatu, Nugraha Wijayanto, menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak mungkin dicapai jika hanya mengandalkan pemerintah atau pengelola TPS 3R.

"Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Semua harus dimulai dari niat yang tulus untuk menjaga lingkungan," katanya.

Dalam paparannya, Nugraha menjelaskan sistem operasional TPST 3R, mulai dari pemeliharaan sarana, pengumpulan sampah dari masyarakat, mekanisme pengangkutan, hingga pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Menurutnya, teknologi hanyalah alat, sedangkan faktor penentu keberhasilan tetap berada pada komitmen masyarakat dan kelembagaan yang kuat.

Selain mengikuti pemaparan materi, peserta diajak melihat langsung proses pemilahan sampah di TPST 3R Mulyoagung Bersatu yang setiap hari mengelola rata-rata 40 ton sampah. Mereka mempelajari alur pengolahan, mengenali kelebihan dan kekurangan peralatan yang digunakan, serta melihat pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot hingga pengolahan menjadi produk seperti sabun.

TPST 3R Mulyoagung Bersatu saat ini mempekerjakan lebih dari 50 orang dengan pendapatan hampir Rp200 juta setiap bulan. Pendapatan tersebut berasal dari retribusi, penjualan hasil pemilahan sampah, dan pengolahan sampah organik.

Proses pemilahan dilakukan mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, sementara residu yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kabupaten Malang hanya sekitar 14 persen dari total sampah yang masuk.

Perwakilan Alas Institute sebagai mitra ExxonMobil, Achmad Danial Abidin, mengapresiasi semangat peserta selama mengikuti kegiatan. Ia berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperkuat untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan di Bojonegoro.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta aktif menggali pengalaman mengenai tata kelola operasional TPS 3R, sistem pembiayaan, strategi meningkatkan partisipasi masyarakat, hingga penguatan kelembagaan pengelola sampah.

Studi tiru tersebut menjadi wadah berbagi praktik baik sekaligus memperkuat jejaring antarkomunitas. Harapannya, pengalaman yang diperoleh di Kabupaten Malang dapat diadaptasi di Bojonegoro sehingga mampu mendorong lahirnya pengelolaan sampah yang lebih mandiri, bernilai ekonomi, dan berkelanjutan. [feb/mad]