Skip to main content

Category : Kolom


Kolom

Muharram dan Agenda Perubahan Sosial

Pergantian tahun dalam kalender Hijriah kerap berlalu dalam suasana yang sederhana. Tidak ada pesta kembang api, hitung mundur, ataupun perayaan yang meriah sebagaimana pergantian tahun Masehi. Namun, kesederhanaan itu justru menyimpan pesan yang mendalam. Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriah, sesungguhnya mengajak umat Islam untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, dan menyiapkan langkah yang lebih baik untuk masa depan.

Kolom

Memilih Sekolah, Menilai Pendidik

Tidak ada salahnya, bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi, untuk sejenak bertanya-tanya perihal pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik –dalam hal ini guru, ustaz, ustazah. Mengapa? Minggu (7/6/26) yang lalu, penulis duduk sambil ngopi untuk menyelesaikan layout naskah buku di warung.

Kolom

Mengurai Anomali DTSEN Bojonegoro: Ketika Data Tidak Sekadar Angka

Di sebuah balai desa di pelosok Bojonegoro, seorang petugas pendataan tampak kebingungan. Di hadapannya ada rumah sederhana berdinding anyaman bambu, berlantai tanah, dan masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Namun ketika data di layar aplikasi muncul, keluarga itu justru tercatat memiliki kondisi yang “tidak wajar” atau masuk kategori anomali.

Kolom

Menyalakan Kembali Api Pancasila: Dari Seremoni Menuju Pengamalan

Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni selalu menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaannya. Tahun ini, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam amanatnya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga agar "api Pancasila" tetap menyala dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ajakan tersebut terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan yang sangat mendalam.

Kolom

Melahirkan Ketuhanan di Ruang Nyata

1 Juni, kita peringati sebagai hari lahir Pancasila. Yang namanya kelahiran, tentu ada sesuatu yang dilahirkan. Jika secara etimologis “Panca” yang artinya lima, dan “Sila” berarti berarti asas, artinya lima asas mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sudah seharusnya dilahirkan kembali di ruang nyata. Tidak kemudian berhenti pada gelar upacara seremonial, atau sekadar ucapan flyer belaka.

Menutup Program Studi atau Menutup Nalar? Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Pada setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional, kita biasanya disuguhi deretan capaian, program baru, dan optimisme tentang masa depan pendidikan. Namun tahun ini, ada satu pertanyaan yang layak diajukan secara jujur: ketika program studi (prodi) ditutup karena dianggap tidak relevan dengan dunia industri, apakah kita sedang menyelamatkan pendidikan atau justru mempersempitnya? Pertanyaan ini penting, sebab ia menyentuh inti dari arah kebijakan pendidikan tinggi kita hari ini.

Menguatkan Mutu Pendidikan

Hari ini, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tentu, momentum ini diperingati tidak serta merta luput dari tujuan. Salah satunya, bagaimana memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Kolom

Suara Kartini di Kampus: Antara Perayaan dan Realitas Pelecehan Seksual

Akhir-akhir ini kita diperlihatkan fenomena ruang pendidikan yang suram sekali. Kampus ternama menorehkan luka yang dalam untuk perempuan yang nyatanya menjadi objek pembahasan dan perkataan mereka. Inikah wajah calon-calon pemimpin bangsa masa depan? Atau calon-calon bandit negara yang masa depannya. Sungguh ironis sekali. Namun, bagaimana kampus melihat isu ini? Apakah hanya akan diam atau ada tindakan nyata yang akan dilakukan untuk menegakkan keadilan dan menyeret para pelakunya ke muka pengadilan?

Kolom

Literasi sebagai Jalan Emansipasi

Pagi itu, di sebuah ruang tamu yang juga merangkap ruang belajar, saya melihat pemandangan yang terasa sederhana, tapi diam-diam revolusioner. Seorang ibu muda duduk bersila di lantai, di depannya terbuka buku cerita anak. Di sampingnya, ponsel menyala menampilkan video tutorial membaca nyaring. Anaknya, mungkin berusia lima tahun, menyimak dengan mata berbinar—kadang tertawa, kadang menirukan suara ibunya yang berubah-ubah mengikuti tokoh cerita.