Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Pencak silat dikenal sebagai cabang olahraga paling populer di Bojonegoro. Jumlah anggotanya mencapai ratusan ribu, dengan 13 perguruan resmi yang tergabung dalam IPSI. Namun, potensi besar itu belum sepenuhnya berbuah prestasi di level provinsi maupun nasional. Kondisi ini menjadi sorotan serius Bupati Bojonegoro, H. Setyo Wahono, saat penyerahan bonus atlet Porprov IX Jawa Timur 2025 di Pendopo Malowopati.
"Jumlah pesilat kita ribuan, luar biasa banyak. Mosok golek wong telu wae ra iso?" ucap Bupati dengan nada tegas.
Pria asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo itu mengkritik minimnya atlet silat Bojonegoro yang bisa menembus panggung prestasi lebih tinggi, padahal dukungan anggaran dan fasilitas dari pemerintah sudah meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Bupati menggarisbawahi perlunya strategi pembinaan yang lebih terarah. Ia meminta Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dinpora) bersama KONI dan IPSI Bojonegoro untuk memberi atensi khusus.
"Saya ingin silat jadi bagian peraih prestasi, khususnya emas. Karena potensinya luar biasa besar di Bojonegoro," lanjutnya.
Ketua KONI Bojonegoro sejalan dengan pandangan itu. Menurutnya, perlu ada wadah nyata untuk memperlihatkan beragam cabang bela diri, termasuk silat, kepada masyarakat. Salah satu proyeksi yang digagas adalah menghadirkan arena pertunjukan di kawasan padat, layaknya Jl. M.H. Thamrin.
"Kami ingin masyarakat tahu kalau di Bojonegoro banyak cabor bela diri. Khusus silat, sudah seharusnya bisa melahirkan nama besar di tingkat provinsi maupun nasional,” katanya.
Meski seluruh cabor telah menerima dana pembinaan, hasil yang muncul belum merata. Atlet angkat besi, misalnya, mampu menunjukkan prestasi meski jumlah pembinanya tidak sebanyak silat. Hal ini menunjukkan bahwa kuantitas anggota tidak menjamin kualitas prestasi tanpa pembinaan yang serius.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dinpora) Bojonegoro, Arief Nanang Sugianto, menambahkan bahwa pihaknya terus mendorong lahirnya prestasi dari semua cabang, terutama silat yang punya basis massa besar.
"Kami akan selalu memfasilitasi kegiatan pembinaan, pelatihan, maupun kejuaraan. Harapannya, potensi yang ada bisa diolah jadi prestasi nyata," ujar Arief Nanang.
Dorongan pemerintah untuk memperbanyak kompetisi, menambah pelatihan, hingga memfasilitasi pelatih diharapkan menjadi jawaban. Namun, tantangannya ada pada konsistensi pembinaan dan keseriusan perguruan silat untuk menyiapkan atlet terbaiknya. Tanpa itu, Bojonegoro berisiko hanya menjadi “lumbung pesilat” tanpa prestasi.
Dengan sorotan tajam dari Bupati, tambahan dorongan dari KONI, dan dukungan anggaran yang terus bertambah, pencak silat Bojonegoro kini berada di persimpangan. Apakah akan tetap berjalan di tempat, atau benar-benar melahirkan atlet yang bisa mengharumkan nama daerah hingga level nasional bahkan internasional. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published