Reporter: Muharrom
blokBojonegoro.com - Kemenag RI saat ini tengah menunggu terbitnya regulasi tentang pembentukan Ditjen Pesantren. Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan bahwa Keputusan Presiden terkait Ditjen Pesantren telah disetujui Presiden. Saat ini, pihaknya menunggu proses administratif terkait terbitnya surat resmi. Bersamaan itu, Kemenag menyusun Peta Jalan Pesantren untuk memperkuat posisinya sebagai sistem pendidikan Islam unggulan dunia.
Karakter dan Distingsi
Terkait peta jalan, Kamaruddin Amin menggarisbawahi empat hal. Pertama, revitalisasi karakter santri yang adaptif terhadap modernitas, tanpa tercerabut dari akar tradisi keislaman. Menurutnya, pesantren memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak lembaga pendidikan lain: sistem pendidikan 24 jam yang efektif dalam pembentukan karakter, penguatan intelektual, sekaligus pembinaan spiritual.
“Modal ini dinilai strategis untuk membawa pesantren melangkah lebih jauh—bukan sekadar bertahan, tetapi memberi pengaruh di tingkat global,” sebut Kamaruddin Amin di Jakarta.
Kedua, distingsi dan keberpihakan ekonomi. Sekjen menekankan bahwa pengaruh lembaga pendidikan Islam dunia seperti Al-Azhar di Mesir, Jam'iyah Islamiyah Madinah, maupun Al-Mustafa, tidak bertumpu pada peringkat global, melainkan pada kekhasan (distinctive) dan keberpihakan ekonomi. Biaya pendidikan yang murah bahkan gratis menjadikan lembaga-lembaga tersebut memiliki daya jangkau luas dan jejaring internasional yang kuat.
“Pesantren memiliki potensi untuk mencapai level tersebut. Kuncinya adalah membangun keunikan dan relevansi global,” ujarnya.
Mimpi dan Internasionalisasi
Ketiga, membangun mimpi besar para santri. Ia menegaskan, modernisasi pesantren bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperluas cakrawala nilai. Menghormati kiai dan guru tetap menjadi fondasi, namun santri juga harus memiliki kesadaran atas dinamika demokrasi, tata negara, ekonomi, hingga tantangan global yang kian kompleks.
Santri, lanjutnya, perlu dibekali literasi keuangan, pemahaman investasi, serta wawasan dunia industri agar mampu berperan aktif dalam ekosistem ekonomi modern. Kamarudin juga menggarisbawahi nilai penting membangun imajinasi sukses di lingkungan pesantren. Santri harus diberi ruang untuk membayangkan diri sebagai pengusaha besar, politisi, menteri, bahkan presiden—tanpa kehilangan integritas moral dan spiritualitasnya.
“Pesantren tidak boleh membatasi mimpi santri. Justru harus menjadi ruang yang melahirkan kepemimpinan berkarakter di berbagai sektor,” tegasnya.
Keempat, internasionalisasi. Upaya internasionalisasi juga menjadi agenda penting. Pesantren didorong membuka diri terhadap mahasiswa asing melalui skema beasiswa atau sponsor, sehingga terjadi pertukaran gagasan dan penguatan reputasi global.
Data sebagai Quick Win
Akan hal ini, penataan data sejak awal menjadi prioritas. Penasihat Ahli Menteri Agama Prof. Nur Syam mengingatkan pentingnya perencanaan strategis yang terukur. Ia mengusulkan periode 2026–2030 sebagai target jangka pendek yang realistis, dengan 2027 ditetapkan sebagai tahun penuntasan data.
Menurutnya, validasi data infrastruktur, sumber daya manusia, dan peta keilmuan menjadi fondasi utama. Tanpa data yang akurat, pembangunan berisiko tidak tepat sasaran. “Quick win kita adalah data. Tanpa itu, kita hanya bergerak dalam asumsi,” ujarnya di Jakarta.
Dalam kerangka besar 2030 hingga 2045, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini mendorong paradigma baru, bahwa pesantren dan sumber daya manusianya harus unggul di tingkat nasional sekaligus kompetitif secara internasional. Penguatan ilmu keislaman yang berdampak—baik yang bersifat murni maupun integratif—serta pemberdayaan masyarakat berbasis keilmuan menjadi agenda strategis.
Santri sebagai Penggerak
Diskusi Perumusan Peta Jalan Pesantren dipimpin Penasihat Ahli Menag Alissa Wahid. Dia memimpin perumusan arah besar transformasi pesantren. Alissa menekankan bahwa santri masa depan harus menjadi penggerak (muharrik), bukan sekadar penonton dalam perubahan sosial.
Pesantren, menurutnya, tidak boleh terjebak dalam sikap defensif terhadap perkembangan zaman. Perubahan sosial, politik, dan ekonomi harus direspons dengan kesiapan beradaptasi dan keberanian berinovasi.
“Imajinasi kolektif kita harus mengarah pada satu tujuan, yakni menjadikan pesantren sebagai sistem pendidikan Islam unggulan dunia,” simpulnya. [mu/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published