Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas mulai menunjukkan hasil nyata di sektor pertanian. Melalui penerapan sistem pertanian berkelanjutan di Desa Tengger, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, petani berhasil menekan biaya produksi budidaya jagung hingga 15–30 persen.
Program yang difasilitasi LSM INSPEKTRA itu tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga membangun pola usaha tani yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Berbagai metode pembelajaran diterapkan agar petani tidak sekadar menerima teori, melainkan mampu mempraktikkannya secara langsung di lapangan.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah Demo Plot (Demplot) sebagai lahan belajar. Melalui demplot tersebut, petani dapat melihat secara langsung penerapan teknik budidaya yang lebih baik, termasuk penggunaan pupuk organik untuk mendukung produktivitas tanaman.
Selain itu, program juga menghadirkan Jagong Tani, forum diskusi yang menjadi wadah bagi petani untuk bertukar pengalaman, membahas persoalan di lapangan, sekaligus mencari solusi bersama terkait praktik pertanian yang lebih efisien.
Materi pelatihan juga mencakup pembuatan pupuk organik secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Mulai dari proses penyiapan bahan, pencacahan, pencampuran, pengolahan hingga pengemasan dipraktikkan langsung oleh para petani.

Pendekatan berbasis praktik tersebut dinilai membuat proses pembelajaran lebih mudah dipahami sekaligus mendorong petani menerapkannya di lahan masing-masing.
Ketua Kelompok Tani Desa Tengger, Puryaji, mengatakan keberadaan Demplot dan Jagong Tani memudahkan petani memahami berbagai inovasi di bidang pertanian.
"Kalau belajar langsung di lahan, petani lebih mudah memahami. Kami bisa melihat prosesnya, mencoba sendiri, kemudian membandingkan hasilnya. Di Jagong Tani kami juga bisa berdiskusi dengan petani lain mengenai pengalaman masing-masing," ungkap Puryaji.
Menurutnya, kemampuan membuat pupuk organik sendiri menjadi pengetahuan baru yang sangat bermanfaat. Selain memanfaatkan bahan di sekitar, petani kini memiliki alternatif untuk mengurangi biaya produksi.
"Yang paling dirasakan petani adalah biaya produksi bisa lebih ditekan. Kami juga belajar memanfaatkan bahan yang ada di sekitar sehingga tidak semuanya harus membeli. Dengan biaya yang lebih rendah, harapannya pendapatan petani bisa semakin baik," tambahnya.
Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Ngasem, Sugiyono, menilai efisiensi biaya menjadi faktor penting dalam meningkatkan keuntungan usaha tani. Karena itu, petani tidak cukup hanya mengejar produktivitas, tetapi juga harus mampu mengendalikan biaya produksi.
"Petani tidak hanya kita dorong untuk mengejar produktivitas, tetapi juga bagaimana biaya produksinya efisien. Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap input dari luar," jelas Sugiyono.

Ia menyebut Demplot dan Jagong Tani menjadi media yang efektif dalam proses transfer pengetahuan kepada petani.
"Pertanian itu tidak cukup hanya dengan teori. Petani perlu melihat dan mencoba langsung. Demo Plot menjadi tempat belajar di lapangan, sementara Jagong Tani menjadi ruang untuk bertukar pengalaman. Kalau dua pendekatan ini berjalan bersama, proses adopsi teknologi pertanian akan lebih mudah," katanya.
Sementara itu, perwakilan LSM INSPEKTRA, Handoko, menjelaskan bahwa kedua metode pembelajaran tersebut dirancang untuk membangun kemandirian petani, sehingga manfaat program tetap dirasakan meski masa pendampingan telah selesai.
"Kami tidak ingin petani hanya mendapatkan pengetahuan secara teori. Melalui Demo Plot, petani bisa melihat dan mempraktikkan langsung di lahan. Sedangkan Jagong Tani menjadi ruang untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, dan mencari solusi bersama atas persoalan pertanian yang mereka hadapi," tutur Handoko.
Ia menambahkan, keterampilan membuat pupuk organik secara mandiri menjadi salah satu kemampuan yang terus didorong karena mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kesuburan tanah.
"Harapannya petani semakin mandiri. Kalau pupuk organik bisa dibuat sendiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar, maka ada biaya produksi yang dapat ditekan. Pada saat yang sama, petani juga belajar menjaga kesuburan tanah dan mengurangi limbah organik," tambah Handoko.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam menerapkan ilmu yang diperoleh.
"Ukuran keberhasilan program adalah ketika pengetahuan tersebut terus digunakan oleh masyarakat. Petani semakin mandiri, biaya produksi bisa ditekan, lingkungan lebih terjaga, dan usaha tani tetap produktif. Itu yang kami harapkan dari penerapan pertanian berkelanjutan di Desa Tengger," katanya.

Berdasarkan hasil pendampingan, biaya produksi budidaya jagung di Desa Tengger kini turun sekitar 15 hingga 30 persen. Efisiensi tersebut membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan keuntungan di tengah naiknya harga berbagai kebutuhan produksi pertanian.
Ke depan, EMCL bersama SKK Migas dan INSPEKTRA berharap pola pembelajaran melalui Demplot dan Jagong Tani terus berkembang sehingga semakin banyak petani yang mampu menerapkan pertanian berkelanjutan secara mandiri. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, mengolah pupuk organik sendiri, serta menerapkan teknik budidaya yang efisien, petani diharapkan mampu membangun sistem pertanian yang produktif, hemat biaya, sekaligus ramah lingkungan. [feb/mad]