Banyak Perahu Penyeberangan Belum Dilengkapi Alat Keamanan
Banyak perahu penyeberangan di Sungai Bengawan Solo belum dilengkapi alat keamanan bagi penumpang. Hal tersebut bisa membahayakan para menumpang.
Banyak perahu penyeberangan di Sungai Bengawan Solo belum dilengkapi alat keamanan bagi penumpang. Hal tersebut bisa membahayakan para menumpang.
Jika kita mendengar kata Malo, otomatis sebagian orang akan berfikir tentang beberapa destinasi wisata yang berada di sana, salah satunya adalah wisata budaya Wali Kidangan. Namun, selain Wali Kidangan ternyata di sana ada salah satu makam penyebar islam, yang banyak masyarakat sekitar belum mengetahuinya.
Di daerah Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro ada salah satu tokoh yang cukup tersohor hingga kawasan Kecamatan Sugihwaras. Masyarakat menyebutnya Mbah Kiai Abror. Ia diyakini sebagai perintis awal penyebar Islam di wilayah Kecamatan Sukosewu.
Benarkah Raden Hasaniman adalah seorang tokoh penyebar Agama Islam pertama di Kecamatan Ngasem? Menurut dari cerita yang berhembus di masyarakat bahwa islam pertama kali ada di daerah tersebut, berkat seorang yang bernama Hasaniman. Konon merupakan keturunan Betoro Katong dari Ponorogo.
Salah satu penyebar Islam yang ada di Kabupaten Bojonegoro adalah Sunan Blongsong. Dia dikenal sebagai seseorang yang pertama kali menyebarkan agama Islam di sekitar daerah Desa Blongsong, Kecamatan Baureno, Bojonegoro. Makam Sunan Blongsong yang memiliki nama lain Banung Sumitro ini berada di wilayah Jalur Bojonegoro-Surabaya masuk jalur poros desa timur SMP Ahmad Yani Baureno sekitar 150 meter.
Dekitahui, Raden Bagus Lanching Kusumo adalah seorang perjaka atau bujangan, pada masa itu ( tak diketahui tahun berapa saat beliau hidup, namun dari penelusuran blokBojonegoro.com, di lokasi terlihat makam seorang kanti/satpam/pengawal yaitu bernama Subakir wafat pada 12 Maulud 1212, dan pengawal satunya lagi bernama Sujono dengan wafat yang sama seperti Subakir
Sebuah desa erat kaitannya dengan kisah-kisah yang menjadi sejarah dan diyakini masyarakatnya. Sebagaimana kisah yang dituturkan sesepuh di Dusun Ngeneng (dulu bernama Clebung Ngeneng), Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, Bojonegoro. Di desa tersebut terdapat sebuah makam yang diyakini keramat yakni petilasan Raden Bagus Lanching Kusomo. Konon katanya beliau adalah salah satu penyebar Islam pertama di daerah tersebut.
Di timur perempatan traffict light Padangan, ada masjid bernama Darul Muttaqin. Sekilas jika dilihat dari jalan raya memang tampak seperti masjid pada umumnya, tetapi yang berbeda adalah dengan adanya gapura masuk yang menarik. Tampak gapura dengan model bangunan tua ber tuliskan lambang bintang dan bulan, di bawahnya ada tahun 1931 dan di bawahnya ada tulisan SANGGAR PAMEODJA ENG ALAH. Masjid tersebut, merupakan bagian dari sejarah syiar Islam di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan.
Dukuh Rowobayan, merupakan bagian dari Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Wilayahnya, berada di bagian selatan desa. Jika dari timur, setelah melewati Langgar Menak Anggrung Pahlawan, sekitar 500 ke arah barat, kemudian masuk gang ke selatan. Sebelum sampai rel, ada jalan masuk ke timur. Di sana, ada makam dari salah satu keturunan Mbah Sabil, yakni Mbah Kiai Ahmad. Makamnya, berada di ruangan sebelah Masjid Darussalam. Semasa hidupnya, Mbah Kiai Ahmad yang membuka tanah di Rowobayan dan turut serta siar agama Islam.
Semasa hidupnya, dua tokoh penyebar agama Islam di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Bojonegoro, Mbah Sabil dan Mbah Hasyim, mendirikan pesantren yang menjadi satu dengan komplek masjid Mbah Sabil. Tidak ada data pasti berapa jumlah dan dari mana saja santri yang mengaji di pesantren tersebut.