Asal Mula Kata Lebaran
Setelah sebulan penuh berpuasa, Hari Raya Idul Fitri menjadi hari kemenangan bagi seluruh umat muslim di dunia. Di Indonesia, Idul Fitri bahkan memiliki nama lain, yaitu Lebaran.
Setelah sebulan penuh berpuasa, Hari Raya Idul Fitri menjadi hari kemenangan bagi seluruh umat muslim di dunia. Di Indonesia, Idul Fitri bahkan memiliki nama lain, yaitu Lebaran.
Selain ada makam Kiyai Tameng Jati yang berda di Desa Sudah, dan Makam Wali Kidangan di Desa Sukorejo, ternyata ada satu lagi makam salah satu penyebar islam tersohor di Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, yaitu Makam Wali Gotong yang berada di Dukuh Gotong Desa Tinawun.
Salah satu destinasai wisata religi yang ada di Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yaitu makam Wali Kidangan, tepatnya di Desa Sukorejo, di atas bukit Dusun Kidangan, sekitar 1,5 kilo meter dari arah jembatan malo ke utara, konon jarang sekali ada yang bisa mengabadikan makam tersebut dengan kamera.
Sepeda motor tahun 1970 terparkir di halaman rumah. Warnanya merah dengan beberapa bagian putih kusam. Spion bulan berdiri tegak seperti orang tengah berdoa masih terlihat mulus. Walaupun sepeda tua, ternyata sang pemiliknya rajin mengurus dan merawat dengan baik. Suaranya pun masih jernih dan hanya sedikit mengeluarkan asap. Artinya mesin juga masih tetap prima.
Ia termenung sendiri. Tidak mengetahui harus berbuat apa. Dunia seperti berhenti berputar. Semua serba gelap dan susah. Musibah masih saja mengintainya silih berganti. Berat da bertambah berat. Sesekali menggelengkan kepala untuk membuang pening, namun hal itu tidak membantu.
Tidak biasanya Kang Sabar keluar rumah sambil berjaket tebal, memakai sarung dan peci putih. Selain itu masih ada syal Persibo Bojonegoro warna oranye terlilit di lehernya. Sambil berjalan menyusuri tanggul desa, karena berbatasan langsung dengan Bengawa Solo, ia meyilangkan tangan di dada. Bersedekap. Tubuhnya menggigil dan dari mulutnya saat membuang nafas seperti mengeluarkan asap putih.
Suara jangkrik dari kejauhan bersahutan. Bumi mungkin sedang hangat-hangatnya. Sebab, sejak beberapa hari belakangan ini hujan turun, walaupun tidak seberapa basah. Namun, air dari langit cukup untuk mengisi rongga tanah yang sejak beberapa bulan kerontang, walaupun di tepian bengawan tidak seberapa tampak. Sebab, tanah berpasir dan tercampur lempung.
Tanpa sadar, Kang Samin tertidur begitu pulas. Tubuhnya yang mulai ringkih tersandar di pohon pisang lapuk. Disebut lapuk, karena dibagian buahnya telah diambil sang empunya, sedangkan yang berdiri tinggal batang setengah saja. Tiupan angin pagi hari di tepi Bengawan Solo menambah nyenyak tidur Kang Samin. Tidak terasa, jam menunjukkan pukul 07.00 WIB.
Byuurrrrrr. Suara itu terdengar tidak jauh dari Kang Samin duduk. Kang Sabar telah melompat ke air yang ada di Bengawan Solo. Ia mandi di pagi buta yang sebenarnya masih cukup dingin. Sambil bersiul, Kang Sabar menikmati bermain air yang cukup jernih dan tidak seberapa deras arusnya itu. Maklum, saat memasuki musim kemarau air surut cukup signifikan.
Untuk mengisi kegiatan sekolah, MA Abu Darrin mengadakan study kampus juga wisata religi ke daerah Surabaya dan madura. Kegiatan ini diawali tahlil di makam Masyayeikh Kendal yang sudah menjadi tradisi Yayasan Abu Darrin untuk ziarah ke makam pendiri muassis MA Abu Darrin kendal.