blok Cerpen
Canting
Tangan Larasati gemetar. Berita di layar televisi membuatnya geram. Perempuan itu, bagaimana bisa berani tampil percaya diri di depan kamera. Menyatakan dengan lantang kepada seluruh dunia.
Tangan Larasati gemetar. Berita di layar televisi membuatnya geram. Perempuan itu, bagaimana bisa berani tampil percaya diri di depan kamera. Menyatakan dengan lantang kepada seluruh dunia.
Kang Tolib mencoba memahami apa yang terjadi akhir-akhir ini dengan cara pelan-pelan. Ya, pelan-pelan sekali. Dia tak mau terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Terlalu menyederhanakan masalah, begitu pikirnya. Meski ia cuma nyantri sebentar saja di pondok tua di desa sebelah, otaknya nggak tumpul-tumpul amat.
Setiap perempuan terlahir untuk menanggung derita. Bagi kaumnya, keluarga, juga negara. Semua penderitaan itulah yang menjadikan mereka tumbuh. Kokoh serupa batang kelapa. Tak mudah goyah meski angin menerpa. Sekalipun ribuan purnama telah sirna.
Pagi itu, Kang Samin duduk termenung di tepi Bengawan Solo. Matanya menerawang jauh, melihat bayangan sesosok manusia. Entah laki-laki atau perempuan, ia tidak seberapa mengenali. Maklum, usia Kang Samin sudah menginjak 50 tahunan, atau setengah abad.
Setelah berjalan jauh bertanya kesana kemari akhirya bisa juga aku sampai di Alam Tembung. Tapi betapa kagetnya aku, baru saja sampai, aku langsung bertemu dengan seekor hewan yang didaerahku, di Alam Nyata, disebut Codot. Tanpa basa-basi langsung saja aku hampiri dia dan bertanya "dot,kamu ngapain di Alam Tembung ini ?"