Harga Cabai di Pasaran Terpantau Turun
Harga cabai di pasaran saat ini terpantau turun pasca lebaran idul fitri, disamping karena stok yang ada masih cukup juga dilatarbelakangi permintaan masyarakat tidak banyak.
Harga cabai di pasaran saat ini terpantau turun pasca lebaran idul fitri, disamping karena stok yang ada masih cukup juga dilatarbelakangi permintaan masyarakat tidak banyak.
Bulan suci ramadan tinggal setengah bulan lagi. Tentu apabila mengaca pada tahun-tahun sebelumnya momen puasa ini bisa mengerek harga-harga yang ada di pasaran, karena permintaan dari masyarakat cukup tinggi.
Cara tradisonal yang dilakukan oleh sebagian warga Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, untuk mengeringkan cabai tidaklah sia-sia pada kurun waktu dua bulan yang lalu. Cara tersebut dilakukan warga untuk mensiasati jika harga cabai sewaktu-waktu melonjak tinggi.
Menjelang moment Natal yang tinggal beberapa hari, harga kebutuhan bumbu dapur di pasar tradisional mulai naik. Kenaikan saat moment seperti ini memang sudah menjadi hal yang biasa.
Sebagian tanaman cabai milik petani di Desa Deling, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro masih masuk musim panen. Namun petani merasa tbelum puas lantaran harga cabai tak kunjung membaik.
Harga cabai rawit di pasaran terpantau masih cukup tinggi, hal itu membuat para petani yang menanam cabai berharap harga tersebut bisa terus naik hingga tanaman mereka siap panen.
Harga cabai di pasaran saat ini mulai berangsur turun, meski masih terpantau tinggi. Seperti cabai merah dari yang sebelumnya dijual diharga Rp140.000 perkilogram turun menjadi Rp110.000 perkilogram. Penurunan ini sudah terjadi sejak sepekan.
Meski harga terpantau lebih murah, masuknya cabai rawit impor belum begitu diminati. Pasalnya kualitas yang dianggap oleh masyarakat kurang segar dibanding cabai lokal juga rasa cabai yang tidak bisa sepedas hasil cabai lokal.
Sempat meroket diharga Rp100.000 perkilogram, harga cabai merah di Pasar Tradisional Kota Bojonegoro berangsur turun menjadi Rp60.000 per kilogramnya.