Sumur Warga Kedungadem Mulai Kering
Sumur warga di sejumlah desa yang ada di Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, mulai terdampak musim kemarau dengan menipisnya debit air yang ada di dalam sumur.
Sumur warga di sejumlah desa yang ada di Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, mulai terdampak musim kemarau dengan menipisnya debit air yang ada di dalam sumur.
Pada musim kemarau tahun ini, sebanyak 15 kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Bojonegoro berpotensi mengalami kekeringan. Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menyebutkan, kekeringan mengancam 62 desa yang tersebar di 15 kecamatan.
Pada bulan September 2017 ini, di Jawa Timur termasuk Kabupaten Bojonegoro diperkirakan akan terjadi puncak musim kemarau.
Banyak warga masyarakat menganggap penggunaan alat kontrasepsi dalam program Keluarga Berencana (KB) membuat rahim seorang wanita kering.
Kekeringan di Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro dipastikan bisa diminimalisir di tahun 2017 ini. Desa Kepohkidul yang biasanya sering terjadi kekeringan sudah mudah mendapatkan air dari embung yang ada.
Kemarau yang terjadi hingga bulan Juli tahun ini, sebagian wilayah yang tersebar di Kabupaten Bojonegoro belum ada yang mengeluh akan kekurangan air bersih.
Beberapa investor dari luar negeri sudah siap mendanai pembangunan Dry Port di Kabupaten Bojonegoro. Namun rencana tersebut masih menunggu ketersediaan lahan yang harus disiapkan di Kota Ledre.
Dengan semakin menyusutnya debit air ketika musim kemarau, tentunya menjadi suatu masalah tersendiri bagi petani di Bojonegoro, khususnya para petani yang berada di selatan jalur rel Kerata Api Semarang-Surabaya, atau masyarakat menyebutnya daerah pertengahan, seperti Kecamatan Sugihwaras, Kedungadem, Kepohbaru maupun yang lainnya.
Memasuki musim kemarau tahun ini, sebagian petani di Desa Sendangagung, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, saat ini mulai kesulitan untuk mendapatkan air untuk mengairi tanamannya.