HMP Akuntansi STIEKIA Sosialisasi Budidaya Lele dan Magot di Sukowati
Mahasiswa merupakan sebuah agen pembawa perubahan bagi Masyarakat, yang mana mahasiswa dituntut untuk bersikap kritis dan dinamis.
Mahasiswa merupakan sebuah agen pembawa perubahan bagi Masyarakat, yang mana mahasiswa dituntut untuk bersikap kritis dan dinamis.
Pencetakan Kartu Identitas Anak (KIA) di Bojonegoro, sudah mencapai 56.357 atau sudah 50 persen. Jumlah itu, diklaim Dinas Kependudukan dan Catatan sipil (Disdukcapil) Bojonegoro, termasuk cukup baik.
Keseruan tampak ketika mahasiswa STIE Cendekia berkunjung ke Lapangan Minyak Banyu Urip yang dikelola oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Sebanyak 32 mahasiswa hadir dan disambut baik oleh manajemen EMCL, Selasa (18/2/2020).
Keberadaan komunitas pecinta Gusdur yang tergabung dalam Gusdurian, melakukan aksi nyata dengan memberikan bantuan kepada kiai kampung di Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian kepada kiai yang membutuhkan, agar semakin semangat berdakwah.
Pencetakan Kartu Identas Anak (KIA) diklaim oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Bojonegoro sudah tercetak 40 persen persen dari total jumlah 103. Disdukcapil terus mendorong masyarakat untuk membuatkan anaknya KIA karena banyak manfaatnya.
Ribuan jamaah memenuhi Lapangan Desa Dukohkidul, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Selasa (15/10/2019) malam, untuk belajar bersama Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun dan Kiai Kanjeng.
Dalam rangka memperingati dan memeriahkan Hari Ulang Tahun atau Dies Natalis ke-22 tahun 2019, Rabu (29/5/2019), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIE Cendekia Bojonegoro menggelar lomba menghias tumpeng.
Keberhakan bulan suci Ramadan sangat dirasakan oleh para pedagang, terutama pedagang makanan dan minuman. Selain tingkat konsumtif yang meningkat, masyarakat biasanya juga memiliki kriteria tersendiri untuk menikmati kuliner saat buka puasa, baik rasa maupun konsep tempat yang ditawarkan.
Saat ini, ruang pelayanan e KTP, KK, AKTA dan KIA dipisah. Hal itu untuk mengantisipasi aksi dorong sesama pemohon. Meski ruang pelayanan dipisah, namun masih satu atap di Mall Pelayanan Publik.