Penulis di Bojonegoro Bakal Gelar Pameran Book Fair
Pada Jumat (26/1/2018) pagi tadi, di Gedung Pemkab para penulis Bojonegoro diundang untuk mengikuti rapat persiapan pameran buku hasil karya mereka.
Pada Jumat (26/1/2018) pagi tadi, di Gedung Pemkab para penulis Bojonegoro diundang untuk mengikuti rapat persiapan pameran buku hasil karya mereka.
RUH-menulis tak akan dimiliki kecuali bagi orang yang rajin menulis. Ukuran rajin itu, seorang penulis bisa menentukan sendiri kapan ia harus menulis, baik terjadwal atau tidak. Karena, menulis akan menjadi habit (kebiasaan) yang meningkat manakala itu dilakukan secara konsisten (ajeg). Dengan konsistensi yang terjaga, Winarno dalam bukunya, ‘Kiat Sukses Menjadi penulis: Menjadi Profesional Berdaya Saing Tinggi’ (2012:39) pun menyebut akan mengantarkan menjadi penulis handal. Pertanyaannya, apakah para penulis yang belajar menulis sudah meluangkan waktu sehari, dua hari, dst., untuk membiasakan menulis?
Menulis punya fungsi merekam sejarah. Ia hadir menjadi bukti atas sesuatu yang terjadi. Hingga bila penulis boleh menggambarkan, kebesaran entitas suku, organisasi, prestasi, keindahan panorama alam, hingga kelebihan magis baik orang atau barang tidak akan terdengar gaungnya oleh orang lain, tanpa hadirnya penulis yang mengulasnya. Justru dari tulisan yang ditulis oleh para penulislah semua itu terdokumentasikan dengan rapi. Walau sang penulis kadang telah tiada, namun karya abadinya bisa dinikmati sepanjang masa.
Para guru di Kabupaten Bojonegoro terus meningkatkan kapasistasnya tidaknya dalam mendidik siswa, tetapi dalam mengasah kemampuannya dalam menulis. Sehingga Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Bojonegoro mengadakan workshop, dirangkai dengan launching 20 buku karya penulis Bojonegoro.
Geliat tahun Pelajaran Baru 2017/2018 sudah nampak di depan mata. Yakni, anak-anak akan kembali lagi belajar setelah usai menjalani libur semester. Bagi yang beralih ke jenjang sekolah baru, tentu hari spesialnya adalah bila diantar orang tua saat hari pertama masuk sekolah. Sedangkan yang naik ketingkat kelas berikutnya, walau tidak diantar orang tua, kesan spesialnya adalah bisa kembali bertemu dengan teman-temannya.
Yanne Karsodiharjo, seorang Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hongkong asal Bojonegoro, Jawa Tiur, berhasil menulis buku menarik bertajuk "Bukan BMI Biasa, Kisah Sukses BMI Hongkong" yang diterbitkan Formaci Press.