Jl. Desa Sambiroto, Kec. Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Sempat Khawatir, Relawan Covid-19 Bangga Bisa Bantu Sesama

blokbojonegoro.com | Tuesday, 24 August 2021 15:00

Sempat Khawatir, Relawan Covid-19 Bangga Bisa Bantu Sesama

Reporter: M. Yazid

blokBojonegoro.com - Suasana di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro saat pandemi Covid-19 begitu tampak sepi, tidak seperti saat kondisi normal. Pasalnya pengunjung dan penunggu pasien rumah sakit diberlakukan pembatasan, sekaligus mematuhi protokol kesehatan covid-19 dengan memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan diterapkan.

Bahkan beberapa waktu lalu tenda darurat bencana warna orange bertuliskan BNPB sempat terpasang disekitar rumah sakit, karena tidak sedikit pasien Covid-19 menjalani perawatan di rumah sakit plat merah tersebut. Selain waktu itu mengalami kekurangan ruangan, RSUD Sosodoro Djatikoesoemo juga membutuhkan tambahan perawat.

Demi menyelamatkan pasien, RSUD Sosodoro Djatikoesoemo membuka relawan covid-19 agar membantu merawat para pesien. Sehingga beberapa kampus kesehatan di Kabupaten Bojonegoro seperti kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Rajekwesi Bojonegoro, memberangkatkan sekitar 27 mahasiswa-mahasiswi untuk menjadi relawan covid-19, mereka ditempatkan menjadi perawat di ruang UGD, H2 isolasi covid-19 dan paru.

Para relawan Covid-19 dari perguruan tinggi kesehatan setiap melakukan penanganan pasien Covid-19 harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Meskipun saat siang terasa panas dan waktu malam hari menjadi dingin karena ditugaskan di tenda benda BNPB, mereka harus tetap mengenakan pakaian tersebut.

Salah satu relawan Covid-19 dari STIKES Rajekwesi Bojonegoro, Farid Albaihaqi menceritakan pengalaman pertamanya menjadi tenaga perawat disaat pandemi Covid-19. "Selama saya menjadi relawan, suka duka yang saya alami sangat begitu banyak," katanya sambil tersenyum, mengalami perbicangan.

Diungkapkan Farid, mulai dari sukanya menjadi relawan Covid-19 salah satunya ia mendapatkan pengalaman yang begitu banyak, karena harus terjun langsung menangani pasien yang terpapar. Namun kesan dukanya, waktu pertama menjadi relawan Covid-19 bersamaan meningkatnya angka Covid-19, bahkan RSUD Sosodiro Djatikoesoemo sampai dirikan tenda BNPB.

"Saya ditempatkan disitu dengan kondisi yang begitu panas bila pagi sampai sore, bila malam hari sangat dingin. Dibilang lelah pasti lelah, tetapi itu semua tidak saya rasakan karena dari sinilah saya memiliki pengalaman dan cerita untuk kelak nanti," terang mahasiswa jurusan DIII Keperawatan STIKES Rajekwesi Bojonegoro itu.

Ia menjadi relawan Covid-19 ditempatkan di ruang IGD, sejak awal sebelum menjadi relawan Covid-19 orang tua sebenarnya ragu untuk mengizinkan ikut menjadi relawan. Namun mengingat kembali ke bangku perkuliahan yang menjurus kesehatan dengan sendirinya tiba-tiba orang tua mendukung dan mengizinkan.

"Semangat le, iki panggilan gawe sampean, niat ingsun lilahita'ala mengabdikan ilmu selama kuliah, tetap jaga kesehatan doa bapak ibu menyertaimu nak (semangat nak, ini panggilan buat kamu, niat karena Allah mengabdikan ilmu selama kuliah, tetap jaga kesehatan doa bapak ibu menyertaimu)," ucapnya menirukan pesan orang tuanya sambil terharu.



"Sebab kata-kata itu sangat menambah keyakinan dan semangat untuk mengikut menjadi relawan Covid-19. Dengan adanya rekrutmen relawan Covid-19, sekaligus bisa menerapkan dan mengaplikasikan ilmu perkuliahan yang dapat di kampus STIKES Rajekwesi Bojonegoro," sambungnya.

Hal senada juga dikatakan mahasiswi STIKES Rajekwesi Bojonegoro, Selly Fitrilia yang menjadi relawan Covid-19 bertugas perawat di ruang H2 isolasi Covid-19 dan paru RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro. "Kita bisa ikut membantu teman-teman sejawat kita yang saat ini sedang melawan kasus covid-19, bertemu dengan teman-teman sejawat yang baik dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dalam tim," kesannya selama menjadi relawan Covid-19 sekitar satu bulan.

Selain itu pula lanjut Selly, bisa melihat bagaimana motivasi-motivasi pasien untuk sembuh saat diruang isolasi, menyaksikan bagaimana semangat dan kesabaran pasien saat kita rawat. Sekaligus menjadi relawan Covid-19 dapat membantu pasien di ruang isolasi, menjadi rasa senang sendiri didalam hati. Bahkan banyak pengalaman, pembelajaran dan skill atau kemampuan yang sangat tidak mungkin didapatkan ditempat lain mengenai penanganan kasus covid-19.

"Dukanya tidak ada, karena ketika kita berkerja dengan ikhlas apalagi untuk menangani kasus Covid-19 seperti ini, tentunya kita harus selalu menanamkan dalam hati ikhlas dan selalu senang. Ketika kita senang, otomatis dalam merawat pasien akan merasa nyaman dan enak, dan tentunya hormon endorfin kita juga akan meningkat yang akan mengakibatkan imun kita juga meningkat. Hanya saja ketika melihat orang-orang dengan tingkat kesakitan yang tinggi saat dirawat, karena rata rata pasien dengan isolasi covid-19 akan sesak dan gelisah, hal tersebut membuat saya merasa sedih," papar mahasiswi DIII Keperawatan STIKES Rajekwesi Bojonegoro.

Ditambahkan, turun menjadi relawan Covid-19, orang tua memberikan suport yang baik dengan doa dan perhatian lebih, serta memberikan semangat terkait keterlibatannya menjadi relawan karena orang tua melihat kondisi sekarang ini yang tentunya memerlukan bantuan. Apalagi tingkat lonjakan kasus covid-19 yang begitu banyak tidak sebanding dengan ketersediaan sumber daya manusia.

"Adanya kesempatan menjadi relawan ini orang tua saya menanggapi positif dan memperbolehkan saya untuk ikut bergabung menjadi relawan covid-19," imbuhnya.

Selama sebulan menjadi relawan Covid-19 di rumah sakit plat merah memotivasi dirinya karena melihat banyaknya lonjakan kasus, sehingga dalam diri terdorong untuk ikut membantu menangani pasien covid-19. "Sekaligus sebagai mahasiswa akhir juga nantinya akan berkarir sebagai perawat dan tentunya akan menangani pasien-pasien. Saat ini ada kesempatan untuk menjadi relawan, maka saya dengan sangat semangat untuk bergabung menjadi relawan," jelasnya.

Begitu halnya Leonita Eka Wulandari menceritakan pengalaman menjadi relawan covid-19. Pasalnya ia harus mendapatkan kepercayaan orang tuanya, karena tidak mendapat persetujuan untuk merawat pasien covid-19 di ruang perawatan covid gedung H RSUD Sosodoro Jatikoesoemo Bojonegoro, seperti sekarang penugasan yang ia terima dari rumah sakit tersebut.

"Ketika dosen memberikan informasi yang pertama mengenai perekrutan tenaga relawan covid 19 di RSUD Bojonegoro, orang tua melarang keras karena khawatir dengan kondisi pandemi Covid-19 semakin naik. Saya sudah berusaha membujuk, agar bisa ikut (menjadi relawan Covid-19) sebab syarat pertama adalah izin orang tua. Begitu dilarang awalnya, saya menerima dengan perasaan lapang dada dan bersedih, sambil berkata mungkin Allah akan memberi hikmah dari semua ini," kenangnya sebelum menjadi relawan covid-19.

Mungkin takdir berkehendak beda, sambung mahasiswa DIII keperawatan STIKES Rajekwesi Bojonegoro, karena dua hari berikutnya ada dosen memberikan informasi bahwa yang masih ingin mengikuti perekrutan tenaga relawan covid-19 masih bisa mendaftar. Sehingga Leonita, berusaha bertanya lagi kepada kedua orang tuanya apakah diperbolehkan atau tidak menjadi bagian dari relawan Covid-19 di Kabupaten Bojonegoro.

"Akhirnya orang tua, ibu dan bapak menyetujui, keluarga pun mendukung setelah saya jelaskan menjadi perawat itu adalah cita-cita saya. Bagaimana pun nanti, kerja saya akan bergelut dengan rumah sakit dan orang sakit, menghindar apapun profesi saya yang dilakukan nanti adalah menjadi tenaga kesehatan yaitu perawat," jelasnya.

Setelah orang tua menyetui dan penuh mendukung, beliau berpesan supaya selalu mentaati protokol kesehatan dan menjaga kesehatan. "Bagi saya untuk menjalankan tugas menjadi relawan covid 19 dukungan orang tua dan restu orang tua yang penting, untuk selalu mendokan yang terbaik untuk anaknya. Bahkan orang tua selalu perhatian dan memberi semangat ketika mulai menjalankan tugas menjadi relawan covid-19," paparnya sambil terharu mengenang untuk mendapatkan ijin orang tua.

Menurutnya, menjadi relawan covid-19 bukan tanpa alasan, melihat banyaknya pemberitaan covid-19 di Indonesia termasuk informasi para tenaga kesehatan telah gugur dan banyak kelelahan dalam merawat pasien covid-19. Sebab melihat fenomena itulah, mulai tergerak hati dan bersungguh-sungguh ingin menjadi bagian dari mereka.

Pasalnnya mereka (tenaga medis) rela meninggalkan keluarga dan orang terdekat, demi merawat pasien covid-19. Sehingga sebagai mahasiswa perawat dan juga calon perawat nantinya menggantikan para senior untuk merawat pasien covid-19 sebab tenaga kesehatan mulai banyak yang kelelahan. "Alhamdulillah RSUD Bojonegoro membuka perekrutan relawan covid 19 bagi mahasiswa tingkat akhir, jadi bisa berguna dan membantu dalam menangani penyakit covid-19. Dari hati saya bangga menjadi bagian dari mereka pahlawan garda terdepan," ungkapnya.

Dengan menjadi tenaga relawan Covid-19, Leonita mengaku banyak pengalaman baru baik menyenangkan maupun menyedihkan. Waktu pertama masuk menjadi relawan, ia sempat khawatir, cemas dan takut. "Semua perasaan campur menjadi satu apakah bisa melewati semua ini. Bagaimana bekerja nanti, karena mungkin bertemu orang-orang baru, teman-teman baru yang mungkin belum pernah temui dan apakah bisa beradaptasi langsung dengan situasi baru," katanya.

Selain itu bekerja dari pagi ke siang, siang ke malam, malam ke pagi dan terkadang saat malam hari banyak pasien tidak tidur sama sekali. Petugas bergantian jaga dan belum ketika ada pasien kritis harus selalu memantau pasien tersebut. "Kita semuanya harus memakai APD, terkadang kurang lebih 4 jam," cerita Leonita membagi pengalamannya.

Namun Leonita juga mendapat lebih banyak teman, pengalaman dan pengetahuan yang baru. "Sebab dimungkinkan belum tentu ia dapatkan dari bangku kuliah, karena mengenai covid-19 selalu mengasah skill dalam tindakan dan mencoba hal-hal yang baru saat kami merasa lelah ada teman-teman yang berusaha menghibur dan menguatkan," pungkasnya.

Untuk itu ia berpesan agar semua masyarakat mematuhi protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 dengan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Pasalnya tenaga medis berupaya merawat pasien yang terpapar Covid-19, semoga kasus Covid-19 tidak semakin bertambah dan kondisi segera pulih kembali.

Tag : relawan, medis, covid-19, bojonegoro, rsud, stikes



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.



Berita Terkini