Pengirim : Mochammad Zakaria
blokBojonegoro.com - Fenomena tawuran yang semakin marak seolah menjadi sesuatu yang lumrah dalam kehidupan masyarakat. Kejadian ini sering kali dipicu oleh fanatisme kelompok tertentu terhadap kelompok lainnya. Sayangnya perilaku semacam ini tidak memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, justru sebaliknya hanya akan menimbulkan kerugian dan dampak negatif yang berkepanjangan.
Fanatisme adalah sikap berlebihan dalam mengidolakan atau mendukung sesuatu tanpa mempertimbangkan rasionalitas. Orang yang fanatik cenderung bersikap kaku dalam berpikir, menolak pendapat berbeda, serta mengabaikan nilai-nilai objektivitas dan toleransi. Tentu menyukai sesuatu baik itu artis, klub sepak bola, maupun perguruan silat adalah hal yang wajar selama masih dalam batas yang sehat. Namun ketika fanatisme berubah menjadi sikap agresif dan eksklusif, dampaknya justru merusak tatanan sosial.
Salah satu contoh nyata adalah fanatisme terhadap perguruan silat yang kerap berujung pada tawuran dan tindakan anarkis. Tidak jarang aksi kekerasan ini menimbulkan korban jiwa, bahkan orang yang tidak terlibat pun bisa menjadi sasaran. Ironisnya, sebagian pelaku justru merasa bangga dengan tindakan mereka, seolah-olah kekerasan adalah simbol kehormatan. Padahal, dibandingkan berlomba-lomba dalam prestasi, mereka justru sibuk mencari pengakuan kosong yang tidak memiliki arti.
Hal serupa terjadi dalam dunia sepak bola. Fanatisme terhadap klub tertentu kerap menjadikan olahraga ini sebagai ajang permusuhan. Bukannya menikmati pertandingan sebagai hiburan dan ajang sportivitas, banyak suporter justru menjadikannya alasan untuk bertikai dan menciptakan kerusuhan. Esensi sepak bola sebagai olahraga yang menyatukan justru hilang karena sikap fanatik yang berlebihan.
Dalam beragama saja, sikap fanatik sudah dilarang oleh nabi. Mereka yang merasa memiliki ajaran yang paling benar, justru sangat arogan terhadap orang lain. Muslim Sontoloyo kalau kata Presiden Soekarno dulu. Sabda Nabi bahwa "Sebaik-baik suatu perkara adalah yang tengah-tengah," yakni tidak berlebihan terhadap satu kelompok, suku, ras atau golongan tertentu.
Fanatisme yang tidak terkendali telah menghilangkan rasionalitas dalam bertindak. Amarah lebih dominan dibanding akal sehat dan kekerasan dijadikan solusi dari setiap konflik. Namun pada akhirnya, semua ini hanya menghasilkan kehancuran tanpa ada manfaat sedikit pun. Menang dalam sebuah tawuran tidak memberikan keuntungan apa pun selain kepuasan sesaat yang semu. Oleh karena itu, sudah saatnya kita sebagai masyarakat yang beradab menolak fanatisme buta dan menggantinya dengan sikap yang lebih rasional dan bertanggung jawab.
*Penulis adalah Mahasiswa UNUGIRI Bojonegoro
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published