Reporter : M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Semangat nasionalisme tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh melalui pemahaman, pengalaman, dan keteladanan. Di tengah dunia yang terus berubah dan dipenuhi berbagai tantangan global, upaya memperkuat identitas kebangsaan menjadi hal yang tak bisa ditawar. Inilah yang mendasari kehadiran Pelda Aris Setyo Norminto, Bati Tuud Koramil 05/Dander, di hadapan 147 mahasiswa baru STIKes Rajekwesi Bojonegoro.
Bertempat di Aula Kampus STIKes Rajekwesi, Selasa pagi yang hangat itu berubah menjadi ruang perenungan dan penyadaran. Para mahasiswa, yang baru saja memulai langkah awal dalam dunia pendidikan tinggi ini diberi bekal wawasan kebangsaan (wasbang), bukan hanya sebagai teori, tapi juga sebagai sikap hidup.
"Sebagai generasi muda penerus, wajib mengetahui sejarah, budaya, nilai dan cita-cita bangsa, serta pentingnya untuk tetap menjaga, merawat persatuan dan kesatuan demi tercapainya tujuan nasional," tegas Pelda Aris Setyo Norminto, membuka paparannya.
Dengan gaya bicara lugas namun membumi, ia mengajak para mahasiswa untuk melihat lebih jauh dari sekadar rutinitas akademik. Baginya, paham kebangsaan adalah modal dasar membangun masa depan, bukan hanya individu, tetapi juga bangsa.
Lebih dari sekadar mengenalkan sejarah perjuangan bangsa, Pelda Aris membawa para mahasiswa menyelami tantangan nyata masa kini, yakni perang modern yang tak kasat mata.
"Perlu diingat, kehancuran sebuah negara seringkali berawal dari adanya pengkhianatan dari dalam, yang disusupkan oleh bangsa lain," ujarnya, sambil memaparkan berbagai bentuk konflik global, termasuk perang asimetris, perang hibrida, dan perang proxy.
Ia menekankan bahwa perang zaman sekarang tidak lagi selalu berbentuk konfrontasi senjata. "Proxy war ini tidak dapat dikenali secara jelas siapa kawan dan siapa musuh. Sasarannya adalah menghancurkan ketahanan ekonomi, pertahanan dan keamanan, budaya, ideologi, lingkungan, politik dan karakter bangsa," jelasnya penuh kesungguhan.
Penjelasan itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi justru membangkitkan kesadaran kritis pada generasi muda agar tidak lengah terhadap ancaman yang datang secara halus namun menghancurkan.
Di akhir sesi, Pelda Aris mengajak seluruh peserta untuk tidak menjadi penonton dalam percaturan masa depan bangsanya. Ia memberi tantangan, yakni jadilah agen perubahan, bukan hanya di bidang kesehatan, tetapi juga dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan.
"Mahasiswa adalah tulang punggung bangsa agar senantiasa menyadari bermacam tantangan dan ancaman bangsa, untuk kemudian bersatu padu dan bersinergi menjaga keselamatan bangsa dan negara," ujarnya mantap.
Menurutnya, ada banyak hal yang bisa dilakukan mahasiswa sebagai bentuk kontribusi dalam menghadapi era perang tanpa bentuk ini, seperti membentuk komunitas belajar, mengembangkan wirausaha berbasis pemuda, hingga merintis program pembangunan karakter.
"Saya berharap para mahasiswa mempunyai pemahaman dan berwawasan kebangsaan yang luas. Karena kalian adalah calon pemimpin masa depan yang akan membuka jalan menuju Indonesia yang maju dan besar," tutupnya.
Wawasan kebangsaan bukan sekadar materi orientasi kampus, tapi kompas moral dan identitas yang akan membimbing mahasiswa dalam setiap langkahnya. Di tengah gempuran arus globalisasi dan perubahan nilai, pendidikan karakter semacam ini menjadi pilar penting dalam menjaga jati diri bangsa. [feb/lis]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published