Trend Healing Kalangan Anak Muda Bisa Jaga Kesehatan Mental?

Kontributor: Fadilah*

blokBojonegoro.com - Belakangan ini, healing menjadi istilah yang populer di kalangan anak muda, khususnya para Gen Z. Tidak hanya sekadar trend, healing dianggap sebagai sebuah kebutuhan untuk menjaga keseimbangan mental dan fisik di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks. 

Kata healing sebenarnya berasal dari bahasa Inggris yang berarti “penyembuhan”. Awalnya, istilah ini digunakan dalam konteks kesehatan mental maupun fisik. Namun, seiring berjalannya waktu, Gen Z mengadopsinya sebagai gaya hidup bahkan jadi trend di media sosial.

Kini healing bukan cuma soal terapi psikologis, tapi juga aktivitas sederhana yang bikin hati tenang dan relax, seperti: jalan-jalan, nongkrong bareng teman, mendengarkan musik, atau bahkan sekadar menjauh sebentar dari notifikasi HP.

Nah, Apakah healing itu perlu atau sekedar Gengsi belaka?

Satu hal yang sering jadi bahan perdebatan ialah: healing kadang berubah menjadi “ajang pamer”. Namun, ada yang juga yang menganggap healing itu harus traveling jauh, staycation di hotel mewah, atau nongkrong di kafe hits. Padahal kalau ditelusuri, itu lebih dekat ke gaya hidup konsumtif ketimbang kebutuhan jiwa. 

Healing adalah cara yang efektif untuk menjaga kesehatan mental karena aktivitas ini bertujuan untuk memulihkan diri dari stres, kecemasan, luka emosional, dan memulihkan kestabilan emosi serta pikiran. 

Dengan melakukan self-healing, seseorang dapat belajar mengelola emosi, meningkatkan penerimaan terhadap diri dan masalah, serta menjalin koneksi positif dengan diri sendiri dan lingkungan. Oleh sebab itu healing dapat menjaga kesehatan mental seseorang.

Budaya healing di Kalangan Gen Z sebenarnya menunjukkan satu hal positif: generasi ini lebih peduli dengan kesehatan mental. Meski kadang terjebak jadi trend semata, esensi healing tetaplah penting karena menemukan cara sederhana untuk pulih, relax, dan kembali bersemangat. [mad]

*Magang Redaksi dari SMKN Dander Kabupaten Bojonegoro