STIKes Rajekwesi Bojonegoro Sukses Laksanakan Hibah PKM-Kemdikti 2025

Oleh: Dr. Rahmawati, M. Kes 

blokBojonegoro.com – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Rajekwesi Bojonegoro kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kesehatan ibu dan anak melalui pelaksanaan Hibah Pengabdian Masyarakat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik  Indonesia ( Kemdikti Saintek) tahun 2025. 

Program yang berfokus pada pencegahan komplikasi kehamilan ini mengusung pendekatan Information-Motivation-Behavioral Skills (IMB) Theory Model sebagai landasan intervensi.

[Baca Juga: https://blokbojonegoro.com/2025/09/16/stikes-rajekwesi-bojonegoro-dorong-ibu-hamil-lebih-berdaya-lewat-skrining-risiko-kehamilan/]

Dalam pelaksanaan kegiatan, Tim PKM STIKes Rajekwesi memberikan training kepada ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan skrining preeklamsia serta perdarahan postpartum. 



Sebagai mitra pendamping, program ini juga melibatkan kader Muslimat NU yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan khusus dari tim pengabdi.

“Peran kader Muslimat NU sangat penting karena mereka menjadi garda terdepan dalam mendampingi ibu hamil. Setelah melalui pelatihan, kemampuan kader terbukti meningkat, dengan rata-rata kenaikan pengetahuan sebesar  10% dan keterampilan skrining mencapai 30%,” jelas Ketua Pengabdian Masyarakat, Dr. Rahmawati, M. Kes.

Keberhasilan ini semakin terasa ketika diterapkan langsung kepada ibu hamil. Data menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kelompok sasaran. Pengetahuan ibu hamil meningkat sekitar 20%, sementara keterampilan skrining mandiri melonjak hingga 35%. Capaian ini dinilai menggembirakan karena menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis teori IMB mampu menggerakkan perubahan perilaku kesehatan masyarakat.

Meski secara umum berjalan lancar, tim pelaksana tidak menutup mata terhadap adanya kendala di lapangan. Beberapa ibu hamil tidak dapat mengikuti program secara penuh karena alasan pribadi. 

“Ada peserta yang menolak pelatihan karena masih dalam suasana berduka setelah mengalami keguguran, dan ada juga yang harus pulang kampung ke luar Bojonegoro sehingga tidak dapat melanjutkan program,” tambah Dr. Rahmawati, M. Kes. 
Namun demikian, kendala tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap keseluruhan capaian program. Lebih jauh, Dr. Rahmawati menyampaikan harapan besar terhadap keberlanjutan program ini. 

“Semoga dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan ibu hamil dalam menskrining diri sendiri, dapat mendorong mereka untuk lebih berdaya dan mandiri dalam menjaga kesehatan selama kehamilan. Hal ini sekaligus mendukung upaya menekan angka komplikasi kehamilan, khususnya preeklamsia dan perdarahan postpartum,” tegasnya.

Program ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena tidak hanya meningkatkan kapasitas ibu hamil, tetapi juga memberdayakan komunitas lokal melalui peran kader Muslimat NU. Model kolaborasi ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain, mengingat tantangan kesehatan ibu masih menjadi isu krusial di Indonesia.

Dengan capaian yang positif, STIKes Rajekwesi Bojonegoro menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dalam bidang kesehatan masyarakat, sekaligus memperkuat kontribusinya dalam upaya menurunkan angka kematian ibu di daerah pedesaaan. [mad]

*Dosen STIKes Rajekwesi Bojonegoro