Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com - Panitia penyelenggara Olimpiade Matematika tingkat SD/MI di Gedung Serbaguna Kota Bojonegoro yang berujung ricuh dan dihentikan, disebut memiliki niat menipu publik. Sebab, data peserta yang dilaporkan ke polisi, dan realita di lapangan tidak sesuai.
Hal tersebut, diungkapkan Koordinator Aliansi Perlindungan Perempuan dan Anak (APPA) Bojonegoro, Nafidatul Himah. Ia meminta pihak berwajib memproses hukum panitia penyelenggara karena dinilai telah berdampak serius terhadap kondisi psikologis para peserta yang masih berusia anak-anak.
“Setelah membaca pemberitaan yang ramai di sosial media sepertinya panitia mengelak hanya 2.000 peserta yang ikut, nyatanya di lapangan kartu peserta ada yang mencapai 8.032. Ini kan berarti panitia lalai dan membohongi pihak berwajib. Saya dengar kalau panitia lapor ke Polsek cuma 2.000 peserta, jelas ini ada niat panitia menipu,” ungkap Hima, Senin (8/12/2025).
Hima menjelaskan, adanya perbedaan data jumlah peserta merupakan bentuk kelalaian serius yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum. Menurutnya, dampak kejadian tersebut bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga berdampak pada kondisi mental anak-anak dan orang tua.
Hima menegaskan, penyelenggara tak hanya tanggung jawab berupa pengembalian uang pendaftaran. Namun, harus diberi efek jera, salah satunya harus diproses secara hukum
“Untuk efek jera kayaknya panitia harus dipenjarakan. Jangan dunia pendidikan dan anak-anak jadi korban pencari pundi-pundi uang,” tuturnya kesal.
APPA Bojonegoro berharap aparat penegak hukum (APH) dapat mengusut tuntas penyelenggaraan kegiatan tersebut, termasuk dugaan manipulasi data jumlah peserta dan kelalaian dalam pengamanan acara. Mereka menilai, dunia pendidikan harus menjadi ruang yang aman bagi anak, bukan justru menimbulkan trauma.
Sementara, dalam klarifikasinya, Ketua Panitia sekaligus pemilik Saryta Management, Ita Purnamasari mengklaim jika peserta berjumlah sekitar 2.000 peserta saja. Ia menjelaskan, jika adanya perbedaan data jumlah peserta yang dilaporkan saat perizinan dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Sebab, pada satu hari sebelum pelaksanaan, peserta bertambah 1.000 peserta.
“Untuk awalnya peserta yang kami laporkan ke pihak kepolisian saat mengajukan perizinan, ada sebanyak 1.000, tetapi satu hari sebelum pelaksanaan ternyata peserta bertambah menjadi 2.000,” tuturnya.
Ita mengemukakan, Olimpiade matematika ini diselenggarakan melalui kerja sama dengan lembaga sekolah, dengan biaya pendaftaran sebesar Rp55.000 per peserta, yang di dalamnya termasuk pembagian fee untuk guru masing-masing sekolah.
“Dari nominal itu, juga sudah ada fee untuk guru,” ujar Ita.
Diberitakan sebelumnya, gelaran Olimpiade Matematika tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna, Kelurahan Ledok Wetan, Kecamatan Bojonegoro berakhir ricuh, Minggu (7/12/2025) siang.
Kericuhan bermula dipicu kepanikan peserta yang keluar secara bersamaan untuk mencari orang tua mereka, sementara akses gedung semula hanya dibuka melalui satu pintu utama. Sedangkan, tidak ada panitia yang mengatur lalu lalang kekacauan.
Peristiwa tersebut terjadi setelah sesi peserta kelas 1 dan 2 selesai. Anak-anak berhamburan keluar secara bersamaan, sementara para orangtua menunggu di luar dalam kondisi padat. Situasi semakin tak terkendali saat orang tua dan anak tak saling menemukan di tengah lautan manusia. [riz/mad]
Setuju, penjarakan sj ben kapok