Siap-siap! Sejumlah Industri Padat Karya Bakal Masuk ke Bojonegoro Tahun 2026
Pekerja di salah satu industri rokok di Kabupaten Bojonegoro (Foto: blokBojonegoro.com/Rizki Nur Diansyah)

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com – Gelombang investasi baru diproyeksikan masuk ke Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2026 mendatang. Industri yang rencananya akan berdiri di Kota Ledre ini, diantaranya industri garmen, sepatu, dan rokok.

Hal tersebut, diungkapkan Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono. Menurutnya, sejumlah investor tengah melakukan koordinasi dan lobi-lobi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dalam beberapa waktu terakhir.

"Investasi yang rencananya masuk ke sini (Bojonegoro) pada 2026 diantaranya industri garmen, sepatu, dan rokok,” ungkap Wahono.

Meski belum memerinci asal para investor, Bupati Wahono memastikan komunikasi antara Pemkab dan pihak investor berjalan cukup intens. Wahono berharap rencana tersebut benar-benar terealisasi.

"Kami berharap, rencana mereka untuk berinvestasi ke sini, jadi. Terealisasi,” harapnya.

Eks Wakil Komisaris PT Samator Gas ini menyebut, jenis investasi garmen, sepatu, dan rokok sangat tepat bagi Kabupaten Bojonegoro, sebab ketiganya merupakan industri yang padat karya. Sehingga bisa menyerap banyak pekerja.

"Industri padat karya adalah investasi yang paling ideal untuk Bojonegoro. Bisa menyerap banyak tenaga kerja,” bebernya.

Sementara, disinggung perihal rencana pembangunan industri bioetanol berskala besar yang diproyeksikan berdiri di dekat fasilitas Gas Jambaran Tiung Biru (JTB) tersebut, Wahono menegaskan bahwa proyek tersebut bukan di bawah otoritas Pemkab. Melainkan otoritas Pemerintah Pusat 

"Industri bioetanol itu PSN (proyek strategis nasional). Langsung (diotoritasi) pemerintah pusat," tegasnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa Pemkab Bojonegoro tetap membuka pintu bagi masuknya investasi, selama sesuai regulasi dan dilakukan secara profesional.

"Terkait pemberian insentif untuk para investor yang menanamkan investasi ke sini, itu akan kami pertimbangkan dulu," tutur pria asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo ini.

Wahono juga menyoroti sejumlah faktor yang menyebabkan investasi di Bojonegoro belum berkembang optimal, diantaranya banyaknya lahan milik Perhutani serta sebagian besar lahan berstatus LSD (Lahan Sawah Dilindungi). Namun, ia memastikan upaya pencarian solusi telah dilakukan.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Perhutani dan para terkait untuk mencari solusi atas itu. Insyaallah, sudah lebih mudah sekarang," pungkasnya. [riz/mad]