Haul ke-16 Gus Dur, GUSDURian Bojonegoro Gelar Tasyakuran dan Dialog Lintas Iman
Haul ke-16 Abdurrahman Wahid melalui kegiatan “Tasyakuran dan Dialog Lintas Iman”

Pengirim: Mahesi Ernawati*

blokBojonegoro.com – Hujan deras yang mengguyur Kota Bojonegoro, Sabtu malam (14/02/2026), tak mampu menghalangi langkah para pecinta nilai-nilai kemanusiaan. Di Aula FKUB Bojonegoro, para penggerak GUSDURian Bojonegoro tetap berkumpul memperingati Haul ke-16 Abdurrahman Wahid melalui kegiatan “Tasyakuran dan Dialog Lintas Iman”.

Mengusung tema “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat”, kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang perjumpaan lintas iman yang hangat dan reflektif. Sejumlah tokoh hadir sebagai pemantik dialog, di antaranya H. M. Hasan Bisri, Sekretaris FKUB Kabupaten Bojonegoro, dan Wiwid Fransiska, aktivis Gereja Katolik Bojonegoro.

Koordinator GUSDURian Bojonegoro, Wahib Munasih, menegaskan bahwa peringatan haul kali ini digelar secara sederhana. Namun justru dalam kesederhanaan itu, makna nilai-nilai Gus Dur terasa semakin kuat.

“Alhamdulillah, meski diguyur hujan deras, kegiatan tetap terlaksana dengan khidmat. Selain mendoakan Gus Dur, kami juga memanjatkan doa untuk keselamatan Indonesia, khususnya Bojonegoro,” ujarnya.

Suasana aula malam itu terasa hangat. Lantunan doa bersahut-sahutan, diselingi dialog yang menekankan pentingnya merawat persaudaraan di tengah keberagaman. Wiwid Fransiska menyampaikan bahwa Haul Gus Dur yang rutin digelar setiap tahun telah menjadi ajang silaturahmi lintas iman yang memperkuat energi positif antar umat.

“Melakukan banyak hal positif akan mendatangkan energi positif juga,” tuturnya.

Senada, H. M. Hasan Bisri mengingatkan agar masyarakat tidak pernah takut melakukan kebaikan, sekecil apa pun. Menurutnya, esensi ajaran kemanusiaan adalah keberanian untuk saling menguatkan tanpa mempersoalkan latar belakang agama.

“Jika kita berbuat baik kepada siapa pun, bukan ditanya apa agamamu,” tegasnya.

Tak berhenti pada doa dan dialog, GUSDURian Bojonegoro juga membagikan 700 paket snack kepada para pejuang ekonomi keluarga di sekitar Terminal dan Stasiun Kereta Api Bojonegoro. Aksi sosial tersebut melibatkan kolaborasi sejumlah organisasi mahasiswa dan aktivis, di antaranya PMII, BEM Universitas Bojonegoro, HMP HES UNUGIRI, serta BEM ISTek ICsada Bojonegoro.

Langkah kecil di tengah hujan itu menjadi simbol bahwa warisan nilai Gus Dur—tentang kemanusiaan, keberanian membela yang lemah, dan persaudaraan tanpa sekat—masih hidup dan terus bergerak. Di tengah tantangan zaman, semangat “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” kembali menemukan relevansinya. Hujan boleh turun sepanjang malam, namun semangat merawat kebangsaan tetap menyala di Bojonegoro. [mad]

*Penulis adalah penggerak muda GUSDURian Bojonegoro dan Ketua HMP HES UNUGIRI.