Oleh: Usman Roin
blokBojonegoro.com - Hari ini, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tentu, momentum ini diperingati tidak serta merta luput dari tujuan. Salah satunya, bagaimana memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Gagasan sederhana ini, menjadi relevan di tengah tantangan pesatnya teknologi informasi. Brondongan budaya yang tidak terbendung, privat, tanpa sekat, dan tidak kenal usia, membutuhkan ruang daur ulang. Sudahkah momentum Hardiknas ini, direfleksikan maknanya untuk bisa ikut berkontribusi meningkatkan mutu pendidikan!
Sehingga, gebyarnya, bukan sekadar terhenti pada status "flayer" dan seremonial upacara. Melainkan, teladan apa yang bisa ditindaklanjuti oleh kita semua di kantong-kantong kecil pendidikan.
Guru Inspiratif
Bicara peningkatan mutu pendidikan, tidak terlepas dari tiga bentuk tanggung jawab pendidikan bila meminjam bahasa Zakiah Daradjat, dkk., (2014: 34) dalam bukunya "Ilmu Pendidikan Islam". Yakni guru, keluarga, dan masyarakat.
Menurutnya, dalam hal kewajiban mendidik, masing-masing lingkungan ini tidak bisa memutuskan sendiri-sendiri. Dalam arti, tidak saling terkoneksi keterkaitan dalam hal mendidik. Melainkan, kudu mengelaborasi guna mengkondisikan keberlangsungan pendidikan sepanjang hayat.
Di ruang sekolah/madrasah, guru sebagai pendidik profesional kudu semangat dalam melakukan pembelajaran. Mangapa? Sebab cerminan inspirasi kala mendidik, akan selalu dilihat potretnya oleh peserta didik setiap saat.
Terhadap hal ini, coba baca karya Devi Saidulloh (2026: 7) dalam bukunya berjudul "Kelas Ini Tidak Pernah Selesai". Kala penulis membaca –yang ketika tulisan ini publish sampai halaman 138 dari 192, setiap babnya menceritakan kisah peserta didiknya yang biasa atau meminjam bahasa beliau "normal". Bukan kategori pemagnet dengan aneka macam tabiat si genius, si pelawak, si biang onar serta aneka sebutan lain.
Yang menarik dari guru IPA ini adalah, ia "tidak lupa" menulis perilaku pembelajarannya yang kebanyakan guru dianggap angin lalu, tetapi ternyata bisa menjadi penopang hidup seseorang –dalam hal ini peserta didiknya, bertahun-tahun Ketika berjumpa kemudian.
Sebagai contoh Aqila, peserta didik yang bukan kategori banyak bicara atau meminjam istilah beliau "normal", hanya saja, diantara ribuan langkahnya dari papan tulis ke meja guru, di antara kesibukannya menegur si ribut dan memuji si pintar, dia jarang melangkahkan kaki ke Aqila.
Singkat cerita, kala perpisahan datang, Aqila tidak ikut dalam keramaian. Ia hanya berdiri diam di dekat pintu, hingga kemudian kala keramaian perpisahan mereda, Aqila menyelipkan secarik surat sembari bilang kepada guru IPA "Terima kasih, Pak," katanya dengan nada pelan.
Adapun guru IPA, baru membuka dan membaca tulisannya pada malam hari, yang isinya memuji pembelajaran guru IPA. Singkatnya, peserta didik tersebut menjadi penggemar berat yang luput dari perhatian guru IPA. Hingga suatu saat guru IPA tersebut bertemu Ibunya Aqila di sebuah pasar. Sang ibu berucap, Aqila sering bercerita bila dalam mengajar Biologi, Aqila suka. Gaya menerangkan perihal sel dan tumbuhan seperti lagi mendongeng. Sehingga Aqila senang sekali dengan pelajaran bapak –dalam hal ini guru IPA.
Mendengar ucapan Ibu Aqila, guru IPA tersebut hanya bisa tersenyum. Dalam hatinya menjerit "Aqila... maaf. Maafkan Bapak. Bapak baru benar-benar melihatmu setelah kamu pergi. Bapak sibuk mendongeng untuk seluruh kelas, sampai Bapak lupa menyapa satu pendengar paling setia di depan mata Bapak."
Pasca mendengar apa yang disampaikan Ibu Aqila, guru IPA tersebut ketika memulai pelajaran selalu berhenti sejenak. Ia memandang ke seluruh penjuru kelas. Yang guru IPA lakukan bukan sekadar memandang, tetapi mencari mata-mata tenang yang tidak bersuara. Mencari mereka yang tidak akan berani menyela. Hingga mencari mereka yang tidak akan pernah memohon perhatian. Tapi diam-diam, dengan segenap hati mereka ... mereka menunggu untuk disapa.
Peristiwa merekam peserta didik Aqila –Hafizd, Iqbal, dan masih banyak lagi, bagi saya contoh konkrit guru mendalami betul perannya sebagai pendidik. Ia memperhatikan drama-drama peserta didik yang sering luput dari pandangan para guru, di balik tumpukan RPP, target kurikulum, serta nilai KKM.
Berbekal catatan yang dibuat itulah, sang guru IPA selain bisa melakukan introspeksi terhadap pembelajaran yang dibuat untuk dikoreksi, juga bisa berkarya di bidang literasi menulis, berbekal pembacaan kontekstual kepada peserta didiknya kala melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM). Jika guru IPA bisa menjadi guru inspiratif melalui karya tulis yang saya spill di atas, guru PAI, Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa dan seterusnya juga bisa.
Orang Tua Pembelajar
Kala guru sudah memberi pembelajaran inspiratif, lingkungan keluarga, di Hardiknas ini juga kudu berbenah. Artinya, meminjam bahasa Thomas Gordon (2009: 2) dalam bukunya "Menjadi Orangtua Efektif", mereka (orang tua) agar memperbanyak membaca buku-buku perihal parenting. Thomas, juga tegas mengkritik siapa yang seenaknya menyalahkan orang tua, tetapi lupa memberi pelatihan bagaimana literatur yang benar menjadi pendidik di lingkup keluarga era kekinian.
Sebagai bentuk korelasi sekolah/madrasah dengan keluarga, maka upaya parenting lembaga pendidikan bisa bekerjasama dengan perguruan tinggi yang memiliki program studi pendidikan (tarbiyah) terlebih Islam. Salah satunya di Fakultas Tarbiyah Unugiri, di mana pilihan akademisi mulai dari anak usia dini, dasar, hingga menengah dan atas tersedia.
Selain menjalin kerjasama, materi parenting tidak sekadar berbicara salah-benar mendidik anak, melainkan forum itu juga menjadi ajang rekomendasi literatur buku –cetak atau digital, bagaimana sukses menjadi orang tua pembelajar. Jika itu dilakukan, maka orang tua kekinian bisa mandiri mempelajari literatur buku recommended, untuk kemudian bersama anak kala di rumah menciptakan iklim belajar yang tersistem.
Bila iklim belajar di keluarga tercipta, menurut Daradjat (2014: 39), artinya selain orang tua sadar juga tidak bisa mengelak bila tanggung jawab pendidikan berada dan kembali atau berpulang kepadanya. Bukan "selesai" mencukupi sisi ekonomi pendidikan anaknya, atau malah pasrah bongkoan kepada lembaga pendidikan.
Masyarakat Partisipatif
Kemudian di lingkungan masyarakat, juga ikut memikul tanggung jawab pendidikan. Sebab secara terminologis, masyarakat adalah kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh satuan negara, kebudayaan dan agama.
Alhasil, pada wilayah ini masing-masing individu kudu saling menjadi uswah. Yang tua kepada muda, kemudian muda kepada yang kecil. Hal itu dalam pandangan Daradjat (2014: 45) sebagai tanggung jawab moral dari setiap personal maupun kelompok sosial yang secara implisit memiliki tanggung jawab pendidikan.
Jika bentuk tanggung jawab pendidikan yang ditampilkan baik, dalam arti ruang sosial baik individu maupun kelompok mewujud perilaku baik, maka lingkungan masyarakat menjadi sehat.
Alhasil, ekspresi "baik" diri-kelompok yang ditampakkan di ranah sosial, secara eksplisit dalam rangka mendidik generasi muda untuk ikut gayung sambut pula bertanggung jawab mewujudkan kebaikan the next ruang sosial secara partisipatif.
Akhirnya, momentum Hardiknas ini, penguatan tanggung jawab pendidikan kudu holistik dilakukan. Ruang-ruang parsial, hingga upaya untuk mereduksi, mari terus menjadi perhatian untuk dikaji. Sehingga, hasilnya menjadi formula yang bisa dielaborasikan kekinian, guna menjawab tantangan pendidikan bermutu sepanjang zaman. Amin.
Penulis adalah Dosen di Prodi Pendidikan Agama Islam dan Kepala Perpustakaan Unugiri.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published