Otodidak Tekuni Cybersecurity, Siswa SMK Bojonegoro Sabet Lima LoA dari NASA
Siswa SMK Dirgahayu Kedungadem, Dava Armanda Putra menunjukkan salah satu LoA yang ia dapat dari NASA (Foto: istimewa)

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com – Ketertarikan terhadap dunia teknologi informasi membawa Dava Armanda Putra, siswa Kelas 3 SMK Dirgahayu Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, menekuni bidang cybersecurity hingga meraih pencapaian di tingkat internasional.

Di usianya yang baru 17 tahun, bocah yang berdomisili di Desa Babad, Kecamatan Kedungadem ini, telah berhasil mendapatkan lima buah Letter of Appreciation (LOA) dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) melalui program vulnerability disclosure. Pencapaian tersebut menjadi buah dari proses panjang yang diwarnai kegagalan, keterbatasan waktu, hingga riset yang dilakukan hingga larut malam.

Ketertarikan Dava terhadap dunia IT, khususnya cybersecurity, sebenarnya sudah muncul sejak duduk di bangku kelas 1 SMP. Saat itu, ia belum memiliki laptop sehingga proses belajarnya masih terbatas.

“Saya mulai tertarik dengan dunia IT dan cybersecurity sejak kelas 1 SMP. Waktu itu masih sebatas mencoba mempelajari dasar-dasarnya dari internet karena belum mempunyai laptop,” ungkap Dava, kepada blokBojonegoro, Kamis (27/8/2026).

Dengan perangkat dan sumber belajar yang terbatas, Dava secara otodidak, belajar sedikit demi sedikit melalui berbagai sumber yang dapat diaksesnya. Keinginannya untuk mendalami bidang tersebut semakin kuat ketika memasuki bangku SMK.

Saat kelas 1 SMK, Dava memberanikan diri meminta laptop kepada sang ayah. Ia menilai perangkat tersebut, akan sangat membantu proses belajarnya. Setelah memiliki laptop, kesempatan untuk belajar dan melakukan riset pun semakin terbuka.

“Dari situ saya mulai bisa belajar dengan lebih serius dan mendalami cybersecurity,” katanya.

Perjalanan Dava tidak semata-mata berangkat dari rasa percaya diri. Justru, ia mengaku sempat merasa kemampuan dirinya masih kalah dibandingkan siswa lain.

Ketika melihat sejumlah orang berhasil memperoleh sertifikat dari pemerintah maupun masuk Hall of Fame berbagai perusahaan dan institusi, muncul keinginan dalam dirinya untuk mencoba mencapai hal serupa.

Dava kemudian mulai serius mempelajari cybersecurity dan bug hunting. Ia mencari celah keamanan pada sistem secara legal melalui program yang memang menyediakan mekanisme pelaporan kerentanan.

Usahanya perlahan membuahkan hasil. Beberapa sertifikat dari pemerintah berhasil ia dapatkan. Tak berhenti di sana, Dava juga mulai masuk dalam sejumlah Hall of Fame, termasuk University of Texas.

Pencapaian tersebut sekaligus membuka kepercayaan dirinya untuk mencoba tantangan yang lebih besar.

“Saya masih merasa belum puas karena melihat beberapa teman sudah berhasil masuk Hall of Fame dari berbagai perusahaan atau institusi. Hal tersebut justru membuat saya semakin termotivasi untuk belajar lebih giat,” tuturnya.

Salah satu target yang kemudian ia coba adalah program vulnerability disclosure milik NASA. Namun, mendapatkan apresiasi dari lembaga antariksa tersebut bukan perkara yang mudah.

Selama berbulan-bulan Dava melakukan riset dan mengirimkan laporan. Tidak semuanya diterima. Sejumlah laporan yang dikirimnya mendapatkan status duplicate, informative, maupun alasan lainnya.

Di tengah proses tersebut, Dava juga harus menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kondisi itu membuatnya harus pandai membagi waktu antara kewajiban sebagai siswa dan aktivitas riset cybersecurity.

Karena waktu untuk melakukan riset cukup terbatas, ia biasanya baru mulai mencari celah setelah kegiatan PKL selesai.

“Beberapa kali saya masih melakukan riset sampai sekitar jam 1–2 malam karena ingin terus mencoba mencari temuan yang valid,” ulasnya.

Rutinitas tersebut, menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi ia harus menjalankan PKL, sementara di sisi lain keinginannya untuk menemukan celah keamanan yang valid membuatnya terus melakukan riset.

Setelah berkali-kali mengalami kegagalan, kesempatan yang ditunggu akhirnya datang. Salah satu laporan Dava berhasil diterima NASA.

Laporan tersebut menjadi laporan pertamanya yang mendapatkan apresiasi dari NASA. Ia kemudian menerima Letter of Appreciation pertamanya.

“Rasanya cukup senang karena setelah berbulan-bulan mencoba dan mengalami banyak kegagalan, akhirnya ada satu laporan yang berhasil,” kata Dava.

Alih-alih berhenti setelah mendapatkan apresiasi pertama, Dava justru semakin tertantang. Ia kembali melakukan riset dan mengirimkan sejumlah laporan lainnya.

Beberapa laporan berikutnya juga berhasil mendapatkan apresiasi dari NASA. Hingga akhirnya, Dava mengantongi total lima Letter of Appreciation dari NASA.

Bagi Dava, pencapaian tersebut bukan sekadar jumlah sertifikat atau penghargaan. Lima LOA itu menjadi bukti bahwa kegagalan yang berulang tidak selalu menjadi akhir dari sebuah proses.

“Setelah mendapatkan LOA pertama, saya justru semakin termotivasi untuk mencoba lagi,” pungkasnya. [riz/mad]