Pola Pikir Bertani Menurut Islam, Bagaimana Konsepnya?
Kiai Ahmadi Ilyas

Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*

blokBojonegoro.com - Indonesia adalah negara agraris yaitu negara bangsa yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dan menjadikan hasil bumi sebagai sumber utama perekonomian. Kalau diprosentasikan maka 26,15 % penduduk Indonesia bekerja sebagai petani dari total tenaga kerja nasional. Di dalam sektor agraris sendiri, mayoritas petani Indonesia terkonsentrasi pada subsektor tanaman pangan (seperti padi dan jagung) yang mencakup sekitar 40,25% dari total petani.

Sawah sebagai lahan/ kantor pertanian, bukan sekadar tempat tumbuhnya tanaman padi atau jagung, tetapi juga merupakan sebuah ekosistem yang ada di dalamnya,  terdapat berbagai makhluk hidup yang saling terkait dan berhubungan satu dengan yang lainnya. Padi, serangga, tikus, katak, ular, burung, mikroorganisme, air, tanah, dan manusia membentuk suatu mata rantai kehidupan. Ketika salah satu mata rantai tersebut hilang atau berkurang secara drastis, keseimbangan ekosistem dapat terganggu dan pada akhirnya menimbulkan masalah bagi pertanian.

Penggunaan racun secara berlebihan, pembunuhan terhadap predator alami, rusaknya habitat, serta pengelolaan sawah yang hanya berorientasi pada hasil produksi dapat menyebabkan terputusnya hubungan ekologis tersebut.

Disinilah problem pertanian yang paling mendasar, rusaknya eko sistem dan alam persawahan. Masalah hama yang merajalela,  terkadang bukan semata-mata karena hama terlalu banyak, tetapi karena predator alami terlalu sedikit atau ketidak seimbangan eko sistem.

Islam memandang manusia sebagai khalifah yang memiliki amanah untuk mengelola bumi, bukan merusaknya. Al-Qur'an melarang manusia melakukan kerusakan di muka bumi, sedangkan hadis Nabi SAW memberikan prinsip bahwa tidak boleh menimbulkan bahaya maupun membalas bahaya dengan bahaya لا ضرر ولا ضرار.

Langkah awal dan utama, adalah pola pikir petani dalam memandang setiap Masalah dalam pertanian ini sangat menentukan keberlangsungan Eko sistem di sawah. Masalah akan muncul ketika hanya melihat satu organisme sebagai musuh tanpa memperhatikan kedudukannya dalam ekosistem. Misalnya, seluruh ular dibunuh karena dianggap berbahaya, seluruh katak dibasmi karena dianggap mengganggu, atau seluruh serangga dimusnahkan menggunakan pestisida. Padahal, sebagian serangga merupakan makanan bagi katak dan burung. Katak memangsa berbagai serangga. Ular memangsa tikus dan sebagian hewan lainnya. Burung pemangsa juga membantu mengendalikan populasi tikus.

Ketika predator alami berkurang, populasi mangsanya dapat meningkat. Akibatnya petani justru menghadapi ledakan hama. Di sinilah pentingnya memahami bahwa mengendalikan hama tidak selalu berarti membunuh sebanyak-banyaknya makhluk hidup, tetapi mengembalikan keseimbangan agar populasi organisme berada dalam batas yang tidak merugikan.

Prinsip tersebut sangat dekat dengan ajaran Islam tentang amanah manusia dalam mengelola bumi.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Artinya: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya." (QS. Al-A'raf: 56)

Ayat ini memberikan dasar moral bahwa pemanfaatan alam harus dilakukan dengan menjaga keseimbangan dan mencegah kerusakan. Dan moral itu akan wujud ketika petani dengan kesadarannya merubah pola pikirnya tentang lingkungan sawahnya.

Ada beberapa langkah pola pikir yang di harus tertanam dalam hati, untuk mendapatkan hasil panen yang berkah, diantaranya :

1. Bahwa Bertani Bernilai Ibadah

Dalam Islam, ibadah tidak hanya berupa shalat, puasa, membaca Al-Qur'an dan dzikir. Pekerjaan duniawi yang halal dapat bernilai ibadah apabila diniatkan dengan benar dan dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah.

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini memberikan kerangka besar bahwa kehidupan manusia pada dasarnya diarahkan kepada pengabdian kepada Allah. Maka seorang petani yang pergi ke sawah, kemudian ia mengolah tanah, menanam padi, menjaga tanaman, menyediakan pangan bagi masyarakat, dan mencari nafkah halal untuk keluarganya, semua yang dilakukan dapat menjadi bagian dari ibadah.

Dasarnya dari Niat

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Jadi terdapat perbedaan antara bertani dengan niat yang baik dan tidak: “Saya bertani hanya untuk mendapatkan uang.” dengan: “Saya bertani untuk mencari rezeki halal, memberi nafkah keluarga, menyediakan makanan bagi manusia, dan menjaga amanah Allah atas tanah.”

Pekerjaannya mungkin sama, tetapi ketika orientasi batinnya berbeda tentu hasilnya akan berbeda.

2. Bertani bentuk amanah untuk memakmurkan bumi

Allah berfirman:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Artinya: “Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya.” (QS. Hud: 61)

Kata: وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا dipahami oleh para mufassir dalam konteks bahwa manusia diberi tugas untuk memakmurkan dan mengelola bumi. Ini menarik jika diterapkan kepada petani.

Petani bukan sekadar mengambil hasil dari bumi. Ia mempunyai tanggung jawab untuk memakmurkan bumi. Maka, petani yang baik bukan hanya bertanya, “Berapa ton padi yang saya dapat?” tetapi juga bertanya, “Dalam keadaan seperti apa saya meninggalkan tanah ini untuk musim berikutnya?” Di sinilah konsep pertanian berkelanjutan mendapatkan landasan moral.

3. Petani dan sawah adalah satu kesatuan

Manusia memiliki kedudukan sebagai makhluk yang diberi amanah untuk mengelola bumi. Dalam prakteknya, kehidupan petani tidak dapat dipisahkan dari sawahnya. Sehingga petani dan sawah adalah satu kesatuan. Petani membutuhkan: tanah yang subur, air yang bersih, organisme tanah, serangga yang seimbang, musuh alami hama, tumbuhan di sekitar sawah, dan ekosistem yang sehat. Sebaliknya, kondisi sawah sangat dipengaruhi oleh tindakan petani.

Maka hubungan keduanya adalah hubungan timbal balik. Sehingga pola pikir petani seharusnya, tidak tertuju pada  menghasilkan panen sebanyak-banyaknya, tetapi menghasilkan dengan cara yang tidak menimbulkan kerusakan. Selain hasil, petani juga harus menjaga agar tanah tidak kehilangan kesuburan, menjaga air agar tidak  tercemar, menjaga  organisme yang bermanfaat, menjaga rantai makanan, dan menjaga ekosistem sawah agar tetap seimbang.

Maka keberhasilan pertanian tidak semestinya hanya diukur dengan: “Berapa banyak hasil panennya?” Tetapi juga: “Apakah setelah panen sawah masih tetap hidup?”

4. Bertani adalah berbagi dengan makhluk lain

Ada hadits yang sangat kuat untuk membangun mentalitas petani:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Artinya: “Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman atau menanam suatu tumbuhan, kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ini luar biasa jika dijadikan paradigma petani. Kalau diperhatikan Nabi SAW tidak mengatakan hanya ketika manusia yang memakan tanaman tersebut. Beliau juga menyebut: burung dan hewan. Artinya, keberadaan makhluk lain yang mendapatkan manfaat dari hasil pertanian dapat menjadi pahala bagi orang yang menanamnya.

Maka petani tidak perlu melihat semua makhluk lain sebagai pesaing. Ada bagian tertentu dari hasil bumi yang menjadi rezeki makhluk Allah lainnya. Dari kesadaran ini muncul pola pikir berbagi dengan makhluk lain. Yaitu apa yang dimakan makhluk lain dari tanaman yang kita tanam dapat menjadi sedekah petani.

Kesimpulannya, ketika pola pikir tersebut di bangun, kemudian diimplementasikan dalam bertani, maka hal ini akan menjadi landasan dalam setiap tindakannya, sehingga petani tidak hanya mengekploalitasi sawah untuk mendapatkan hasil yang maksimal, namun tetap menjaga ekosistem sawah. Sebab petani selain pengambil manfaat hasil sawah, juga keberkahan dari hasil tidak kalah penting. Selain itu petani juga menjadi pengelola dan penjaga kehidupan di lingkungan sawah. [mad]