Membangkitkan Membaca

Oleh: Usman Roin *

Membangkitkan semangat membaca bagi penulis adalah bagian dari kontekstualisasi memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang jatuh setiap tanggal 20 Mei.

Perihal membaca, bisa dimulai dari sendiri (nafsi-nafsi). Kemudian, mengajak kepada yang terdekat –keluarga, teman, mahasiswa dan sebagainya.

[Baca juga: Medayoh ke Perpustakaan ]

Hal ini sebagaimana yang penulis lakukan. Tepatnya, pasca medhayoh ke madrasah Islam di Plesungan, Kapas; penulis ajak mahasiswa untuk ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) yang familiar disebut dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dis Perpus Sip).

Kepada penulis, mahasiswa tersebut menyampaikan bila baru sekali ke Dis Perpus Sip. Dia menyampaikan kegembiraan bisa medhayoh perdana ke Gedung perpustakaan yang baru. Oleh karena penulis niatnya membaca, sehingga dia juga turut membaca.

Bahkan, salah satu buku yang belum pernah penulis baca dan temukan perihal filsafat –yang kini penulisnya lagi naik daun, akhirnya dia pinjam. Yaitu, Fahruddin Faiz “Mati Sebelum Mati Buka Kesadaran Hakiki” (Jakarta Selatan: Noura Books, 2024), kemudian Malik al Mughis dan M. Syahrur Rasyid “The Power of Istiqomah” (Yogyakarta: Hijaz Pustaka Mandiri, 2022).

Adapun penulis, meminjam bukunya M. Quraish Shihab “Yang Hilang dari Kita: Akhlak” (Tangerang Selatan: PT. Lentera Hati, 2016) dan Jalaluddin Rakhmat “Renungan Sufi: Membuka Tirai Kegaiban” (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2022).

Sekelumit cerita di atas, hakikatnya adalah upaya kecil penulis untuk membangkitkan semangat membaca kepada sesama. Dalam hal ini karena dia mahasiswa Unugiri, yang kebetulan diamanahi menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Tarbiyah, bisa menularkan membaca untuk “dikampanyekan” kepada sejawat.

Terhadap membaca, Islam sangat memberi perhatian. Coba sejenak melihat surah al-‘Alaq, perihal kata “iqra'” yang diulang dua kali –di ayat 1 dan 3, menurut Ash-Shâbûnî (1996:583) dan Wahbah Zuhailî (1991:317), selain dalam rangka memberi semangat juga sebagai penegas arti pentingnya aktivitas baca itu dilakukan.

Bahkan menurut M. Quraish Shihab dalam Nurwadjah Ahmad E.Q. dan Roni Nugraha (2007:201) bahwa pemerolehan pengetahuan manusia melalui perantara suatu alat (qolam) yang kini bisa diwujudkan berbentuk buku. Jika demikian, membaca adalah hal penting untuk membuka wawasan teks maupun konteks.

 

Peran Strategis

Keberadaan Dis Perpus Sip –seiring dengan memperingati Harkitnas ini, selain urgen juga strategis dalam hal literasi membaca. Koleksi buku yang dimiliki, tentu bukan sekadar dininabobokkan. Tetapi, diharapkan bisa intensif dijadikan sarana membangkitkan semangat membaca siapa saja.

Sebagaimana contoh penulis di atas –mengajak mahasiswa membaca ke Dis Perpus Sip, bisa dilakukan. Apalagi, bila Mas Bupati Bojonegoro berkenan membuat “imbauan” segenap OPD menyelenggarakan 30 menit membaca buku. Subhanallah, tentu ini ajib bin ajib sekali.

Selain itu, perluasan 30 menit membaca juga bisa diberlakukan untuk lembaga pendidikan mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi (PT) yang ada Bojonegoro. Bila hal itu berjalan, membaca akan bangkit sebagai kegiatan nyata memperingati Harkitnas kini.

Kita sudah mafhum, membaca bila tidak ada “paksaan” selamanya tidak akan dilakukan. Bila –membaca, sudah tidak dilakukan, bisa dibilang sarana perpustakaan akan “dikesampingkan” dan tidak dianggap penting.

Pertanyaannya, apakah selamanya kita –warga Bojonegoro, mau menjadi bagian dari “yang” tidak senang membaca? Penulis yakin tidak.

Coba lihat detik.com, tentang hasil survei Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas) tahun 2022 perihal kegemaran masyarakat dalam membaca.

Berdasarkan wilayah, daerah yang masyarakatnya paling gemar membaca buku adalah Yogyakarta dengan skor 72,29. Disusul Jawa Tengah (70,96), Jawa Barat (70,1), DKI Jakarta (68,71), lalu Jawa Timur (68,58).

Berdasar data di atas, Kabupaten Bojonegoro sebagai bagian dari wilayah Provinsi Jatim, perlu menggenjot gemar membaca warganya. Hal itu, agar “ada” peningkatan dari tahun ke tahun berikutnya yang sedang dilalui ini perihal gemar membaca. Jika tidak, ya akan stagnan. Bisa juga, malah “berkontribusi” menurunkan skor.

Karenanya, momentum Harkitnas ini mari dijadikan sarana membangkitkan semangat kolektif untuk gemar membaca. Kapanpun, di manapun, dan oleh siapapun.

Penulis haqqul yakin, Mas Bupati dan Ibu Wakil Bupati Bojonegoro purun nampi angen alit meniko. Amin ya rabbal 'alamin.

 

* Penulis adalah Pegiat Literasi dan Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.