Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, kantong plastik bekas yang selama ini dianggap sampah, kini menjadi bahan baku produk bernilai tinggi. Ratusan perempuan di sekitar kawasan Blok Cepu, yang terletak di tengah hiruk pikuk industri migas, mulai mengolah plastik bekas menjadi rajutan cantik berharga, berkat pelatihan dari perusahaan rajut daur ulang di Yogyakarta.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan ekonomi yang digagas oleh operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), bekerjasama dengan Yayasan Sri Sasanti Indonesia (YSSI). Sejak mengikuti pelatihan selama sebulan terakhir, para ibu rumah tangga ini kini mampu merajut kantong plastik bekas menjadi berbagai produk berguna seperti gantungan kunci, dompet, dan tas.
"Kemarin kami memberi pelatihan kepada 18 perajut kelas mahir selama 2 hari sejak Selasa di Desa Pungpungan, Kecamatan Kalitidu," ujar Agustina Damayanti, perwakilan dari Sri Sasanti.
Pelatihan ini mengajarkan peserta untuk memilah dan mengolah kantong plastik bekas menjadi bahan rajut. Dengan bimbingan langsung dari tim produksi perusahaan rajut daur ulang di Yogyakarta, para perempuan ini tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga kesempatan untuk menjual hasil karya mereka.
Produk rajut dari kantong plastik bekas ini ternyata memiliki nilai jual yang cukup tinggi, memberikan peluang bagi para perajut untuk menambah penghasilan, sekaligus berperan dalam mengurangi sampah plastik yang selama ini mencemari lingkungan.
"Ibu-ibu perajut PRIMA ini semangat belajarnya tinggi, disiplin, dan hasil karyanya bisa diandalkan," tambah Agustina, yang akrab disapa Nina.
Koordinator Kelompok PRIMA Desa Pungpungan, Hartini, juga menambahkan bahwa merajut plastik bekas pada dasarnya tidak berbeda dengan merajut bahan biasa.
"Hanya perlu sedikit pembiasaan karena bahannya lebih licin dan mudah bergerak. Siapa saja bisa mempelajarinya asal ada kemauan dan ketekunan," kata Hartini.
Manfaat lainnya, kata Hartini, adalah kemudahan dalam memperoleh bahan baku. Kantong plastik bekas bisa didapatkan dari rumah masing-masing, bahkan dari tetangga sekitar yang sering membuangnya.
"Terkadang mereka malah membakar sampah plastik. Kami ingin mengubah kebiasaan itu dan memanfaatkan plastik bekas dengan cara yang lebih bermanfaat," ujarnya.
Melalui program ini, Sri Sasanti juga menggandeng mitra pembeli yang siap membeli produk rajut tersebut. Harga yang ditawarkan pun cukup kompetitif, berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung pada jenis produk.
"Alhamdulillah, produk kami sudah dipesan oleh perusahaan dari Yogyakarta," ujar Hartini dengan bangga.
Program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dan Penyandang Disabilitas yang digagas EMCL ini terus berkembang. Selain merajut pemula dan mahir, kelompok penyandang disabilitas juga dilibatkan dalam pelatihan ini.
"Kami yakin, kemandirian perempuan ini akan menjadi tonggak perubahan di masyarakat," ujar Marshya C. Ariej, perwakilan dari EMCL, yang merasa bangga dengan semangat tinggi yang ditunjukkan para peserta.
Lebih dari 400 perempuan di Bojonegoro dan Tuban telah merasakan manfaat dari program ini selama lebih dari lima tahun. EMCL berharap, kolaborasi ini dapat terus memperbaiki taraf hidup masyarakat dan memberikan dampak positif bagi keberlanjutan lingkungan serta perekonomian lokal.
"Dukungan masyarakat terhadap operasi kami di Blok Cepu juga sangat besar. Terima kasih atas kolaborasi yang baik ini," tutup Marshya. [Feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published