Tak Ikut Pramuka, Siswa SMK di Bojonegoro Dipukul Guru Hingga Memar

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com – Seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Diponegoro di Desa Kuniran, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, berinisial SW, menjadi korban kekerasan oleh oknum guru. SW mengalami luka memar di bagian punggung setelah dipukul menggunakan stik drum, lantaran tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, Senin (26/1/2026).

Salah satu anggota keluarga SW, Khalimatus Sa’diyah mengungkapkan, peristiwa tersebut terjadi saat adiknya baru kembali masuk sekolah setelah beberapa hari tidak hadir akibat kecelakaan lalu lintas.

“Pada hari Rabu, saat mau berangkat sekolah, adik saya disrempet motor, dan keesokannya udah nggak masuk sekolah, dan udah izin ke wali kelas,” ungkap Khalimatus Sa’diyah, Selasa (27/1/2026).

Sa’diyah menceritakan, setelah kembali masuk sekolah, adiknya justru mendapat hukuman berdiri. Saat hendak menjalani hukuman tersebut, tangan SW yang masih dalam kondisi sakit dipukul oleh guru, hingga membuatnya terjatuh karena kesakitan.

“Saat mau berdiri lagi, adik saya kembali dipukul. Mukulnya pakai stik drum,” ujarnya.

Akibat kejadian itu, SW memutuskan pulang ke rumah dan diantar oleh lima guru dari SMK Diponegoro, termasuk guru yang diduga melakukan pemukulan. Namun, setibanya di rumah, keluarga mengaku tidak mendapatkan penjelasan apa pun terkait alasan tindakan tersebut.

“Spontan ibu saya menangis, mengetahui anaknya dipukul di sekolah. Sedangkan, pihak guru hanya meminta maaf, dan tidak ada penjelasan apapun,” tuturnya.

Lebih lanjut, Sa’diyah menyampaikan bahwa, adiknya memiliki keterbatasan sejak lahir karena dilahirkan secara prematur. Kondisi tersebut, kata dia, telah disampaikan orang tua kepada pihak sekolah sejak awal pendaftaran.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Bojonegoro–Tuban, Hidayat Rahman, membenarkan adanya laporan dugaan kekerasan oleh oknum guru tersebut. Pihaknya mengaku telah menindaklanjuti laporan yang masuk.

“Kami telah menugaskan pengawas dan Kasi SMK untuk berkoordinasi dan langsung melakukan pengecekan di SMK Diponegoro,” ujar Hidayat.

Hidayat menegaskan, meski SMK berada di bawah naungan Cabang Dinas Pendidikan, sekolah swasta tersebut dikelola oleh yayasan. Oleh karena itu, pihaknya masih mendalami status oknum yang diduga melakukan kekerasan.

“Kami sangat tidak membenarkan hal tersebut. Kami juga telah berulang kali mensosialisasikan, agar tidak ada bullying dan kekerasan. Guru boleh menyanksi, tetapi sifatnya mendidik, bukan kekerasan,” tegasnya.

Peristiwa ini juga dibenarkan oleh Kapolsek Purwosari, AKP Subeki. Ia menyampaikan bahwa keluarga korban telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Purwosari.

“Benar, kami telah menerima laporan adanya kejadian pemukulan oleh oknum guru kepada siswa. Namun, perkembangan selanjutnya akan kami sampaikan lagi,” ujarnya singkat. [riz/mad]