Menuju UNESCO Global Geopark, Bojonegoro Gandeng BRIN

Reporter: Joel Joko 

blokBojonegoro.com - Menuju UNESCO Global Geopark (UGGp), Pemkab Bojonegoro melalui Forum Komunikasi Geopark menggelar diskusi keragaman geologi terpadu untuk geopark berkelanjutan. Acara tersebut dihadiri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan stakeholder terkait, Rabu (6/8/2025) di Andrawina HOtel Aston Bojonegoro.

Menurut Hanang Samodra selaku ketua tim, bahwa keragaman geologi merupakan warisan geologi itu sendiri yang harus dikonservasi, sehingga bisa dikelola menjadi suatu kawasan geopark untuk menunjang pembangunan peradaban manusia yang lebih modern.

[Baca Juga: https://blokbojonegoro.com/2025/06/19/festival-geopark-2025-kekayaan-alam-hingga-kebudayaan-bojonegoro-menuju-panggung-dunia/]

“Begitu pentingnya geodiversity atau keragaman geologi untuk kita kenali, identifikasi, kembangkan, dan kelola seksama, ditunjang riset terbaru dengan perkembangan teknologi yang ada,” ujar Hanang.

Saat ini Bojonegoro memilik 16 geosite yang cukup menarik. Untuk itu pihaknya mendorong riset-riset geologi yang lebih berkelanjutan, dan pemerintah agar setiap kebijakan berdasarkan hasil riset ilmu kebumian atau geologi.

Dalam paparannya, Hanang berpesan agar geodiversity menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat, terutama para pemangku kepentingan di daerah, yang tercermin dalam memperlakukan alam dari waktu ke waktu.

Sementara itu Ketua Aspiring Geopark Bojonegoro, Kusnandaka Tjatur menegaskan bahwa pengembangan geopark sudah masuk RPJMD 2025. Pemerintah sangat getol mensosialisasikan keragaman geopark di Kabupaten Bojonegoro. Namun sangat perlu dukungan dari semua pihak agar geopark ini tidak hanya diakui nasional tapi juga disukai masyarakat sekitar. 

"Melalui kegiatan ini diharapkan ada output yang bisa dihasilkan, adanya pemahaman, serta ide-ide baru. Paling tidak pengetahuan baru terkait dengan mengelola geopark dan mengembangkan geopark yang berkelanjutan," tandasnya.

Forum diskusi ini juga menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, pemerintah daerah, akademisi, komunitas lokal, media dan sektor swasta. Diskusi  yang dibangun menyoroti berbagai capaian dan tantangan dalam pengelolaan geopark sekaligus menyusun startegi untuk mempertahankan status UNESCO melalui pendekatan kolaboratif dan inovatif. [oel/mad]