Dari Brokoli hingga Telur Ayam: Jejak Kolaborasi PNM dan Zulkifli Hasan untuk Kemandirian Pangan

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Udara dingin pegunungan Kopeng, Jawa Tengah, menyambut kedatangan Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan. Dengan jaket hangat dan senyum ramah, ia menyusuri jalanan desa yang dikelilingi ladang brokoli dan deretan kandang ayam petelur. Namun, kunjungan kerja ini bukan sekadar seremoni—ada langkah nyata yang tengah dibangun, yakni kolaborasi untuk ketahanan pangan nasional yang dimulai dari desa.

Zulkifli Hasan datang bukan sendiri. Ia melihat langsung bagaimana PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjalankan program pemberdayaan bagi nasabahnya, para perempuan tangguh peserta program Mekaar dan ULaMM. Salah satu titik kunjungannya adalah usaha grosir dan ritel milik nasabah PNM yang menjual telur ayam hasil program Rumah Pangan.

Di sana, ia menyaksikan langsung bagaimana hasil ternak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga sekaligus mendatangkan penghasilan tambahan bagi keluarga.

Perjalanan berlanjut ke rumah pembibitan sayuran. Brokoli hijau segar dipanen langsung oleh tangan-tangan perempuan desa yang selama ini menjadi ujung tombak program pemberdayaan.

Menteri Zulkifli tidak hanya meninjau, ia turut memanen, bercengkerama dengan para petani, dan menyerap cerita mereka. Suasana lebih hangat terasa saat Zulkifli Hasan menghadiri Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) di rumah salah satu nasabah Mekaar.

Forum ini menjadi wadah bagi para ibu prasejahtera untuk belajar, berbagi, dan tumbuh bersama. Di sinilah akar pemberdayaan itu ditanam, ialah pembiayaan mikro, pelatihan kewirausahaan, manajemen keuangan, hingga dukungan sosial yang konsisten.

"Terima kasih ke PNM karena sudah membantu ketahanan pangan di daerah-daerah terutama di desa. Saya yakin masa depan ibu-ibu akan cerah, apalagi dibantu program ayam petelur ini. Pak Presiden juga punya program MBG, jadi Insya Allah usaha di bidang ayam petelur akan laku keras," ujar Zulkifli Hasan, penuh harap.

Kunjungan ditutup di Rumah Pangan PNM, tempat program ayam petelur dijalankan secara terstruktur. Dampaknya nyata adalah selain menambah penghasilan harian Rp50.000 hingga Rp150.000, konsumsi telur dalam rumah tangga pun meningkat.

Artinya, gizi keluarga ikut membaik. Survei internal PNM pada September lalu menunjukkan adanya perubahan pola makan lebih sehat pada mayoritas keluarga nasabah sejak terlibat dalam program ini.

Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, menyambut kunjungan ini dengan optimisme. Ia menyebut program ayam petelur sebagai langkah awal dari upaya pemberdayaan yang lebih besar dan berkelanjutan.

"Mungkin ini kontribusi kecil PNM yang bisa kami lakukan. Diawali dari memenuhi kebutuhan masing-masing, kebutuhan lingkungan, dan ke depan kita akan perluas hingga bisa memenuhi kebutuhan pasar secara luas, apalagi tadi Pak Menko mengatakan akan ada 82,9 juta penerima MBG yang perlu disuplai," kata Arief.

Kehadiran Menko Pangan dalam kegiatan ini sekaligus menjadi penguat komitmen PNM terhadap Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan kawasan swasembada pangan, energi, dan air nasional.

Di bawah inisiatif PNM untuk UMKM dan PNM Pemberdayaan UMKM, pendekatan yang dilakukan bukan sekadar memberikan modal, tapi juga memastikan pendampingan dan penciptaan kemandirian dalam hal pangan.

Apa yang terjadi di Kopeng hari itu mengingatkan bahwa upaya besar seringkali dimulai dari langkah kecil. Dari brokoli yang dipanen sendiri, dari telur yang dimasak setiap pagi, dan dari semangat perempuan desa yang kini berdiri lebih teguh demi masa depan keluarganya. [feb/mad]