Reporter: Muharrom
blokBojonegoro.com - Tayangan di salah satu program televisi nasional, Trans7, disayangkan oleh Syekhermania dan Jamaah Sor Tower (JST) Bojonegoro. Sebab, tayangan itu dinilai mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) serta menyebarkan informasi menyesatkan terkait Pondok Pesantren.
Koordinator JST dan juga Presiden Syekhermania Bojonegoro, Gus Abdul Rouf Mubarrok kepada blokBojonegoro.com, Selasa (14/10/2025) mengatakan, potongan-potongan video yang ditayangkan dengan disertai narasi dari pengisi suara menyakitkan hati santri dan alumni Pondok Pesantren.
"Kami dari JST Bojonegoro dan Syekermania yang banyak diisi alumni Pondok Pesantren, seperti dari Ponpes Attanwir Talun, Ponpes Langitan, Ponpes Lirboyo, Ponpes Ploso, Ponpes Al Anwar Rembang dan lain-lain, mengecam keras Trans7," kata Gus Rouf, panggilan akrabnya.
Ditambahkan, jika tayangan tersebut telah tersebar di banyak platform media sosial dan benar-benar menyulut amarah alumni Pondok Pesantren. Apalagi, sebentar lagi diperingati rangkaian Hari Santri Nasional (HSN) 2025.
"Negara saja menghormati jasa para santri dan kiai dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama melalui peristiwa Resolusi Jihad yang diserukan oleh KH. Hasyim Asy'ari tanggal 22 Oktober 1945," tambahnya.
Harusnya, media televisi seperti Trans7 bisa memberikan edukasi yang baik di masyarakat, bukan malah sebaliknya mencemarkan nama kiai dan Pondok Pesantren. Maka, pihaknya mengajak bersama-sama seperti yang telah dilakukan GP Ansor dan lain-lain untuk boikot dan unfollow Trans7.
"Trans7 harus ingat, Presiden Joko Widodo melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015, dengan tujuan untuk mengenang peran penting ulama dan santri serta untuk meneladani semangat nasionalisme dan perjuangan, sehingga ada Hari Santri Nasional (HSN)," pungkasnya. [mu/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published