Muhasabah Akhir Tahun: Menata Hati, Menata Hidup
Ilustrasi musahabah

Oleh: K. Nur Aziz Efendi, M.Pd.*

blokBojonegoro.com - Muhasabah adalah proses introspeksi diri dengan menimbang, menilai, dan mengevaluasi seluruh ucapan, perbuatan, niat, serta arah hidup agar selaras dengan perintah Allah SWT dan menjauh dari larangan-Nya. Ia merupakan upaya sadar seorang hamba untuk melihat kembali kekurangan dan kelebihan dirinya, mengakui kesalahan, mensyukuri nikmat, serta merencanakan perbaikan amal di masa depan. 

Muhasabah dilakukan untuk membersihkan hati, memperkuat iman, dan menyiapkan diri menghadapi hisab di akhirat, sehingga seorang muslim dapat terus meningkatkan kualitas diri dari waktu ke waktu.

Rasulullah SAW bersabda;

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Artinya: “Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR Tirmidzi).

Muhasabah idealnya dilakukan setiap hari, karena seorang muslim dituntut untuk selalu memperbaiki dirinya. Hal ini dicontohkan para salafus shalih terdahulu. Umar bin Khattab r.a. sering berkata, “Hisablah diri kalian, sebelum kalian dihisab,” dan beliau benar-benar mengamalkannya dengan memeriksa setiap keputusan dan sikapnya, bahkan menangis ketika merasa ada kekurangan pada dirinya. 

Hasan Al-Basri dikenal sering duduk sendirian pada malam hari hanya untuk menimbang kembali ucapan dan amalnya, lalu berkata, “Rahmat Allah bagi kaum yang sibuk menghisab diri sebelum mereka dihisab.” 

Sementara itu, Imam Abu Hanifah setelah salat Isya kerap duduk merenungkan hari yang telah ia lalui dan memikirkan apa yang harus ia perbaiki esok hari, hingga tetangganya mengira ia bermalam untuk menangis kepada Allah. 

Muhammad bin Wasi’ juga pernah berkata, “Seandainya dosa memiliki bau, niscaya tidak ada yang mau duduk dekatku,” menunjukkan betapa tekun ia menegur dirinya sendiri. 

Teladan para salaf ini mengajarkan bahwa muhasabah bukan sekadar teori, melainkan disiplin harian yang dilakukan dengan hati yang jujur, lembut, dan penuh rasa takut kepada Allah, sehingga melahirkan pribadi yang lebih bersih dan lebih dekat kepada-Nya.

Momentum pergantian tahun memberikan ruang refleksi untuk melakukan muhasabah secara lebih menyeluruh. Ketika menyadari bahwa satu tahun penuh telah berlalu, seseorang lebih mudah meninjau perjalanan hidupnya dalam skala besar: mengingat pencapaian, menyesali kelalaian, serta mengevaluasi apakah waktunya telah digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

Pergantian tahun menjadi batas waktu yang jelas antara apa yang telah dilewati dan apa yang akan dihadapi, sehingga muhasabah terasa lebih dalam, lebih jujur, dan lebih bermakna.

Muhasabah dapat dilakukan dengan menghadirkan waktu khusus untuk merenung, kemudian mengingat kembali seluruh perbuatan, ucapan, dan pilihan hidup yang telah dijalani, sambil menimbangnya dengan timbangan syariat. 

Mulailah dengan bertanya pada diri sendiri apakah setiap amal sudah ikhlas, apakah kewajiban telah ditunaikan dengan baik, dan apakah masih ada hak manusia yang belum dipenuhi. Setelah itu, renungkan juga kelemahan pribadi seperti sifat buruk, kelalaian, atau kebiasaan yang harus ditinggalkan, lalu bandingkan dengan nikmat dan pertolongan Allah yang begitu besar. Dari proses ini, susun tekad dan rencana perbaikan yang jelas agar hari-hari ke depan lebih terarah. 

Dalam praktiknya, muhasabah tidak lepas dari berbagai tantangan- tantangan sebagaimana berikut ini;

1. Rasa malas atau menunda

Sikap malas atau menunda membuat muhasabah tidak pernah benar-benar dilakukan, karena hati selalu mencari alasan untuk menghindari ketidaknyamanan saat menilai diri. Jika dibiarkan, ia melemahkan semangat perbaikan dan membuat waktu terbuang tanpa arah.

2. Merasa sudah cukup baik

Perasaan puas diri menyebabkan seseorang berhenti berkembang, padahal manusia selalu memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki. Merasa cukup baik bisa menutup pintu tazkiyatun nafs karena tidak lagi peka terhadap kesalahan kecil yang lama-kelamaan bisa membesar.

3. Terlalu keras pada diri sendiri

Terdapat orang yang menilai dirinya terlalu buruk hingga merasa tidak layak berubah. Sikap ini justru menghambat perbaikan karena membuat hati patah semangat. Muhasabah yang benar harus seimbang antara kejujuran, harapan, dan rahmat Allah.

4. Tidak punya rencana jelas

Muhasabah tanpa rencana hanya membuat seseorang sadar akan kekurangannya, tetapi tidak tahu langkah apa yang harus ditempuh. Tanpa target yang terukur, perbaikan hanya akan menjadi wacana, bukan perubahan nyata.

Pada akhirnya, muhasabah adalah jembatan antara kesadaran dan perubahan. Ia tidak hanya membuat kita melihat apa yang telah berlalu, tetapi juga mendorong kita menata langkah untuk masa depan yang lebih baik. Muhasabatun nafsi dibangun melalui kejujuran, kerendahan hati, dan kesungguhan memperbaiki keadaan. 

Muhasabah yang kita lakukan akan membuka pintu ampunan, memperkuat iman, serta mengantarkan kita pada kehidupan yang lebih terarah dan penuh keberkahan. Semoga Allah menutup tahun ini dengan kebaikan dan membuka lembaran berikutnya dengan rahmat, hidayah, dan pertolongan-Nya. [mad]

*Rubrik Tanya Jawab Fiqih dan Religi diproduksi oleh LBM PCNU BOJONEGORO