Kakanwil Kemenag Jatim Guncang Mental ASN Bojonegoro: Dari Wakaf hingga Revolusi Budaya Pelayanan

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Suasana Aula Atas Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bojonegoro, Selasa (10/2/2026), terasa berbeda. Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkungan Kemenag duduk khidmat, bukan sekadar mengikuti kegiatan seremonial, melainkan menerima suntikan motivasi yang menggugah kesadaran diri.

Dalam kegiatan Pembinaan ASN, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, H. Akhmad Sruji Bahtiar, mengajak seluruh ASN Kemenag Bojonegoro untuk melakukan introspeksi besar-besaran-bukan hanya soal kinerja administratif, tetapi juga kualitas iman, akhlak pelayanan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

"Kalau hari ini lebih baik dari tahun kemarin, kita termasuk orang yang beruntung. Tapi kalau sama saja, kita rugi. Kalau lebih buruk, itu celaka," tegasnya di hadapan para kepala madrasah, penghulu, penyuluh, pengawas, hingga jajaran struktural Kemenag.

Ia mendorong ASN untuk terus berinovasi, meningkatkan kompetensi, serta menciptakan terobosan-terobosan pelayanan yang lebih baik setiap tahun. Menurutnya, keberhasilan tidak bisa diukur hanya dari rutinitas kerja, melainkan dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

"Manfaat apa yang sudah kita berikan tahun ini? Kontribusi apa yang kita tinggalkan? Kalau tidak ada, berarti kita hidup tapi tidak memberi nilai," ujarnya.

ASN Bukan Sekadar Pegawai, Tapi Pelayan Umat

Dalam pidatonya, Akhmad Sruji Bahtiar berulang kali menekankan bahwa ASN Kementerian Agama adalah representasi negara dalam pelayanan keagamaan. Karena itu, kualitas layanan menjadi cerminan institusi.

Ia mengingatkan agar setiap ASN melayani masyarakat dengan sopan, santun, dan penuh senyuman. Menurutnya, pelayanan yang baik bukan soal fasilitas, melainkan sikap dan kompetensi.


"Kalau belum bisa melayani dengan senyum dan santun, jangan berharap masyarakat nyaman. Jangan salahkan publik kalau akhirnya tidak respect kepada kita," katanya.

Ia bahkan mencontohkan budaya pelayanan di Jepang, di mana petugas merasa berterima kasih karena diberi kesempatan melayani orang lain-sebuah mindset yang menurutnya perlu ditanamkan di lingkungan Kemenag.

"Jangan sampai kantor kita kalah ramah dengan minimarket. Masuk pintu saja sudah disapa, ‘ada yang bisa dibantu?’ Kita ini institusi negara, tapi kadang kalah soal keramahan," tuturnya disambut tawa peserta.

Inovasi, Prestasi, dan Evaluasi Tahunan

Kakanwil juga mengajak ASN membiasakan refleksi tahunan: menghitung inovasi, prestasi, kegagalan, hingga tantangan yang dihadapi. Menurutnya, ASN yang tidak berkembang dari tahun ke tahun berarti belum menjalankan tugas sebagai pelayan umat secara optimal.

"Berapa inovasi yang lahir tahun kemarin? Berapa prestasi yang diraih? Masalah apa yang sudah diselesaikan? Kalau semua sama saja setiap tahun, berarti kita stagnan," ungkap Sruji Bahtiar.

Wakaf dan Infak: Mengembalikan Titipan Allah

Tak hanya soal kinerja, Akhmad Sruji Bahtiar juga mengangkat dimensi spiritual ASN melalui gerakan wakaf dan infak. Ia mengingatkan bahwa harta yang dimiliki manusia sejatinya hanyalah titipan Allah.

"Mari kembalikan titipan Allah ke jalan Allah sebelum Allah mengambilnya dengan cara lain. Kalau dikembalikan lewat wakaf, nilainya terus mengalir. Kalau diambil lewat musibah, tidak ada nilainya," pesannya.

Ia mencontohkan keberhasilan pengelolaan wakaf uang di Jawa Timur yang telah mencapai ratusan juta rupiah sebagai bukti bahwa ASN mampu berkontribusi besar untuk kemaslahatan umat.

Penempatan Tugas Adalah Takdir, Bukan Alasan Mengeluh

Dalam bagian lain, Kakanwil menegaskan bahwa setiap penugasan ASN adalah kehendak Allah, bukan semata-mata karena kecakapan pribadi.

"Kita sukses bukan karena pintar, bukan karena harta, bukan karena jabatan. Semua karena Allah. Jangan menuhankan ilmu atau merasa diri dibutuhkan," tegasnya.

Ia mengingatkan agar ASN tidak mengeluh soal penempatan tugas, karena Allah selalu menempatkan orang yang tepat di tempat dan waktu yang tepat.

 Menuju ASN Profesional dan Berakhlak

Melalui pembinaan ini, Akhmad Sruji Bahtiar berharap ASN Kemenag Bojonegoro mampu menjadi pelayan publik yang profesional, rendah hati, inovatif, serta membawa nilai-nilai keagamaan dalam setiap pelayanan.

"Amalnya harus naik, imannya harus naik, kompetensinya harus naik. Kalau tidak ada peningkatan, kita termasuk orang yang rugi," pungkasnya.

Kegiatan Pembinaan ASN ini menjadi momentum penguatan budaya kerja Kementerian Agama, t hanya membangun profesionalisme aparatur, tetapi juga membentuk karakter pelayan umat yang berakhlak, berintegritas, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. [feb/mad]