Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Isu ketahanan pangan kini tak lagi hanya dibahas di ruang kebijakan, tetapi mulai masuk ke ruang-ruang diskusi publik hingga sekolah. Hal itu tampak dalam forum “Ngaji” (Ngobrol Asyik Jengker Demokrasi) edisi ke-54 yang mengangkat tema peluang baru SMK dalam program ketahanan pangan, Selasa (28/42026) malam.
Forum yang dikemas dalam format podcast dan jagong gayeg uang diselenggarakan Dewan Jegrank ini menghadirkan Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Bojonegoro–Tuban, Agus Hariyono, bersama Kepala SMKN 2 Bojonegoro Alim Suwantono dan Kepala SMAN 3 Bojonegoro Tri Herwidyatmono. Diskusi ini menjadi ruang bertemunya kebijakan, praktik pendidikan, dan realitas lapangan.
Agus Hariyono menegaskan, program “Sikap” (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan) lahir sebagai respons atas arah pembangunan nasional yang menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas.
"Program ini (sikap *red) merupakan bentuk sinergi antara pemerintah pusat dan provinsi, dengan memanfaatkan satuan pendidikan sebagai basis gerakan," buka Agus Hariyono mengawali bahasan program.
Sejak diluncurkan Januari 2026, program ini telah melibatkan 754 sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB di Jawa Timur. Implementasinya beragam, mulai dari budidaya tanaman pangan hingga peternakan dan perikanan.
"Setiap sekolah mengembangkan sesuai potensinya. Hasilnya nanti akan dipamerkan saat Hari Pendidikan Nasional di Grahadi," kata Agus.
Menurutnya, kekuatan utama program ini bukan hanya pada produksi pangan, tetapi pada proses pembelajaran yang menyeluruh. Siswa dikenalkan sejak tahap awal hingga hilir, termasuk pemasaran.
"Peserta didik belajar dari menanam, panen, sampai packaging dan marketing. Ini bagian dari penguatan entrepreneurship," tegasnya.
Di sisi lain, program ini juga menjawab kegelisahan tentang minimnya minat generasi muda di sektor pertanian. Agus menyebut pendekatan berbasis praktik di sekolah diharapkan mampu mengubah cara pandang tersebut.
"Kita ingin anak-anak tidak hanya tahu, tetapi juga tertarik dan mau menekuni dunia pertanian, perikanan, dan peternakan,” ujarnya.

Kepala SMKN 2 Bojonegoro, Alim Suwantono, melihat “Sikap” sebagai momentum penting bagi pendidikan vokasi untuk bertransformasi. Ia menilai SMK tidak lagi cukup hanya menyiapkan lulusan sebagai tenaga kerja, tetapi harus mampu mencetak wirausaha.
"Kami dorong anak-anak untuk menjadi entrepreneur, bukan sekadar pencari kerja," kata Alim.
Menurut Alim, kekuatan SMK terletak pada kemampuan teknis yang bisa langsung diterapkan dalam program ketahanan pangan. Namun, ia menekankan pentingnya pemahaman rantai bisnis secara utuh.
"Anak-anak harus paham produksi, distribusi, hingga membaca peluang pasar. Itu yang akan membentuk mereka jadi pelaku usaha," ujar laki-laki yang juga Ketua MKKS SMK Negeri Kabupaten Bojonegoro itu.
Ia menambahkan, momentum kebijakan nasional dan daerah saat ini menjadi peluang besar bagi siswa. "Ini waktu yang tepat untuk menangkap peluang. Anak-anak SMK bisa menjadi wirausaha muda yang berkontribusi pada ekonomi daerah," katanya.
Sementara itu, Kepala SMAN 3 Bojonegoro, Tri Herwidyatmono, mengungkapkan bahwa program “Sikap” berangkat dari inisiatif sebelumnya, yakni School Food Care (SFC), yang awalnya hanya diterapkan di SMA.

"Program SFC diapresiasi gubernur, lalu dikembangkan menjadi ‘Sikap’ agar lebih luas," tuturnya Pak Tri yang juga Wakil Ketua MKKS SMA Negeri Kabupaten Bojonegoro ini.
Di Bojonegoro, sebanyak 23 sekolah ditunjuk sebagai pionir implementasi program ini. Mereka menjadi model dalam pemanfaatan lahan sekolah yang sebelumnya tidak produktif.
"Banyak sekolah punya lahan yang belum dimanfaatkan. Sekarang diolah menjadi media belajar sekaligus produksi," kata Pak Tri.
Menariknya, keterbatasan lahan bukan lagi hambatan. Inovasi seperti pertanian dengan polybag memungkinkan semua sekolah terlibat.
"Sekarang tidak harus punya lahan luas. Teknologi sederhana pun bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Bagi SMA, program ini juga menjadi jawaban atas kebutuhan keterampilan praktis siswa. Tri menyoroti tidak semua lulusan SMA melanjutkan kuliah. “Melalui program ini, siswa punya bekal keterampilan untuk hidup mandiri jika tidak melanjutkan pendidikan tinggi,” ujarnya.
Diskusi dalam forum “Ngaji” tersebut menunjukkan bahwa “Sikap” bukan sekadar program sektoral, melainkan gerakan yang menjembatani pendidikan, ekonomi, dan kebutuhan masa depan. Jika konsisten dikembangkan, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga ruang produksi dan inkubasi wirausaha muda di sektor pangan.
Program ini pada akhirnya bukan hanya soal menanam dan memanen, tetapi menanam cara pandang baru—bahwa pertanian adalah peluang, bukan pilihan terakhir. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published