Pengisian Perangkat Desa Tunggu Perda Dan Perbup
Ratusan perangkat desa di Kabupaten Bojonegoro sampai sekarang ini masih kosong. Namun pengisian perangkat desa tersebut masih menunggu regulasi untuk mengatur pengisian perangkat desa yang kosong.
Ratusan perangkat desa di Kabupaten Bojonegoro sampai sekarang ini masih kosong. Namun pengisian perangkat desa tersebut masih menunggu regulasi untuk mengatur pengisian perangkat desa yang kosong.
Berbicara tentang Dusun Brangkal, Desa Clebung Kecamatan Bubulan Bojonegoro, seakan tak ada habisnya. Karena, selain ada sumur peninggalan penjajah Belanda, ada juga goa dan tebing.
Dengan jumlah 97 Kepala Keluarga (KK), Rt 09,Rw 03, Dusun Brangkal, Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, Bojonegoro mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani.
Letakanya yang jauh dari pusat desa dan berada di perbatasan daerah hutan, serta sebagian tanah pertanian adalah tadah hujan, Dusun Brangkal, Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, pernah terkenal karena masalah kekeringan.
Sebenarnya selain ada sumur peninggalan Belanda di Dusun Brangkal, Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, juga memiliki 9 sumur sebagai sumber kehidupan warga, 7 diantaranya memiliki nama unik.
Di wilayah Rt 09, Rw 03, Dusun Brangkal, Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, Bojonegoro, Jawa Timur, ada sumur peninggalan Belanda yang masih bisa dimanfaatkan hingga saat ini.
Mayoritas warga Dusun Brangkal, Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, Bojonegoro, memanfaatkan sumber air sumur untuk keberlangsungan hidup sehari-hari.
Cuaca tak menentu bukan halangan bagi petani semangka untuk tetap bisa panen raya dan menghasilkan buah dengan kualitas baik. Sukir (42) petani asal Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro salah satunya bisa panen buah semangka hingga 20 ton lebih tiap hektare.
Banyak cara bisa dilakukan untuk mendapatkan rezeki, guna memenuhi kebutuhan keluarga. Salah satunya seperti yang dilakukan Fauzan (65), warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Tambakrejo, yaitu dengan menjadi seorang pengrajin sangkar ayam berbahan dari bambu.
Melakukan pernikahan di bulan baik masih menjadi tradisi masyarakat Jawa, tak terkecuali di Kecamatan Temayang, Bojonegoro. Tak ayal, pada bulan Syawal yang diyakini sebagai bulan utama, banyak mempelai melangsungkan pernikahan.