Sekitar pukul 21.00 WIB, Rumah Makan Bebek Goreng Harissa Jetak, Kota Bojonegoro, Jumat (4/5/2018) malam tiba-tiba bergemuruh. Karena, idola yang sejak sore ditunggu akhirnya datang.
Suasana makan malam di Bebek Goreng Harissa Jetak, Kota Bojonegoro, sungguh istimewa, Jumat (4/5/2018) malam. Sebab, ada tamu luar biasa, yakni putra-putri Koes Plus bersaudara.
Gemerlap lampu menghiasi malam di sepanjang jalan sekitar Pasar Dander, Bojonegoro. Cahaya itu pun menjadi penerang para pedagang yang tengah mencoba peruntungan mengais rezeki.
Melihat anak malas belajar seakan membuat miris kita sebagai orang tua. Pengorbanan yang dilakukan berwujud meteriil seakan tidak ada artinya untuk membuat mereka keranjingan belajar. Belum lagi, setelah terpenuhinya fasilitas teknologi berupa gadget, juga tidak serta merta menumbuhkan kemauan belajar. Yang jamak justru, mereka terlelap dalam buaian teknologi sehingga aktifitas belajar ‘seakan-akan tidak perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh’.
Sebelum acara tasyakuran malam 10 muharom atau yang istilah jawanya dikenal dengan suronan, yang dilaksanakan oleh warga RT.003/RW.001, Desa/Kecamatan Bubulan, Jumat (29/9/2017) malam. Kiai Muslih Abdul Karim selaku imam menjelaskan, terkait beberapa amalan di tanggal 10 muharom, diantaranya kata Kiai Muslih ada 12.
- Selain melakukan syukuran pada malam 10 bulan asyura' (bulan jawa), Jumat (29/9/2017) malam setelah magrib, warga RT.003/RW.001, Desa/Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, juga menggelar santunan anak yatim di Musala Pondok Pesantren (Ponpes) Mutholibin.
Tangisan masih terus bencucuran keluar dari mata Solikah (60) ibunda Husnul Khotimah (26) mahasiswa UMM Dusun Krajan, Desa Klepek RT 09 RW 02 Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro yang mengalami kecelakaan di Malang kemarin malam.
Beberapa hari yang lalu penulis sempat ngobrol dengan tetangga. Mulanya beliau bercerita tentang anak laki-lakinya yang tidak bisa baca Alquran, sebut saja namanya 'Diki'. Diobrolan itu, Diki ini termasuk anak yang malas belajar mengaji. Kalaupun ia berangkat mengaji itu hanya untuk menghindari omelan dari kedua orang tuanya yang selalu menyuruh untuk mengaji. Dan bisa ditebak, selama ia berangkat mengaji pasti tidak akan sampai ke tujuan, namun malah memilih ngobrol (cangkrukan) sambil merokok di warung dekat tempatnya mengaji.
Setiap malam sembilan ramadan menjadi waktu yang dianggap baik sebagian banyak masyarakat dalam melangsungkan pernikahan, sehingga mereka memilih waktu tersebut mengadakan ijab qobul. Terbukti jumlah calon pengantin (Catin) di Kantor Urusan Agama (KUA) satu kecamatan dalam semalam, mencapai 80 pasangan Catin.
Tren menikah di malam songo atau malam ke-29 bulan ramadhan, masih menjadi tradisi bagi masyarakat Bojonegoro. Buktinya, di Kecamatan Dander saja sudah ada 34 pasangan pengantin yang mendaftar.