DLH Bojonegoro Bentuk Saber Sampah
Maraknya pembentukan Saber Pungli membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro berinovasi. Salah satunya dengan membentuk tim saber sampah dan sekaligus mengkampanyekan peduli sampah di sekitarnya.
Maraknya pembentukan Saber Pungli membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro berinovasi. Salah satunya dengan membentuk tim saber sampah dan sekaligus mengkampanyekan peduli sampah di sekitarnya.
Banyak sampah di Kabupaten Bojonegoro belum diimbangi dengan fasilitas untuk mengelola sampah tersebut. Pasalnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro masih kekurangan kontainer sampah.
Keluhan masyarakat terkait Tempat Pembuangan Sampah (TPS) akan ditindaklanjuti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro. Pasalnya, banyak swalayan di Kota Ledre yang tidak membuang sampahnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang difokuskan di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk Kabupaten Bojonegoro.
Keberadaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Desa Sukorejo, Kota dikeluhkan masyarakat setempat. Sebab, TPS yang lokasinya di tepi jalan di samping kuburan kembar itu sampahnya berserakan di luar lokasi dan baunya meresahkan masyarakat.
Sungai Bengawan Solo memang banyak memberi berkah bagi warga sekitar. Selain pladu atau sebutan bagi ikan yang mabuk, bengawan solo membawa cerita tersendiri bagi warga di bantaran sungai. Yakni sampahnya bisa dimanfaatkan.
Bangunan pasar yang megah dan kebersihan yang selalu terjaga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin berbelanja. Karena dengan kondisi tersebut tentu akan membuat nyaman dan krasan bagi siapa saja yang berkunjung, tentu itu semua harus didukung kesadaran akan cinta lingkungan yang bersih.
Gara-gara sampah, dua tetangga bernama Ridwan (54) dan Yusuf (50) warga RT.16/RW.05 Dusun Mantup Desa Drajat, Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro terlibat perselisihan.
Kelompok pilah sampah rumah tangga Desa Sudu, Kecamatan Gayam, studi banding ke bank sampah yang ada di Desa Made, Kecamatan/Kabupaten Lamongan, Minggu (9/4/2017).
Jika kita melihat suatu sampah atau barang bekas, otomatis kita berfikir tentang hal-hal yang negatif, seperti bau, kotor dan tidak mempunyai nilai ekonomis, namun hal itu berbeda ketika berada di tangan Eriyul Mufidah.
ika dulunya bau tak sedap muncul dari Tempat Penampungan Akhir (TPA) Banjarsari, Kecamatan Trucuk, kini dari tempat pengolahan sampah itu memberikan manfaat bagi warga sekitar, yakni sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif.