Pertahankan Pemasukan, Hotel Bojonegoro Optimalkan Warga Lokal
Saat ini, terjadi penurunan okupansi hotel yang ada di Bojonegoro. Untuk mengatasi hal itu, para pengelola hotel memaksimalkan bagaimana cara memikat warga lokal dengan produk yang ada.
Saat ini, terjadi penurunan okupansi hotel yang ada di Bojonegoro. Untuk mengatasi hal itu, para pengelola hotel memaksimalkan bagaimana cara memikat warga lokal dengan produk yang ada.
Okupasi hotel di Kabupaten Bojonegoro menurun seiring habisnya proyek minyak dan gas. Kondisi ini diperparah dengan menurunnya tingkat kunjungan wisatawan dari luar kota baik untuk urusan kerja atau lainnya.
Sejumlah okupansi (keterisian) kamar hotel akhir tahun di Kabupaten Bojonegoro menurun, dibanding tahun lalu. Untuk bisa mempertahankan okupansi, pihak pengelola hotel mencari cara lain dengan mengandalkan resto dan swimming pool untuk bisa mendongkrak.
Jajaran manajemen Hotel Aston Bojonegoro, menggelar media gathering bersama para wartawan media cetak, online serta para penyiar radio swasta yang ada di Bojonegoro, Kamis, (29/11/2017) di Ruang Lendika Lounge Hotel Aston, Jalan MH. Tamrin Bojonegoro siang.
Setelah megaproyek minyak dan gas (Migas) di Bojonegoro berakhir, sejumlah hotel yang sudah berdiri menyusun strategi baru dengan memutar pemasaran, agar okupasi yang turun tidak semakin anjlok. Pendekatan dengan pemerintah dan isntansi terus dilakukan.
Meski proyek Minyak dan gas (Migas) di Bojonegoro sudah selesai, yang dulu paling banyak memanfaatkan jasa penginapan, justru makin hari jasa penginapan di Kota Ledre terus bermunculan. Terlihat ada sejumlah hotel yang saat ini tengah digarap. Hal itu membuat persaingan semakin ketat
Satu tahun belakangan ini okupansi hotel di Bojonegoro mengalami penurunan. Hal itu disebabkan beberapa proyek Minyak dan gas (Migas) di Kota Ledre ini sudah habis. Pada tahun 2016 lalu proyek penyumbang pendapatan yang cukup besar okupansinya berakhir.
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, mengamankan pelaku mesum di hotel Asia Bojonegoro, Selasa (31/10/2017) pagi. Namun sepasang pelaku mesum itu salah satunya kakek kelahiran 1955.
Tidak hanya pebisnis perhotelan saja yang menyambut baik adanya megaproyek industrialisasi minyak dan gas bumi (migas) di Bojonegoro Lapangan Gas Jembatan-Tiung Biru (JTB) PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) sejumlah resto juga mulai persiapkan strategi khusus.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) cabang Bojonegoro, Muh. Subekhi mengatakan, sejak awal seismik migas pada tahun 2007 lalu dan mulai booming pada tahun 2012, prospek perhotelan di Kota Ledre terus bergeliat.