#BeritaFoto
2019 Penari Thengul Pecahkan Rekor MURI
Sebanyak 2019 penari, resmi memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) di area Jembatan Sosrodilogo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (14/7/2019).
Sebanyak 2019 penari, resmi memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) di area Jembatan Sosrodilogo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (14/7/2019).
Musium Rekor Indonesia (MURI) menyerahkan 2 pelakat sekaligus untuk Kabupaten Bojonegoro, yakni penghargaan rekor penari Thengul sebanyak 2019 di Tahun 2019. Selain itu rekor Sego Buwohan atau Nasi Buwuhan 26.610 porsi.
Secara simbolis, perwakilan Musium Rekor Indonesia (MURI) menyerahkan pelakat penghargaan rekor penari Thengul sebanyak 2019 di Tahun 2019.
Suasana lapangan yang ada di dekat Jembatan Sosrodilogo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro Minggu (14/7/2019) terasa panas dan sinar matahari menyengat kulit. Meski demikian, anomo masyarakat tetap tinggi dan antusias untuk menyaksikan pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) 2019 penari Thengul di Bojonegoro.
Pintu masuk menuju lapangan penuh sesak pengunjung yang ingin menyaksikan lebih dekat dan mencari tempat nyaman untuk menonton pemecahan rekor MURI 2019 Penari Thengul di area Jembatan Sosrodilogo Bojonegoro.
Sebanyak 2019 penari thengul mulai dari siswa SD, SMP hingga SMA siap pecahkan rekor di jembatan Sosrodilogo. Para penari akan turut memeriahkan 'Thengul International Folklore Festival (TIFF)' yang akan digelar mulai 14 Juli hingga tanggal 18 Juli 2019. Selain akan memecahkan Rekor Muri Sego Buwuhan juga Tari Thengul Kolosal. Chef Juna juga direncanakan akan hadir pada acara menarik tersebut.
Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro mengklaim bahwa kasus Pemukulan wali murid ke siswa yang terjadi di salah satu SMP swasta yang ada di Kota Bojonegoro telah usai. Pihaknya telah memanggil kepala SMP swasta tersebut di Disdik Bojonegoro beberapa waktu lalu.
Kasus pemukulan wali murid terhadap siswa di salah satu SMP swasta di Kota Bojonegoro, tidak akan terjadi bilamana pengawasan sekolah itu cukup ketat. Oleh karenanya, Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro, menilai kasus tersebut ada keteledoran dari pihak sekolah sehingga, masalah itu bisa terjadi.
Menjadi pelayan publik seperti saat ini, mungkin tak pernah terbersit sebelumnya di benak Camat Ngambon, Muridan. Sejak kecil, pria kelahiran Bojonegoro, 28 April 1966 asal Desa Temu, Kecamatan Kanor itu mempunyai cita-cita menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan negara dengan menjadi guru.