Pelajaran berharga diperoleh dari kebakaran Pom Mini milik Kasnur (43) warga Desa Pengkol RT.13/RW.02, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, kemarin. Sebab, aspek keamanan menjadi salah satu faktor penyebab kebakaran tersebut.
POM Mini di Desa Pengkol RT.13/RW.02 Kecamatan Tambakrejo Bojonegoro terbakar. Kebakaran terjadi pukul 11.10 Wib, Minggu (24/3/2019). Terlihat warga berusaha mendekati kebakaran untuk memadamkan api. Tapi ledekan besar terjadi, sehingga warga semburat berlarian. Pos Damkar Padangan menerima laporan pukul 11.42 Wib dan api padam pukul 12.30 Wib. Penyebab kebakaran dari percikan bunga api dari pompa pemindah jurigen ke drum POM Mini. Saat pemilik sedang memindahkan BBM dan api menjalar ke drum berisi BBM. Pemilik POM Mini, Kasnur mengalami luka bakar ringan di tangan dan kaki. Taksir kerugian sekitar Rp.35 juta, meliputi 1 unit POM Mini dan 200 liter bensin.
Bisnis Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) berukuran kecil atau Pertamini semakin menjamur di Kabupaten Bojonegoro. Bahkan Pertamini nyaris bermunculan di setiap kecamatan bahkan pedesaan. Kondisi ini secara tidak langsung membuat resah para pemodal pemilik SPBU besar.
Dinas Perdagangan (Disdang) Kabupaten Bojonegoro mengadakan operasi pasar di salah satu SPBU di Kota Ledre, Sabtu (7/4/2018). Namun ratusan tabung elpiji yang disiapkan untuk melayani masyarakat, tidak semuanya terjual.
Kelangkaan stok tabung elpiji ukuran 3 kilogram di beberapa agen dan pangkalan elpiji yang ada di Bojonegoro dibantah oleh salah satu pemilik agen, PT Putra Rajekwesi. Pasalnya pihaknya setiap harinya terus mendistribusikan elpiji melon ke sejumlah pangkalan yang menjadi mitranya.
Harga eceran tertinggi (HET) elpiji 3 kilogram (Kg) sebesar Rp16.000 per tabung. Harga tersebut merupakan patokan harga khusus elpiji di pangkalan, sedangkan di penjual eceran harga bisa terpaut Rp2.000 atau dijual dengan harga Rp18.000 bahkan ada yang sampai Rp19.000 per tabung.
Tahun ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mengusulkan tambahan kuota elpiji 3 kilogram. Tahun 2017 lalu, pemerintah mengusulkan sebanyak 9,3 juta tabung, dan hasilnya terjadi kekurangan stok sehingga meminta tambahan kuota sebanyak 300 ribu dan direalisasikan.
Terkait pembelian tabung bright gas yang masih minim, Sekretaris Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro Agus Hariana masih belum memberikan penjelasan secara rinci terkait hal tersebut. Pasalnya saat ini pendistribusian tabung elpiji belum tertata baik.
right gas atau gas elpiji pink yang baru saja diluncurkan pemerintah tampaknya belum memiliki prospek yang cukup baik. Terbukti masih minim masyarakat yang mengunakan tabung yang memiliki ukuran 5,5 kilogram tersebut.
Bupati Bojonegoro melarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk tidak menggunakan elpiji bersubsidi 3 kilogram (Kg). Hal itu disampaikan sekitar 2 tahun lalu, namun hingga saat ini peraturan itu belum jelas realisasinya.