Ratusan Warga Bojonegoro Berburu Ikan Mabuk di Sungai Bengawan Solo
Ratusan warga Kabupaten Bojonegoro berburu ikan mabuk di Sungai Bengawan Solo. Fenomena tersebut, kerap terjadi ketika memasuki musim penghujan, dan tinggi muka air (TMA) meningkat.
Ratusan warga Kabupaten Bojonegoro berburu ikan mabuk di Sungai Bengawan Solo. Fenomena tersebut, kerap terjadi ketika memasuki musim penghujan, dan tinggi muka air (TMA) meningkat.
Warga Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Solikin (55) yang diduga tenggelam saat mencari ikan mabuk atau 'pladu' di Sungai Bengawan Solo turut Desa Tanggungan, Baureno belum ditemukan.
Fenomena ikan mabuk atau pladu, dimanfaatkan masyarakat sekitar bantaran Sungai Bengawan Solo untuk mendapatkan ikan. Namun, pada saat pladu di Sungai Bengawan Solo Bojonegoro diduga 1 orang tenggelam saat mencari ikan, Rabu (3/1/2024).
Fenomena 'Pladu' kembali terjadi di Sungai Bengawan Solo. Fenomena ikan mabuk itu, membuat masyarakat di bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa itu panen ikan. Seperti yang terjadi di Desa Sarirejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro.
Warga di bantaran Bengawan Solo dari hulu sampai hilir hampir dipastikan mengenal ikan Arengan atau wilayah lain menyebut Areng-Areng.
Saat ini, masyarakat di bantaran Bengawan Solo bisa terbantu dengan keberadaan media sosial (Medsos). Terutama saat memantau perkembangan pladu, atau ikan tengah "mabuk".
Meningkatnya curah hujan dalam tiga hari terahir membuat debit air di sungai Bengawan Solo di Bojonegoro pada Senin (15/6/2021) malam meningkat tajam. Kondisi tersebut membuat air berubah menjadi keruh, akibatnya ikan yang ada di sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut mabuk.
Naiknya debit sungai Bengawan Solo di wilayah Kabupaten Bojonegoro membawa berkah tersendiri bagi warga yang tinggal di bantaran.
Pladu kali ini di Bengawan Solo lebih semarak dengan kedatangan masyarakat yang secara geografis lumayan jauh dari Bengawan Solo. Sebab, mereka kebanyakan penasaran dan ingin mencari ikan setelah membaca media sosial.