Skip to main content

Category : Tag: Ra Kartini


Kolom

Suara Kartini di Kampus: Antara Perayaan dan Realitas Pelecehan Seksual

Akhir-akhir ini kita diperlihatkan fenomena ruang pendidikan yang suram sekali. Kampus ternama menorehkan luka yang dalam untuk perempuan yang nyatanya menjadi objek pembahasan dan perkataan mereka. Inikah wajah calon-calon pemimpin bangsa masa depan? Atau calon-calon bandit negara yang masa depannya. Sungguh ironis sekali. Namun, bagaimana kampus melihat isu ini? Apakah hanya akan diam atau ada tindakan nyata yang akan dilakukan untuk menegakkan keadilan dan menyeret para pelakunya ke muka pengadilan?

RA. Kartini, Ki Hajar Dewantara dan Literasi

Raden Ajeng Kartini lahir di Mayong Jepara, pada 21 April 1879. Ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang bupati di Jepara. Kartini dikenal sebagai pribadi yang supel, menghormati orangtua, dan berjiwa sosial. Sebagai keturunan bangsawan tidak membuatnya merasa sombong dan membeda-bedakan status sosial. Kartini berteman baik dengan siapapun. Kartini juga sangat menghormati orang tua. Ada gejolak di dalam hati saat ia harus menjalani pingitan. Namun, berbekal rasa hormat dan patuhnya terhadap keluarga dan tradisi, beliau tetap mengikuti aturan tersebut. Demikian juga ketika sang ibu, Ngasirah, menolak mentah-mentah pemikiran Kartini untuk mengubah nasib perempuan. Hubungan antar ibu dan anak itu pun sempat renggang. Meskipun timbul rasa kecewa, perlahan RA Kartini kembali memperbaiki hubungan dengan sang ibu, seperti dituturkan Salsabila Nanda.

Refleksi RA. Kartini

Kartini, Kyai Sholeh Darat dan Kitab Tafsir Faidhur-Rohman

Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Peringatan yang merujuk pada lahirnya Raden Ajeng Kartini, 21 April 1879. Kartini hidup pada zaman ketika kekuatan budaya masyarakat sangat permisif memandang perempuan. Zaman ketika budaya feodalisme dan patriaki masih dijunjung tinggi di bumi Nusantara. Zaman ketika perempuan harus menanggung “double colonisation” (Kirsten Holst Petersen & Anna Rutherford, Beginning Postcolonialism, 2008). Penjajahan dari bangsa asing dan penjajahan dari bangsa sendiri yakni budaya patriaki.