23:00 . Jan Ethes Gemesin Ikut Presiden Jokowi Upacara HUT ke 74 RI   |   22:00 . Pelatihan Kepemimpinan Active Citizens di Padepokan ASA   |   21:00 . Pekerja Proyek Gas JTB Ikuti Upacara Bendera   |   20:00 . Wow....! Tari Thengul Tampil di Istana Negara   |   19:00 . Unik, Warga Klangon Dirikan Gapura Bentuk Garuda Raksasa   |   18:00 . Warga Tulungagung Kibarkan Bendera Rakasasa di Tepi Bengawan Solo   |   17:00 . Totalitas Tari Thengul dan Gemuruh Penonton   |   16:00 . Tari Thengul Tampil Memukau di Istana Negera   |   15:30 . Pertamina Tanam 10.000 Pohon dan Serahkan CSR Rp1,2 Miliar   |   15:00 . 210 Napi Tak Dapat Remisi   |   14:00 . Napi Dapat Remisi HUT Kemerdekaan RI, 4 Orang Bebas   |   13:00 . Banom NU Banjarejo Bagikan Wakaf 1.000 Masker   |   12:30 . Momen Agustusan, Mansabo Kembangkan Potensi Siswa Melalui Lomba   |   12:00 . Banyak Peserta Upacara HUT RI di Alun-alun Bojonegoro Pusing   |   11:00 . Refleksi Hari Kemerdekaan, SLB Putra Harapan Bagi Bendera   |  
Sun, 18 August 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Monday, 09 April 2018 17:00

Bojonegoro dari Dalam

Bojonegoro dari Dalam

Oleh: Ali Ibrohim

Mungkin para pembaca pernah tahu buku berjudul "Pram Dari Dalam". Buku yang berkisah kehidupan pribadi sang legenda itu ditulis langsung oleh adik kesayangan beliau, Susilo Toer. Digambarkan dalam buku tersebut kehidupan sehari-hari pengarang Novel tetralogi Pulau Buru, terutama soal sisi manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Begitu juga, kita harus bisa memandang Bojonegoro yang informasinya Matoh ini dari dalam. Agar, selain bangga dan optimis, harus ada keprihatinan serta kritik membangun atas apa yang terjadi selama ini. Khususnya yang berkaitan dengan pembangunan di zaman eksplorasi dan eksploitasi minyak gas (migas). Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa APBD Bojonegoro menjadi yang tertinggi kedua di Jawa Timur salah satu sebabnya adalah adanya sumber daya alam tidak dapat diperbarui itu.

Pertama, Bojonegoro belum punya solusi pengurangan kemiskinan yang efektif dan efisien. Banyak progam penanggulangan kemiskinan malah datang dari pusat melalui Program Keluarga Harapan (PKH) milik Kementerian Sosial dan Patra Daya dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kedua, banyak mimpi dan jualan phrase kata. Ingat dengan slogan Bojonegoro melebihi Lamongan. Desa Sehat Desa Cerdas. Masyarakat Bojonegoro Sehat, Cerdas, Produktif dan Bahagia. Beberapa slogan itu informasinya tidak benar-benar digodok dalam Peraturan Daerah yang dilengkapi dengan bentuk program serta indikator keberhasilan menuju slogan/phrase mimpi-mimpi. Jika benar demikian, iti tidak ubahnya iklan sabun mandi atau sabun cuci. Miris sekali.

Ketiga, pembangunan berkelanjutan di bidang penyadaran masyarakat masih kurang. Open Data and Open Goverment yang dibanjiri penghargaan adalah bentuk proses penyadaran publik. Sayangnya tak dibarengi dengan penyiapan sumber daya manusia yang memadai untuk menanggapi serta mengawal maksut dari program tersebut. Orang di desa jika mau disurvei satu persatu, akan lebih banyak yang tak paham dan tak mengurusi Open Government.

Aslinya masih banyak lagi kekurangan di Bojonegoro. Hal tersebut sebaiknya tak dijadikan alat politik untuk menjatuhkan kelompok tertentu. Begitu juga keberhasilan yang dicapai tak terlalu diakui sendiri sebagai kinerja satu orang, dua orang atau satu kelompok. Toh, yang bayar pajak orang banyak. Termasuk rakyat (buruh, tani dan kelompok miskin lainnya).

Lalu apa yang bisa dikerjakan setelah melihat beberapa fakta tersebut. Dunia pergerakan mahasiswa maupun kaum intelektual organik masih tersandera oleh perbedaan bendera. Bahkan, mereka sering terpecah belah oleh sudut pandang, cara pandang dan jarak pandang yang tak sama. Padahal, tujuan awalnya sama. Membawa kesejahteraan yang berkelanjutan pada masyarakat dengan pemberdayaan serta partisipasi.

Tawaran saja. Pemerintah Kabupaten sebagai pemimpin pembangunan harus mampu mengordinir seluruh kekuatan yang ada dengan mempedomani asas demokrasi, ilmiah dan berpihak pada rakyat. Siapakah rakyat? Buruh, tani, rakyat miskin dan kelompok rentan lainnya. Bukan pemodal. Soal demokrasi dan ilmiah tidak perlu dijelaskan. Sebab, orang di pemerintahan sudah banyak yang sarjana dan semestinya paham betul dengan dua kata tersebut.

Pada intinya, pembangunan terpadu yang berkelanjutan dan merata adalah kunci. Bukan hanya soal dana abadi. Pendidikan politik, kebudayaan dan penguatan ekonomi rakyat adalah lebih penting. Mungkin juga pemerintah perlu memperhatikan aspek filosofis untuk membedakan material, subtansial dan esensial dalam pembangunan.

*Guru MDH di MA Sabilul Muttaqin Margoagung dan petani desa.

Tag : kolom, bojonegoro

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Wednesday, 07 August 2019 15:00

    26 Peserta UKW PWI Jatim Dinyatakan Kompeten

    26 Peserta UKW PWI Jatim Dinyatakan Kompeten Sebanyak 29 wartawan telah bekerja keras melewati Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) angkatan ke-27 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, yang bekerjasama dengan SKK Migas dan KKKS. Selama dua hari 6-7...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Tuesday, 13 August 2019 08:00

    Teladani Auliya, Jemaah Tahli Ziarah dan Wisata Religi

    Teladani  Auliya, Jemaah Tahli Ziarah dan Wisata Religi Demi memperkuat spiritual keagamaan dan meneladani perjuangan para waliyullah, sekaligus menyambut Kemerdekaan RI-47, jemaah tahlil Dukuh Ngantulan, RT.19/RW.03, Desa Bulu, Kecamatan Balen, mengadakan ziarah ke makam auliya. Selain itu dalam...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat