12:00 . Bupati Kunjungi Exit Tol Nganjuk ini Tujuannya   |   11:00 . Bak Moto GP, Ibu-Ibu Ikut Balap Traktor di Desa Tejo   |   10:00 . Mancing Merdeka, Berebut Ikan Dengan Bobot Terberat   |   08:00 . Ratusan Pemancing Turut Mancing Merdeka   |   07:00 . Apakah Asma Menular?   |   18:00 . Sutrac Bantu Droping Air Bersih di Tlogohaji   |   17:00 . Besok, Desa Tejo Kembali Gelar Lomba Balap Traktor   |   15:00 . MI Islamiyah Sarangan Sabet Juara Satu di Pesta Siaga Kwaran Kanor   |   14:00 . Pengusaha NU Bojonegoro Berkumpul, Mau Apa?   |   13:00 . 3 Perusahaan Tetapkan Harga Pembelian Tembakau ke Petani   |   12:00 . Pesta Siaga Kwartir Kecamatan Kanor Kembali Digelar   |   11:00 . Bupati Bojonegoro Menggiatkan Olahraga Tradisional   |   10:00 . Santri Se-Bojonegoro Berebut Tiket Pospeda Provinsi Jatim   |   09:00 . Diduga Akibat Puntung Rokok, Rumpun Bambu di Campurrejo Terbakar   |   08:00 . Wadah Bagi Insan Kreatif, Bojonegoro Creative HUB Diresmikan   |  
Sun, 15 September 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Tuesday, 25 September 2018 18:00

Catatan dari New York, USA (1)

Dampingi Bu Risma Bicara Terorisme di PBB

Dampingi Bu Risma Bicara Terorisme di PBB

Oleh: Didik Farkhan Alisyahdi SH, MH*

blokBojonegoro.com - Langka. Jarang terjadi seorang Walikota diberi "panggung" bicara di salah satu forum PBB di New York. Kecuali Walikota Surabaya Bu Risma.

Ya, Walikota perempuan pertama di Surabaya itu pada Senin (24/9/2018) menjadi salah satu pembicara utama di Global Counter Terrorism Forum (GCTF).

Acara GCTF itu digelar masih rangkaian kegiatan HUT PBB ke-73. GCTF diikuti 29 negara dan Uni Eropa. Acara diadakan di Roosevelt Hotel, New York.

Dalam forum itu Bu Risma didapuk menjadi pembicara pertama. Tentu Bu Risma berbicara setelah setelah acara dibuka Mr. Ismail Chekkori, Direktur of Global Issues, Ministry of Foreign and International Cooperation, GCTF.

Setelah Bu Risma berturut-turut tampil narasumber beberapa tokoh Organisasi dari beberapa negara. Mulai Ms. Gulmina Bilal Ahmad, Pakistan, lalu Mr. Mohammad Al Zawahreh, Jordan, Mr. Malcolm Haddon, Australia, Mr. Dilwar Hussain, Inggris dan Jaksa Distrik New York, USA Mr. Richard M Tucker.

Penampilan Bu Risma di forum itu menarik perhatian peserta. Karena Bu Risma menceritakan pengalaman nyata kejadian teror di Surabaya. Bagaimana semua pihak di Surabaya bahu membahu menangani pasca serangan teror itu. Counter terrorism nyata.

Penanganan di Surabaya diakui dunia sangat cepat. Termasuk cara memulihkan rasa trauma dan penanganan terhadap korban. Disampaikan juga oleh Bu Risma tentang upaya deradikalisasi terhadap anak pelaku yang selamat.

Saya turut menyaksikan langsung peristiwa langka  itu. Kebetulan Saya ikut serta menjadi salah satu delegasi Pemerintah Kota Surabaya ke New York.

Saya sendiri kaget diundang menemani Bu Risma. Memang saat saya masih menjabat Kajari Surabaya, 2015-2017,  dalam beberapa kegiatan Forpimda pernah bercerita kepada Bu Risma bila saya pernah menyidangkan perkara terorisme.

Saya mengatakan kepada Bu Risma menangani kasus terorisme itu bagi Jaksa merupakan tugas khusus. "Butuh tenaga dan pikiran serta perhatian khusus," kata saya bercerita pengalaman saya saat menangani kasus kerusuhan Poso, Sulawesi Tengah 2005.

Saya masih ingat betul saat itu menjabat Kasi Pra Penuntutan Pidana Umum Kejati DKI Jakarta. Karena alasan keamanan semua kasus pidana yang berbau SARA dan teroris di Poso sidangnya  dipindah ke Jakarta. 

Salah satu perkara yang saya tangani adalah perkara atas nama terdakwa Basri dkk. Saat itu terdakwa dijerat UU teroris dan pasal pembunuhan berencana (KUHP).

Saat itu penyidik yang menangani langsung dibawah komando Pak Tito Karnavian dan  Pak Idham Aziz (sekarang Kapolda Metro Jaya Jakarta). Saat itu sama-sama masih pangkat Kombes.

Pak Tito dan Pak Idham Aziz sejak dulu intens dan kompak turun langsung. Selalu berkoordinasi dengan Jaksa. Rancak datang ke Kejati DKI. Ke ruangan saya. Tentu untuk kelengkapan berkas perkara.

Koordinasi dengan penyidik itu tentu sangat membantu Jaksa "bertempur" di persidangan. Apalagi memang selama sidang perkara ini banyak kendala. Terutama sikap terdakwa yang terus berontak. Tidak mau tempat sidangnya dipindah.

Kendala lain susahnya mendatangkan para saksi dan barang bukti dari Poso. Sampai jaksa minta tolong penyidik mendatangkan angkot tua, tempat korban dieksekusi para terdakwa.

Setiap sidang, setelah ketua Majelis Hakim membuka persidangan semua terdakwa teriak-teriak tidak mau disidangkan. Bahkan beberapa kali berdiri naik kursi terdakwa. "Saya hanya mau disidang di Poso. Sidang di Jakarta ini tidak sah,"teriak mereka.

Agar sidang tetap berjalan, Majelis Hakim karena tidak mampu menenangkan terdakwa, akhirnya membuat keputusan "mengusir"  semua terdakwa dari ruang sidang. Praktis akhirnya sidang sering tanpa terdakwa.

Jadi setiap sidang terdakwa selalu dibawa ke ruang sidang. Bila berontak, lalu dibawa ke ruang tahanan di Pengadilan. Begitu terus berulang-ulang dihampir tahapan sidang.

Bahkan saat sesi pemeriksaan terdakwa pun tetap terdakwa berontak tidak mau di sidangkan di Jakarta. Meski berjalan alot,  semua terdakwa terbukti melakukan pidana dan dihukum oleh Majelis Hakim PN Jakarta Pusat.

Eh, kok saya terlalu panjang cerita pengalaman menangani kasus Poso tahun 2005. Ok deh, kita kembali cerita ke acara Bu Risma bicara di forum GCTF itu.

Saat tampil sebagai narasumber itu Bu Risma pakai Batik. Sementara narasumber lainnya pakai jas resmi.

Saya tahu Bu Risma selalu konsisten pakai Batik. Terutama saat tampil di panggung dunia internasional. Saya pun menyesuaikan. Pakai Batik.

Tak lupa Bu Risma juga mengenalkan Batik kepada dunia. Dengan membawa souvenir batik, Bu Risma memberikan kepada para narasumber dan dua panitia setelah acara sesion 1 selesai.

Saya lihat setelah menerima batik mereka girang. Kelihatan dari ekspresi wajahnya. Bahkan Mr. Mohammad al Zawahreh dari Jordan minta yang warna kuning. "Yellow..Yellow,"katanya minta tukar sambil milih-milih sendiri ditas.

Tidak ada rasa sungkan memang Mr Zawahreh. Dia langsung milih-milih sendiri. Mencari yang warna kuning. Rewel juga ini orang, pikir saya.

Namun setelah lihat warna yang dia terima saya baru menyadari. Karena yang diterima warnanya ungu. Mungkin dia tidak sreg warna ungu. Mungkin dia percaya warna ungu warna janda he he he. [Kang DF]

*Aspidsus Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, sebelumnya menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya

df2

Tag : didik farhan, catatan dari new york, mas didik, kang df

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Wednesday, 07 August 2019 15:00

    26 Peserta UKW PWI Jatim Dinyatakan Kompeten

    26 Peserta UKW PWI Jatim Dinyatakan Kompeten Sebanyak 29 wartawan telah bekerja keras melewati Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) angkatan ke-27 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, yang bekerjasama dengan SKK Migas dan KKKS. Selama dua hari 6-7...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Sunday, 08 September 2019 15:00

    Semarak HUT, 17 Perlombaan Satukan Warga Semanding

    Semarak HUT, 17 Perlombaan Satukan Warga Semanding Peringatan HUT Republik Indonesia merupakan suatu kegiatan yang rutin dilaksanakan seluruh masyarakat Indonesia, sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan Republik Indonesia yang diperjuangkan oleh pahlawan terdahulu....

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat