18:00 . Berbaur dengan Warga, Pekerja Lapangan Banyu Urip Menjadi Relawan Kurban   |   11:00 . Jemaah Haji KBIHU ATTANWIR Tuntas Lontar Jumrah   |   10:00 . Cerita Jagal Kurban, Sehari Bisa 4 Tempat Hingga Sapi Pernah Kabur   |   08:00 . Idul Adha, Pengepul Kulit Hewan Kurban di Bojonegoro Kebanjiran   |   20:00 . Cuaca Ekstrim, Jemaah Lontar Jumrah Sore Hari Saja   |   17:00 . Hari Kedua di Mina, Jemaah Lontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah   |   15:00 . Idul Adha, Jasa Bakar Kepala Sapi dan Kambing Diserbu Pelanggan   |   12:00 . Persibo Bojonegoro Bakal Lawan Persebaya ???   |   11:00 . DPC PDI Perjuangan Bojonegoro Serahkan Hewan Qurban di 2 Masjid   |   10:00 . Dahului Pemerintah, Ratusan Warga Bojonegoro Ini Sudah Laksanakan Sholat Idul Adha   |   09:00 . Terapkan Peternakan dan kehutanan Sistem Agroforestri, Sulistyo Raih Juara Pertama Pemuda Pelopor Jawa Timur Bidang Pangan   |   07:00 . Ketua BPC HIPMI Bojonegoro Terpilih, Siap Perkuat Peran, Kolaborasi dan Pengembangan Ekraf Wirausaha Muda   |   20:00 . Muhammadiyah Gelar Salat Idul Adha Senin 17 Juni   |   19:00 . Hujan Deras di Bojonegoro Sebabkan Atap Rumah dan Pepohonan Roboh   |   17:00 . Lancar, Mobilisasi Jemaah di Muzdalifah Selesai   |  
Wed, 19 June 2024
Jl. Desa Sambiroto, Kec. Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Petani Bojonegoro, Dari Subsistensi Menuju Reinvestasi dan Ekspansi

blokbojonegoro.com | Tuesday, 10 July 2018 15:00

Petani Bojonegoro, Dari Subsistensi Menuju Reinvestasi dan Ekspansi

Oleh: Ali Ibrohim*

Bojonegoro lumbung pangan dan energi. Begitulah kalimat yang sempat populer beberapa tahun lalu. Bukan soal slogan saja, Bojonegoro memang punya banyak sawah ladang, angkatan kerja petani dan juga produk pertanian. Mulai dari padi, bawang merah, cabai, tomat hingga tembakau. Soal kesejahteraan petani, ada yang di atas rata-rata dan banyak juga yang masih di bawah garis kemiskinan. Ini bukan sekedar permasalahan kebijakan dan program pemerintah. Namun, juga paradigma berpikir para petani Bojonegoro serta sarana dan prasarana untuk menuju yang lebih baik.

Jadi, dalam pengistilahan akademis, petani Bojonegoro mayoritas adalah "peasent" yang hidup bertani dengan gaya Subsistensi. Artinya, mereka lebih banyak bertani untuk mempertahankan hidup, menanam untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan sulit diajak berkembang ke arah yang lebih besar. Entah karena sumber daya manusia atau memang karena kondisi nonteknis lainnya. Bahkan, tuan-tuan tanah di kawasan pedesaan banyak yang menyekolahkan anak cucu mereka di jurusan non pertanian. Para anak tuan tanah ini diarahkan untuk menjadi buruh, pegawai dan anak buah bagi orang lain. Misalnya saja menjadi polisi, tentara dan kerja kedinasan lainnya. Dimana hal tersebut dianggap lebih layak dan aman dengan pendapatan pasti perbulan ditambah "ceperan".

Kondisi ini berbeda dengan petani-petani di negara-negara maju yang hari ini sudah mulai berpikir untuk reinvestasi dan ekspansi. Gaya petani semacam ini biasa disebut dalam Bahasa Inggris sebagai Farmer.

Perbedaan kelas antara petani ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Pertama adalah tradisi dan kebudayaan masyarakat. Hal ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan pendidikan. Petani desa, baik kawasan hutan atau Bengawan Solo adalah petani yang berpikiran tanam, rawat, panen. Mereka akan menerima inovasi pertanian asal sudah jelas manfaatnya. Jika inovasi tersebut tidak dapat memberi keuntungan, maka sudah pasti ditolak. Sehingga, secara kebudayaan masih lumayan tertutup.

Kedua, Ideologi yang salah tangkap dan penerapan. Utility atau kepasrahan adalah salah satu ajaran yang banyak dipegang oleh para petani di desa. Para petani tidak mau berpikir lebih jauh dan dalam untuk mengatasi masalah-masalah pertanian. Mereka lebih banyak menggantungkan hal tersebut pada pemerintah yang sudah dibayar dengan pajak.

Ketiga, pemerintah daerah yang masih memakai isu pertanian sebagai komoditas kampanye politik dan pencitraan. Pertanian belum benar-benar dibangun secara sustainable (berkelanjutan) dan berwawasan lingkungan. Sehingga, para petani juga mengikuti alur yang diprogramkan oleh pemerintah jika ada. Andaikan tidak ada, mereka akan melaksanakan pertanian secara apa adanya.

Terakhir, seperti yang disampaikan oleh Sujiwo Tedjo dalam salah satu penuturan "Saat aku sedang banyak bicara itu seperti latihan silat. Dan aksi di lapangan itu adalah mengeroyok maling". Artinya, hal-hal teoritis adalah kuat saat di arena latihan. Namun, saat sudah terjun di lapangan, teori hanya teori.

Sudah saatnya, petani-petani Bojonegoro kini harus bangkit melawan keadaan. Jika sebelumnya hanya menjadi produsen untuk diri sendiri, kini harus dimulai reinvestasi dan ekspansi. Menginvestasikan hasil panen pada hal-hal yang bisa diambil manfaat di kemudian hari. Juga jika perlu dilakukan ekspansi pada tanah-tanah yang lebih luas. Pemerintah juga harus menyiapkan lumbung-lumbung dan gudang yang siap menampung hasil produksi para petani. Agar harga yang didapatkan petani juga layak berimbang dengan pengeluarannya.

*) Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Tag : petani, bojonegoro, opini, ali



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Monday, 19 February 2024 20:00

    PEPC JTB Kunjungi Kantor Baru BMG

    PEPC JTB Kunjungi Kantor Baru BMG Perwakilan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12, Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina mengunjungi kantor redaksi blokBojonegoro.com (Blok Media Group/BMG), di BMG CoWorking Space, Jalan Semanding-Sambiroto, Desa Sambiroto, Kecamatan...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Sunday, 09 June 2024 15:00

    Santri Al Manshur Bulu, Dilatih Praktik Menulis Berita

    Santri Al Manshur Bulu, Dilatih Praktik Menulis Berita Untuk mempermudah kecakapan menulis berita, mahasiswa Asistensi Mengajar (AM) Prodi PAI, Fakultas Tarbiyah, Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri mengadakan rencana tindakan lanjut (RTL) dengan mereview hasil praktik menulis berita di...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat