Oleh: Amin Nurhakim
Madzi adalah cairan putih, bening, lengket yang keluar dari kemaluan ketika dalam kondisi syahwat, tidak memuncrat dan setelah keluar pun tidak menimbulkan rasa lemas. Berbeda dengan mani, setelah keluar, ia akan menimbulkan rasa lemas.
Madzi bisa datang kapan saja, biasanya jika pasangan suami istri sedang bermesraan. Namun bagaimana hukumnya jika air madzi–tanpa mani—keluar ketika sedang puasa?
Syekh Hasan Hitou mengatakan dalam kitabnya, Fiqh ash-Shiyam:
وَلَوْ قبَّلَ رَجÙÙ„ÙŒ امْرَأَتَه٠وَهÙÙˆÙŽ صَائÙمٌ، Ùَتَلَذَّذَ وَأَمْذَى، Ø¥Ùلَّا أَنَّه٠لَمْ يَنْزÙلْ، ÙØ§Ù„َّذÙÙŠ ذَهَبَ Ø¥Ùلَيْه٠الْجÙمْهÙوْر٠أَنَّه٠لَايÙÙÙ’Ø·ÙØ±ÙØŒ ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ قَوْل٠الشَّاÙÙØ¹ÙÙŠÙŽØ©ÙØŒ بÙلَا Ø®ÙلَاÙ٠عÙنْدَهÙمْ، ÙˆÙŽØÙŽÙƒÙŽØ§Ù‡Ù ابْن٠الْمÙÙ†Ù’Ø°ÙØ±Ù عَن٠الْØÙŽØ³ÙŽÙ†Ù الْبَصْرÙÙŠÙ‘ÙØŒ وَالشَّعْبÙÙŠØŒ وَالْأَوْزَاعÙÙŠØŒ وَأَبÙÙŠ ØÙŽÙ†ÙيْÙَةَ، وَأَبÙÙŠ ثور، قَالَ: وَبÙه٠أقÙوْلÙ
“Jika seorang suami mencium istrinya dan dia sedang berpuasa, kemudian merasa nikmat dan keluar madzi, namun tidak mengeluarkan mani, maka jumhur berpendapat puasanya tidak batal, dan itu adalah pendapat ulama Syafi’iyyah tanpa ada perbedaan di antara mereka. Ibnu al-Mundzir menceritakan pendapat tadi (orang yang keluar madzi tidak batal puasanya), dari Hasan al-Bashri, asy-Sya’bi, al-Awza’i, Abu Hanifah, Abu Tsaur, beliau (Ibnu al-Mundzir) berkata: ‘Aku berpendapat demikian’.” (Syekh Hasan Hitou, Fiqh ash-Shiyam, Dar el Basyair al-Islamiyyah, cetakan pertama tahun 1988, halaman 68)
Para ulama yang berpendapat seperti di atas, berdalil bahwa madzi keluar tidak melalui inzal (proses keluarnya mani), sedangkan madzi yang keluar itu mirip seperti kencing atau sesuatu lain yang keluar, dan tidak mewajibkan mandi.
Dari pendapat ini kita dapat mengetahui bahwa keluarnya madzi menurut jumhur ulama itu tidak membatalkan puasa.
Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa madzi yang keluar karena berciuman itu membatalkan puasa, pendapat ini dikeluarkan oleh imam Malik dan Imam Ahmad.
وَذَهَبَ الْإÙمَامَان مَالÙÙƒ ÙˆÙŽØ£ÙŽØÙ’مد Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙˆÙ„Ù Ø¨ÙØ£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽÙ‡Ù ÙŠÙÙÙ’Ø·ÙØ±Ù Ø¨ÙØ®ÙرÙوْج٠الْمَذÙÙŠ Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ§ØªÙØ¬Ù Ø¹ÙŽÙ†Ù Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ¨Ù’Ù„ÙŽØ©Ù
“Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat bahwa madzi yang keluar setelah berciuman itu membatalkan puasa.” (Syekh Hasan Hitou, Fiqh ash-Shiyam, Dar el Basyair al-Islamiyyah, cetakan pertama tahun 1988, halaman 68)
Demikian penjelasan status hukum puasa orang yang keluar madzi. Kesimpulannya, menurut jumhur (mayoritas) ulama, keluarnya madzi tidak membatalkan karena ia seperti keluarnya air kencing, tidak ada proses inzal, berbeda dengan mani.
Meski begitu, hendaknya kita selalu berdoa agar puasa kita selalu dijaga dari perbuatan yang menyebabkan batalnya pahala puasa kita. Selama menunaikan puasa, umat Islam diperintahkan tak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga dusta, ghibah, adu domba, serta mengumbar syahwat. Semoga kita dijadikan orang yang beruntung di Ramadhan tahun ini, dan seterusnya. Amin.
*Penulis keislaman www.nu.or.id
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published