Jl. Desa Sambiroto, Kec. Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Tanda-tanda Anak Menjadi Korban 'Bully'

blokbojonegoro.com | Wednesday, 25 July 2018 07:00

Tanda-tanda Anak Menjadi Korban 'Bully'

Reporter: -

blokBojonegoro.com - Perundungan alias bullying kini menjadi momok bagi anak di usia sekolah. Tak mudah juga mengetahui apakah anak kita menjadi korban atau tidak, terutama jika anak memang jarang berkomunikasi terbuka.

Beberapa tanda bisa terlihat dengan jelas, misalnya anak yang terlihat lebih murung dan malas sekolah.

Namun, tanda-tanda lainnya tak selalu mudah diidentifikasi. Apa saja tanda-tanda anak menjadi korban bullying?

1. Enggan pergi ke sekolah

Jika biasanya anak selalu senang ke sekolah lalu dalam beberapa hari belakangan susah bangun pagi dan menolak ke sekolah, itu bisa menjadi pertanda ada hal yang tidak beres.

Untuk anak yang lebih kecil, perhatikan alasan yang digunakannya untuk tidak pergi sekolah. Misalnya sakit atau tak enak badan.

Sementara bagi anak remaja, pantaulah melalui gurunya untuk memonitor kehadiran anak di kelas. Anak usia remaja cenderung lebih mungkin melewatkan kelas bersama dengan teman-temannya.

Pakar perundungan dan konsultan pencegahan di Houston, Donna Clark-Love menyarankan orangtua tetap memantau perilaku anak di akhir pekan.

Senin adalah hari paling umum ketika anak ingin menghindari sekolah.

"Anak cenderung merasa lebih aman di rumah pada akhir pekan dan pikiran untuk kembali menghadapi hari Senin sulit mereka hadapi," kata Donna.

2. Rutin sakit kepala dan perut

Sakit kepala dan sakit perut menjadi gejala fisik dari stres dan kecemasan yang diasosiasikan dengan bullying. Anak juga mudah berpura-pura merasa sakit kepala atau perut sebagai alasan untuk tidak pergi ke sekolah atau kegiatan lainnya.

Jika anak secara rutin mengeluhkan gejala tersebut secara rutin, ajak ia berdiskusi.

"Cobalah komunikasikan dengan anak dan tanyakan mengapa mereka cukup sering merasa sakit. Buatlah percakapan tidak bersifat konfrontatif sehingga anak mau mendiskusikan masalahnya," kata Bailey Lindgren dari Parent Advocacy Coalition for Educational Rights’ (PACER), pusat pencegahan bullying.

3. Perubahan pergaulan

Perubahan pergaulan bisa menjadi indikasi lainnya, terutama pada remaja wanita.

Gejalanya, anak menolak untuk bermain dengan teman-teman yang biasa main bersama. Ini bisa menjadi tanda bullying dalam kelompok pertemanan.

Kita sering menemukan gadis-gadis yang "jahat" dalam kelompok pertemanan. Terkadang hal ini sulit diidentifikasi oleh anak sebagai bullying.

Orangtua bisa tetap pura-pura tidak tahu, tetapi tetap berhubungan dengan orangtua temannya. Sehingga orangtua akan menyadari ketika anak tersebut menjauh dari kelompoknya.

4. Susah tidur

Jika seorang anak gugup atau cemas tentang apa yang akan terjadi di sekolah keesokan harinya, ia akan cenderung sulit tidur.

Hal ini bisa juga dilihat dari sikap anak yang tampak lelah dan tidak seperti biasanya pada waktu sarapan. Ini bisa menjadi tanda anak memiliki masalah tidur di malam hari.

Kelelahan juga bisa muncul dengan cara lain, misalnya kurang fokus. Ini bisa mengindikasikan banyak hal, sebagai masalah tidur hingga adanya bullying dan stres.

5. Reaksi emosional intensif

Jika anak menunjukkan reaksi emosional intensif saat diajak bicara tentang sekolah atau kegiatan lain yang ia ikuti, ini juga bisa menjadi tanda bahwa anak menyimpan kecemasan terhadap kegiatan-kegiatan tersebut.

Clark-Love mengatakan, pada anak yang lebih muda reaksi tersebut cenderung fokus pada sekolah. Sementara untuk anak usia remaja mereka akan lebih emosional soal malam minggu.

6. Enggan berinteraksi dengan keluarga

Lindgren mengatakan, jika seorang anak tidak secerewet biasanya atau mereka langsung pergi ke kamar setelah pulang sekolah, itu bisa menjadi indikasi ada sesuatu yang tidak benar.

Bereaksi berlebihan terhadap saudaranya jika bisa menjadi tanda bullying. Dalam beberapa kasus, anak yang menjadi korban bullying sering melimpahkan cap "korban" tersebut kepada saudaranya sehingga menjadi bersikap lebih reaktif.

7. Obsesi pada gawai

Jika bullying tersebut terjadi di dunia maya, orangtua mungkin akan menyadari beberapa hal. Misalnya, anak yang terlalu obsesi dengan gawai.

Jika hal ini terjadi, anak akan merasa gelisah ketika penggunaan gawai mereka dibatasi.

Lindgren merekomendasikan agar orangtua memberi aturan tertentu untuk menbatasi penggunaan gawai oleh anak.

Ia mengatakan, anak akan cenderung menolak untuk memberitahu orang dewasa tentang adanya cyberbullying karena takut gawainya diambil.

"Anda sebagai orangtua perlu memberi pengertian, gawai mereka tak akan diambil dan Anda sebagai orangtua justru ingin membantu mereka menyelesaikan masalah," kata Lindgren.

8. Pakaian yang robek dan tanda fisik

Pakaian atau benda yang robek, rusak atau dicuri tanpa alasan yang jelas, bersamaan dengan tanda fisik lainnya seperti memar atau luka, adalah tanda lainnya dari bullying di tempat bermain.

Ketika orangtua menanyakan tentang hal itu, anak cenderung tidak bisa dan tidak mau menjelaskan.

Sekali lagi, berilah pertanyaan terbuka. Seperti, apa yang mereka lakukan di waktu istirahat dan bagaimana perasaannya ketika hal itu terjadi.

9. Membangun mental "korban"

Anak korban bullying cenderung kekurangan skill atau ketegasan untuk berdiri sendiri, dan seringkali menunjukkan mental sebagai "korban".

Misalnya, dengan berjalan menunduk dan tidak berani mengutarakan pendapat mereka. Anak seperti ini juga rentan di-bully sterus menerus.

Jika hal ini terjadi, cobalah mengenalkan anak dengan aktivitas yang tidak mengharuskannya berkompetisi dengan anak lain.

Kompetisi yang ada hanya dengan dirinya sendiri. Dengan begitu, anak akan lebih mudah membangun kepercayaan diri tanpa tekanan dari anak lain.

*Sumbe: kompas.com

Tag : pendidikan, kesehatan



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.



Berita Terkini