22:00 . Geger! Warga Bojonegoro Temukan Mayat Wanita di Persawahan   |   18:00 . Lebaran 2024, BI Siapkan Rp 197,6 Triliun Uang Tunai   |   17:00 . Dokter Muda di Bojonegoro Meninggal Usai Kecelakaan dengan Pikap   |   15:00 . BUMDes Mekar Bimo Ngunut Suplai Air Bersih Bagi Ratusan KK   |   13:00 . Kurang Konsentrasi, Tiga Truk Terlibat Laka Beruntun di Bojonegoro   |   19:00 . Kolaborasi Antar Prodi, HMP BSA dan HMP PBI Adakan Kemah Bahasa   |   18:00 . Puluhan Santri Studi di ICW dan Kunjungi D'Konco Cafe Bojonegoro   |   17:00 . Polisi Lakukan Rekonstruksi Ulang Meninggalnya Pelajar di Bojonegoro   |   16:00 . 316 Madrasah Ditargetkan Akreditasi, Paling Banyak RA   |   15:00 . Ribuan Warga Bojonegoro Serbu Beras Murah SPHP   |   14:00 . Denny Caknan Batal Konser di Bojonegoro, Gegara Kasus Pengeroyokan?   |   13:00 . Mahasiswi PAI UNUGIRI Bojonegoro Juara Nyanyi Bahasa Jawa   |   11:00 . Bhakti Masyarakat Mahasiswa FKMB UIN Sunan Ampel Surabaya   |   09:00 . Ada Polisi, Balap Liar Ngumpet di Kuburan   |   19:00 . Akademi Bisnis Praktis Bongkar Rahasia Tambah Pemasukan Bulan Ramadan   |  
Tue, 27 February 2024
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Anak Terlalu Sibuk Les Malah Tidak Harmonis Dengan Keluarga

blokbojonegoro.com | Monday, 23 July 2018 07:00

Anak Terlalu Sibuk Les Malah Tidak Harmonis Dengan Keluarga

Reporter: -

blokBojonegoro.com - Setiap orangtua tentu akan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.

Beberapa bahkan sampai mendaftarkan anak-anak mereka mengikuti berbagai kegiatan, baik ekskul, les bimbel, klub olahraga, dan kursus privat seperti les musik atau kursus bahasa asing.

Semua ini dilakukan supaya anak mereka lebih berprestasi dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk sukses di kemudian hari.

Meski begitu, ada baiknya kita pertimbangkan masak-masak sebelum mendaftarkan anak ikut banyak kegiatan tambahan di luar waktu sekolahnya.

Ketika anak terlalu disibukkan dengan aktivitas di luar rumah, ia akan semakin jauh dengan keluarganya sehingga dapat berdampak buruk pada keharmonisan keluarga.

Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sepulang sekolah memang banyak manfaatnya. Selain menambah wawasan dan mengasah minat serta bakatnya, beragam kegiatan ini bisa membantunya memperluas lingkup pertemanan dengan orang-orang baru.

Meski begitu, jangan sampai anak malah merasa sangat kewalahan dengan aktivitasnya yang segudang sehingga menomorsekiankan keluarganya.

D. Sharon Wheeler selaku peneliti studi yang dipublikasikan dalam Taylor and Francis Journal Sport, Education, and Society menjelaskan bahwa risiko kebanyakan ikut ekskul akan lebih berat daripada manfaatnya jika terlalu dipaksakan.

Penelitian tersebut dilakukan dengan cara mewawancarai 50 keluarga dari 12 sekolah dasar yang ada di Inggris bagian utara dan barat.

Sekitar 88 persen dari seluruh anak mengikuti kegiatan di luar jam sekolah hingga 4-5 kali dalam seminggu, sementara 58 persennya mengikuti lebih dari satu ekskul yang mulai pada malam hari.

 Wheeler beserta timnya menemukan bahwa anak-anak usia SD yang mengikuti ekskul dan kegiatan tambahan di luar sekolah hingga 4-5 kali dalam seminggu, bahkan hingga sampai larut malam, menjadi mudah kelelahan dan tidak fokus, sehingga jarang menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.

Suniya Luthar, seorang profesor psikologi di Columbia, berpedapat bahwa jumlah kegiatan ekskul yang diikuti anak bukanlah satu-satunya sumber masalah.

Masalahnya mulai muncul ketika orangtua mengawasi seluruh aktivitas anak secara berlebihan dan menempatkan ekspektasi yang amat tinggi bagi mereka — “Pokoknya kamu harus dapat hasil yang bagus!” atau “Dalam 3 bulan, kamu harus sudah bisa kuasai teknik (olahraga/bermusik/dst) yang baru!” dan seterusnya.

Tekanan berat dan ekspektasi tinggi agar selalu sukses dalam bidang akademis dan non-akademis berpotensi membahayakan perkembangan dan kesejahteraan anak.

Lama-lama, ini juga menjauhkan anak dari interaksi dengan anggota keluarga terdekatnya karena merasa diteror dan diperlakukan bagai robot.

Dr. Luthar dan Polly Young-Eisendrath, dua orang psikolog klinis sekaligus penulis buku The Self-Esteem Trap, setuju bahwa terlalu banyak mengharuskan si kecil melakukan berbagai kegiatan sepulang sekolah dapat memberi masalah pada kehidupannya.

Pasalnya, saat usia anak belum menginjak 11-12 tahun, anak sedang belajar untuk mulai mengembangkan dirinya. Nah, mengikuti kegiatan yang terlalu banyak hingga diluar batas kemampuannya dapat berisiko untuk mengganggu perkembangan alami anak.

Ibarat sebuah perangkat elektronik yang terlalu dibebani pekerjaan yang berat, lambat laun perangkat itu akan rusak. Begitu pula dengan kondisi si kecil.

Sebenarnya sah-sah saja mendaftarkan anak ikut berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler untuk mengasahnya menjadi pribadi yang lebih unggul.

Yang lebih perlu ortu perhatikan adalah di mana batas wajarnya hingga tidak sampai merugikan kesehatan anak, juga hubungannya dengan anggota keluarga lainnya.

Jangan sampai anak terlalu sibuk dan kerepotan menghadiri les sana-sini sampai tidak lagi mau peduli dengan kondisi keluarganya sendiri.

Sebelum memutuskan les ini-itu untuk anak, baiknya selaraskan dulu keinginan kita dengan apa yang anak inginkan atau minati.

Jika anak tidak berminat untuk les piano, tapi Anda menganggapnya penting, jangan paksakan sehingga bisa menjadi bibit percekcokan di kemudian hari.

Dilansir dari laman The New York Times, Dr. Michael Thompson, seorang psikolog klinis dan penulis buku The Pressured Child, menyarankan kita sebagai orangtua untuk ikuti saja kemauan dan minat anak agar ia tidak merasa terpaksa dan terbebani ketika menjalaninya.

Selain itu, usakan juga untuk selalu meluangkan dan menjadwalkan waktu berkumpul keluarga yang berkualitas, setidaknya 2-3 hari sekali. Jangan sampai, si kecil merasa jauh dengan keluarganya akibat terlalu sibuk dengan kegiatan yang ia tekuni.

Kita bisa melakukannya di luar rumah dengan pergi ke taman bermain ataupun di rumah dengan hanya sekadar menonton film, memasak bersama, hingga curhat dengan satu sama lain.



Sumber:  https://lifestyle.kompas.com/read/2018/07/23/114052620/
anak-terlalu-sibuk-les-malah-tidak-harmonis-dengan-keluarga.

Tag : anak, bimbingan



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Monday, 19 February 2024 20:00

    PEPC JTB Kunjungi Kantor Baru BMG

    PEPC JTB Kunjungi Kantor Baru BMG Perwakilan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12, Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina mengunjungi kantor redaksi blokBojonegoro.com (Blok Media Group/BMG), di BMG CoWorking Space, Jalan Semanding-Sambiroto, Desa Sambiroto, Kecamatan...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat