Kesalahan yang Sering Dilakukan Makmum Ketika Salat Jamaah
Ilustrasi salat jamaah

Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*

blokBojonegoro.com - Saat salat jamaah, ada syarat-syarat yang wajib penuhi oleh makmum. Diantaranya makmum wajib niat menjadi makmum, atau niat jamaah mengikuti imam. Makmum wajib mengikuti  imam di setiap gerakan dan makmum tidak boleh mendahului imam.

Selain itu, makmum juga dianjurkan menjalankan beberapa kesunahan, diantarnya merapikan dan menyempurnakan shaf (barisan) agar mendapatkan keutamaan jamaah. 

Hal ini didasarkan pada perintah Nabi Muhammad SAW yang terkandung dalam banyak hadits. Diantaranya, Nabi SAW bersabda:

ألا تصفّون كما تصفّ الملائكة عند ربّها؟ قالوا يا رسول الله: وكيف تصفّ الملائكة عند ربّها؟ فقال عليه الصّلاة والسّلام: يتمّون الصّفوف الأول ويتراصّون الصّفّ

“Mengapa kalian tidak berbaris sebagaimana malaikat berbaris di sisi Robbnya?” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana malaikat berbaris di sisi Robbnya?” Beliau bersabda, “Mereka menyempurnakan barisan awal dan menempelkan diri dalam barisan.” (HR. Muslim 651)

Ketidaktahuan seorang makmum atau keengganannya dalam menjalankan aturan saat berbaris dalam salat jamaah, tidak sampai membatalkan salat, hanya dihukumi makruh, yang bisa menghilangkan keutamaan jamaah, sangat di sayangkan.

Fenomena di masyarakat, sering terjadi beberapa kesalahan saat berjamaah di masjid ataupun musala. Paling tidak ada empat kesalahan makmum yang sering dilakukan terkait masalah shaf.

Pertama, makmum tidak mau meratakan shaf atau barisan. Padahal salat di belakang shaf yang belum penuh dan dapat menghilangkan keutamaan jamaah. Mestinya shaf yang masih kosong dipenuhi dulu, sampai penuh, baru membuat shaf berikutnya. Shaf terbilang rata, jika antara lengan makmum saling dempet satu sama lain, berikut juga antara mata kaki makmum.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

من وصل صفا وصله الله ، ومن قطع صفا قطعه الله

Barang siapa menyambung shaf jamaah maka Allah akan menyambungnya (dengan memberi anugrah), dan barang siapa yang mengutus shaf, maka Allah akan memutus anugrahNYA.

Kedua, makmum sendirian dalam shaf, berpisah dari barisan.

Ketiga, jarak antar imam dan shaf, atau shaf satu dengan yang lain, lebih dari 3 dzirak --kurang lebih 1,35 m.

Keempat, posisi makmum tidak di sebelah kanan, agak ke belakang, dekat dengan imam, ketika salat jamaah hanya berdua dengan imam. Misalnya makmum sejajar dengan imam, atau berada di belakang, atau samping kiri imam.

Dalam kitab Fathul Mu'in (cetakan darul Fikri, juz 2, hal 30-31) dijelaskan:

وكره لمأموم انفراد عن الصف الذي من جنسه إن وجد فيه سعة بل يدخله.
وشروع في صف قبل إتمام ما قبله من الصف ووقوف الذكر الفرد عن يساره ووراءه ومحاذيا له ومتأخرا كثيرا وكل هذه تفوت فضيلة الجماعة كما صرحوا به.

Artinya: Makruh bagi makmum menyendiri di luar barisan yang tunggal jenisnya, jika ternyata baris tersebut masih ada lowongan, akan tetapi (yang sunah), adalah memasuki tempat itu.

Makruh memasuki barisan di mana barisan depannya belum penuh. Begitu juga makruh bagi laki-laki yang sendirian berdiri di sebelah kiri atau belakang imam, bersejajar atau ke belakang jauh. 

Semua kemakruhan di atas dapat menghilangkan fadhilah berjamaah, sebagaimana yang dijelaskan oleh banyak ahli fiqih. [mad]

*Rubrik Tanya Jawab Fiqih dan Religi diproduksi oleh LBM PCNU BOJONEGORO
* Kiai Ahmadi Ilyas adalah Dewan Perumus LBM PCNU BOJONEGORO