Kasus Perceraian di Bojonegoro Tembus 2.774 Perkara, Usia Nikah Rerata Dibawah 5 Tahun

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com — Angka perceraian di Kabupaten Bojonegoro sepanjang tahun 2025 masih tergolong tinggi. Sebanyak 2.774 pasangan suami istri (Pasutri) kandas. Jumlah tersebut terdiri dari 2.086 cerai gugat dan 688 cerai talak.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro, sebaran usia, mayoritas perkara perceraian terjadi pada pasangan berusia 21 hingga 30 tahun sebanyak 1.056 perkara, disusul usia 31 hingga 40 tahun sebanyak 894 perkara. Sedangkan dari sisi lama pernikahan, perceraian paling banyak terjadi pada usia pernikahan di bawah lima tahun, yakni 861 perkara.

Panitera Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Bojonegoro, Solikin Jamik mengungkapkan, pada tahun 2025 ini, cerai gugat masih menjadi perkara perceraian yang paling mendominasi dibanding cerai talak.

“Mayoritas perkara perceraian di Bojonegoro masih didominasi cerai gugat atau gugatan dari pihak istri. Kondisi ini relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Solikin, Rabu (31/12/2025).

Meski secara jumlah mengalami penurunan dibanding tahun 2024 yang mencapai 2.813 perkara, Solikin menilai angka perceraian tahun 2025 tetap memerlukan perhatian serius karena menyentuh ribuan pasangan dalam satu tahun.

Dari sisi penyebab, lanjut Solikin, faktor ekonomi masih menjadi pemicu utama perceraian dengan jumlah 1.145 perkara, disusul perselisihan dan pertengkaran terus-menerus sebanyak 1.086 perkara. Selain itu, faktor judi juga menunjukkan tren peningkatan signifikan, dengan jumlah mencapai 198 perkara.

“Masalah ekonomi dan konflik rumah tangga yang berkepanjangan masih menjadi alasan utama pasangan mengajukan perceraian. Sementara faktor judi juga terus meningkat dan berdampak langsung pada keharmonisan keluarga,” jelas Solikin.

Solikin berharap, tingginya angka perceraian ini menjadi perhatian bersama, baik pemerintah daerah, tokoh masyarakat, maupun lembaga terkait, untuk memperkuat edukasi pranikah dan ketahanan keluarga di tengah tekanan ekonomi dan sosial yang semakin kompleks. [riz/mad]